Pulang: Nyanyian Hariara
Lelaki penyembah rembulan itu tidak lagi tampak seperti arjuna
Ketika aku dan Biru menemukannya di bawah pohon Hariara yang keramat—pohon tempat warga desa dulu meletakkan sesajen kepala kambing—ia sedang telungkup di atas tumpukan daun busuk. Kemeja batik bergambar burung garuda di dadanya sudah robek di bagian lengan, berlepotan lumpur cokelat kekuningan yang mengering. Kopiah hitamnya terlempar dua meter di dekat kotoran anjing. Aku mendekatinya. Dengan ujung kakiku, kugoyang bahunya. Ia merintih, suara dari tenggorokannya seperti seng sengklek yang digesekkan ke semen.
"Billem ...." panggilku pelan. "Atau harus kupanggil kau Pak Kades? Atau Ayah?"
Lelaki itu membalikkan tubuhnya dengan payah. Matanya yang dulu kata orang mampu memikat setiap perawan desa kini serupa ceruk cekung, serupa dua lubang kuburan yang digali terburu-buru. Bibirnya yang hitam pecah-pecah menguarkan bau tuak basi bercampur muntahan asam lambung.
"Gora ...." desisnya. Tangan kanannya yang gemetar terangkat, berusaha menggapai celanaku. "Kau ... anakku? Anak bidadari itu?"
"Jangan sebut ibuku bidadari," potongku dingin. "Ibu hanyalah perempuan malang yang kau bodohi dengan cerita surga dan rembulan sialanmu itu."
Lelaki itu terkekeh, lalu terbatuk-batuk hebat hingga dadanya naik turun dengan kasar. "Surga ... ha-ha-ha! Siapa yang tahu soal surga, Gora? Aku hanya lelaki miskin yang takut kegelapan. Dulu, ketika aku duduk di atas perahu di pesisir, aku melihat rembulan terpantul di air. Begitu indah ... begitu dingin. Kupikir, jika aku bisa membuat perempuan-perempuan percaya bahwa aku memegang kunci bulan, mereka tidak akan melihat betapa menjijikkannya jiwaku."
Biru menyilangkan tangannya di dada, menatap Billem dengan pandangan jijik yang murni. "Kau memakan hidup banyak perempuan, Billem. Nauli kau buat gila sampai mati, ibunya Rara kau jadikan tumbal, dan ibu Gora kau biarkan memikul rasa bersalah selama tiga puluh tahun."
"Aku tidak membiarkannya!" teriak Billem tiba-tiba. Suaranya melengking pecah, mengejutkan burung-burung malam di dahan Hariari. "Aku mencintainya! Demi Tuhan... demi bulan yang kuagungkan, dialah satu-satunya perempuan yang pernah melihatku tanpa kemeja garuda ini! Dialah yang tahu bahwa aku hanya anak nelayan kelaparan yang menangis setiap kali angin barat bertiup!
Air mata meluncur dari sudut matanya yang keriput, membelah kerak lumpur di pipinya. Ia merangkak mendekati kakiku, memegang lipatan celanaku dengan jemarinya yang kurus bagai cakar ayam.
"Bawa aku kepadanya, Gora ... bawa aku pada ibumu. Sebelum malam ini habis ... sebelum nujum Nauli menjemput nyawaku. Aku ingin mati di ambang pintunya."
Aku menatap lelaki renta yang kini menghancurkan egonya, entah demi aku atau ibu atau bahkan hanya demi dirinya sendiri. Namun, aku menyadari tidak ada dendam yang meledak seperti pahlawan dalam cerita sinetron. Yang ada hanyalah rasa hampa yang amat sangat. Absurditas kehidupan ini seperti komedi murah yang ditulis oleh pengarang mabuk di warung tuak. Lelaki yang dipuja dan dikutuk oleh seluruh desa ini sekarang tidak lebih dari gundukan daging berbau busuk yang menangis meratapi kebodohannya sendiri.
"Bangun," kataku singkat. Kuraih ketiaknya, membantunya berdiri. Billem terlalu ringan—seperti kerangka kayu kering yang siap patah kapan saja.