Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #26

Tumbal Tenung

 Tumbal Tenung

Serupa Tuhan ia menaungi, menghidupkan, dan memberi apa yang tidak bisa diberi semesta. Tapi ia bukan Tuhan: seluruh tubuhnya tampak tua, kecuali sepasang matanya yang warnanya bagai laut serta cerah dan tak kenal menyerah. Rambutnya memutih keperakan—yang dibiarkan menjuntai hingga ke bahunya. 

Meski ia masih memiliki mata yang bercahaya dengan kilatnya yang menyambar-nyambar, bagaimanapun tubuhnya telah renta. Ia dahulu adalah penujum sakti dan kini ia dilupakan.

Dulu, ada seorang pemuda mendatanginya ketika semesta melarut dalam kepekatan malam dan mengatakan ia ingin mengejar esok tanpa keluarganya yang ingin menumbalkannya kepada rembulan. Ia tidak menceritakannya dengan detail, sebab lelaki tua itu sudah 

mengetahuinya lewat kedua bola matanya. Lelaki itu menyanggupi seluruh permintaan si lelaki, meski disertai larangan yang tidak boleh dilanggar. Sekali langgar, nyawalah taruhannya. 

Semula, lelaki itu mengira permintaan penumbalan itu semacam bual lelucon yang tidak menghIbur sama sekali. Ia lantas mengabaikannya. Namun, satu persatu keluarganya mati dan tinggallah keluarga intinya: Ibunya, saudara perempuannya, dan seorang penjaga kebun. 

Ketika Ibunya memintanya untuk menurut, ia malah minggat dan menemui si lelaki tua lantas memohon sebuah tilik nasib.

Lelaki tua itu memberinya sebuah kemeja bergambar burung garuda di dadanya dan menyuruhnya berangkat ke pulau seberang. Katanya, “Akan kau temukan hidupmu dan akan kau miliki seorang penerus margamu, tetapi ingatlah ini: kau boleh menujum apa saja. Apa saja, kecuali seorang perempuan! Sebab jiwa peremuan adalah jiwa yang merdeka, dan itu akan menyakiti keturunanmu saja.”

Lihat selengkapnya