Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #27

Sebab Upah Dosa Adalah Maut

Sebab Upah Dosa Adalah Maut

Nujum masih saja bersengkarut menghantui Ibu, meski ia selalu menafikannya: Ia malu mengaku sebagai pendosa yang tak ubahnya seperti perempuan bermata sayu yang lusuh dan berbau apak, seperti si lelaki penyembah rembulan, seperti kakek tua yang malam itu menemui Nauli.

“Mengapa kau datang ke rumah ini? Pergilah,” katanya kepada lelaki itu.

“Kau tidak rindu?”

“Aku? Ha-ha-ha. Heh! Aku sudah menebus pengorbananmu lebih dari sekadar yang seharusnya kulakukan, meski itu menjijikkan.” Nauli lantas menatap lelaki tua itu. “Kau jangan berharap lebih. Segera pergi dari sini. Bukankah Panggora tidak pernah menganggapku Ibunya? Padahal, aku sudah membayarmu di muka dan menjadi serupa anjing. Itu terlalu besar untuk nujummu yang tidak berguna.”

Lelaki tua itu tersenyum. Lantas berjalan menuju pintu rumah itu, lalu membelakangi untuk kemudian berjalan menjauhi perempuan itu. Tanpa membalikkan badannya yang terbungkuk, katanya, “Setelah kau membalaskan dendammu, kau lupa kita akan tetap terikat. Akan kukirimkan hadiah sempurna untukmu.” Ia lantas berjalan tanpa menoleh. 

“Enyah kau!” teriak Nauli mendapati kata-kata lelaki itu serupa ancaman. Dadanya bergemuruh hebat. Teriakan burung elang entah di petang itu menjadi lebih nyaring dan tak seirama dengan sedunya senja. Teriakan itu membuat langit seolah murka dan menantikan mangsa menjelang malam.

“Nujummu tidak mampu mengubah apa-apa!” Nauli terlihat murka. Ia lantas meraih sebuah kayu seukuran tangannya yang terletak di dekatnya, mengayunnya, dan ia berdiri dan berjalan cepat ke arah lelaki yang tengah berjalan pelan hendak membuka pintu rumah itu. Namun, tanpa di sangka-sangka, si lelaki penyembah rembulan muncul dari pintu belakang rumah Nauli, lantas menangkap, dan akhirnya merampas kayu itu. 

“Mengapa kau keluar?” hardik Nauli kesal mendapati suaminya membela lelaki sepuh itu. Namun, lelaki itu tak mengubris. Malah menatapnya dengan sorot mata murka, bergantian dengan si lelaki sepuh.

“Jadi kau tidur dengannya?” bentak suaminya. Senja kian membara. Kedua bola mata lelaki itu menyala penuh.

“Kau cemburu?” tanya Nauli seolah pertanyan yang bertemu pertanyaan itu akan saling menyatu dan membentuk jawaban yang selama ini mereka cari. Entah ke mana. “Ha-ha-ha. Apa kau begitu suci sehingga binatang itu menghadirkan Panggora di antara kita dan membuat semuanya sekarang harus dipertanggungjawabkan?” sambung Nauli. 

Lihat selengkapnya