
Jika seseorang menanyakan namamu, apa yang akan kamu lakukan?
Apa kamu akan langsung menjawabnya, atau justru berpikir sejenak, mencoba mengigat siapa dirimu sebenarnya?

Namaku Hayan Putra Handoko. Tentu tidak akan sulit menyebut nama sendiri, terlalu mudah, malah.
Cuma...
Nama akhiran-ku terlalu khas dengan nama orang berduit yang hidup di rumah ber-AC lantai tujuh dengan jendela besar menghadap kota . Padahal tidak seperti itu adanya.
Handoko
Terdengar begitu berwibawa, untuk seseorang yang lahir dari keluarga anak Petani yang entah bagaimana bisa berakhir menjadi sarjana.
Iya, seorang sarjana di bidang sastra.
Gelar yang terdengar tinggi tapi tidak benar-benar membawaku kemana-mana.
Gampangnya sih...
Aku seorang Pengacara, A.K.A... Pengangguran banyak acara.
Titel yang sudah ku sandang selama dua tahun setelah wisuda penuh kenangan yang dihadiri keluarga besar dan satu RT ikut meramaikan.
Sebagai seorang pengacara yang kantornya di rumah. Aku diberikan posisi sebagai
kacung.
"Hayan! Bangun, nak! Udah jam berapa ini... Siap-siap jemput Kak Marlin ke terminal!" Suara Ibu menggema dari dapur. Teriakan itu berhasil menyadarkan diriku yang terdiam menatap langit-langit kamarku.
"HAYAAAN!"
Tidak perlu teriak sebenarnya, tapi entah kenapa ibu selalu merasa suaranya harus sampai ke ujung gang.
Pun kalau panggilannya telat dijawab pasti terdengar lagi bahkan lebih keras dan biasanya disertai nada yang naik satu tingkat. Kalau tidak dijawab lagi... siap-siap saja dapat hadiah sutil melayang.
"Hayan!"
"Iya~ Ibuku sayang, cintaku padamu." Kataku lembut namun manja.
Aku menarik napas panjang sebelum bangkit dari kasur. dengan langkah gontai, rambut kusut yang sudah tiga hari tak pernah ku cuci... percayalah penampilan ku tak ada bedanya dengan seorang gembel.
"Pagi Bang!" suara itu langsung menyambut ku begitu keluar dari kamar.
Nakula.
SI bungsu keluarga Handoko, anak emasnya Ibundaku Hasna.

Nakula Putra Handoko dengan kelakuan paling ajaib yang pernah Tuhan ciptakan dalam keluarga.
Kelakuannya benar-benar membuat satu kelurga pusing, terutama... Aku. Bagaimana tidak? Bahkan anak itu satu waktu pernah berikrar secara terbuka di hadapan kami semua dengan percaya diri mengatakan.
'Bang Hayan kan nggak ada beban pikiran, udah lulus kuliah, nggak kerja juga, Jadi daripada pikiran Abang kosong, baik diisi sama Nakula aja. Lumayan kan... kalau mikirin Nakula otaknya nggak berdebu.'
Sejak saat itu aku resmi menjadi korban tetap nya
Dasar bocah edan!
Dia duduk di sofa sambil menyetel gitar kesayangannya. Nakula itu sangat suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Seni, mungkin itu yang memotivasinya untuk mengambil jurusan Seni Rupa.
"Bang, Nanti sore antar Nakula ke Kampus ya. Nakula ada latihan bareng sama teman-teman teater."
Aku hanya mengangguk sambil melambai ke arahnya, terus berjalan menuju dapur. menghampiri sumber suara yang membangunkan satu komplek. Sementara Nakula terlihat puas lantas kembali menyetel gitarnya.
Setibanya di dapur pemandangan hangat segera menyambut ku. Ada Ibunda ratu yang berdiri di depan kompor sambil memegang sutil bak mandor yang mengawasi para pekerjanya.
Ada Bapak dan dua saudaraku: Mas Raya Si anak kedua yang sifatnya seratus persen turunan yang mulia ratu—Badan cimit, suara bazoka. Super Galak, bahkan lebih galak dibandingkan Ibu. Bahkan Bang Marlin saja takut sama Mas Ray.