Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #28

Cermin retak

Cermin Retak

Ibu sering berkata ingatan serupa serangga malam yang suka melompati kenangan, menggigit bagian-bagian paling nyeri, lalu terbang meninggalkan benjolan gatal yang tak bisa disembuhkan dengan minyak kayu putih mana pun. Malam ini, di tepi Sungai Bah Bolon yang bergemuruh pelan menyerupai rintihan lembu disembelih, aku merasakan seluruh serangga itu bersarang di tempurung kepalaku. Sungai Bah Bolon tidak pernah benar-benar tidur. Airnya keruh cokelat, membawa bangkai ranting, plastik bekas deterjen, dan entah mengapa, riak airnya selalu seperti membisikkan nama ayahku—lelaki yang sampai hari ini kupikir adalah hantu berbau tuak dengan kemeja batik garuda. Di sampingku, Biru Samudra berdiri tenang. Angin sungai menerbangkan rambut hitamnya yang tebal. Ia tak mengenakan sandal, jemari kakinya mencengkeram tanah liat yang basah.

"Kau mendengar suara alu penumbuk padi itu lagi, Gora?" tanya Biru pelan, mata lautnya menembus kegelapan seberang sungai.

"Tidak ada alu, Biru. Aku meraba dadaku. Di sana, di balik rusukku yang kurus, ada ketakutan aneh yang tak sanggup kujelaskan."Alu itu ditumbuk oleh Nauli," kata Biru tanpa menoleh. "Ia tidak pernah benar-benar mati. Orang-orang yang menyimpan dendam sebesar gunung tidak pernah mati sebelum dendam itu menemukan tubuh lelakinya. Nauli sedang menumbuk beras ketan untuk perayaan kematian ayahmu, tetapi ayahmu belum mati. Dia hanya membusuk dari dalam sembari terus merayakan dosa."

***

Lihat selengkapnya