Pulang
Rumah bukan selalu bangunan beratap seng atau rumbia dengan dinding papan yang kokoh. Kadang, rumah hanyalah sebuah titik di mana dua orang berhenti saling melukai dan memutuskan untuk menerima kehancuran masing-masing.
Ibu menatap dahi Billem yang menempel di kakinya. Lautan rasa bersalah yang selama puluhan tahun menggenang di kedua bola mata Ibu—yang selalu membuatku mabuk dan tertekan—perlahan-lahan tampak menyurut. Garis-garis keras di wajah Ibu melunak. Tangannya yang memegang kain tenun terulur pelan, mengusap kepala Billem yang beruban dan kotor oleh tanah Bah Bolon. "Bangunlah, Billem," kata Ibu lirih. "Kita berdua sudah terlalu tua untuk berpura-pura menjadi korban. Kau dosa bagiku, dan aku dosa bagimu. Tapi Gora ... Gora adalah kebaikan yang dikirim Tuhan dari balik kebodohan kita."
Billem mendongak, matanya yang basah menatap wajah Ibu. Ada cahaya aneh yang terpancar dari senyum tipis Ibu—senyum pertama yang kulihat sejak aku kembali dari London dan Boston. Senyum seorang perempuan yang akhirnya berhasil membunuh nujum dan kutukan di dalam dadanya sendiri.
"Apakah ... apakah kau mau memaafkanku, Murni?" tanya Billem ragu.
"Pengampunan bukan milikku," jawab Ibu pelan sambil membimbing Billem berdiri dengan kedua tangannya yang kurus, tetapi kuat. "Tapi aku tidak ingin lagi menyimpan dendam. Dendam membuat rumah ini terlalu sempit untuk kita bernapas."