PANTI (Resting Place of the Ancestor Spirits)

Awang Haripin
Chapter #2

"Kabut Kedua di Tana Paser"

Fajar memang menyelamatkan Yuda dan teman-temannya dari malam itu.

Namun fajar tidak pernah benar-benar menghapus apa yang telah melihat mereka.

Tiga malam setelah kejadian di Panti, Ardi mulai bermimpi. Dalam tidurnya, ia kembali berdiri di atas lantai kayu yang lembap. Ia bisa merasakan papan-papan itu bernapas pelan di bawah kakinya. Dari celah-celahnya terdengar suara menggeram, bukan lagi berbisik.

“Kami belum selesai…”

Ardi terbangun dengan jeritan tertahan. Kakinya terasa panas luar biasa. Saat lampu dinyalakan, bekas hitam berbentuk jari di pergelangannya kini merambat naik seperti akar membusuk di bawah kulit. Garis-garis gelap itu bergerak pelan, seolah hidup.

Di tempat lain, Ridho mulai mendengar suara langkah mengikuti setiap kali ia pulang malam. Rosandi melihat sosok berdiri di antara pohon karet di belakang rumahnya—tinggi, kurus, diam tak bergerak hingga ia berkedip, lalu menghilang. Alfian tak bisa bercermin tanpa melihat bayangan lain berdiri tepat di belakangnya.

Dan Yuda… Yuda mulai mencium bau tanah kubur di mana pun ia berada.

Mereka berkumpul kembali, wajah pucat, mata cekung kurang tidur. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi kesombongan.

“Kita belum dilepas,” bisik Ardi dengan suara gemetar.

Malam itu kabut turun lebih cepat dari biasanya di pedalaman Paser. Pepohonan seperti membungkuk, ranting-rantingnya berderak tanpa angin. Dan dari kejauhan, bangunan Panti terlihat lebih gelap dari sekitarnya—seolah menyerap cahaya bulan.

Tanpa mereka sadari, sesuatu sedang bangkit.

Di dalam Panti, lantai kayu retak perlahan. Dari bawahnya, cairan hitam pekat merembes naik. Bayangan-bayangan yang dulu dibasmi kini berkumpul kembali, tetapi kali ini lebih padat… lebih marah. Di tengah ruangan berdiri sosok tinggi tanpa mata itu, tubuhnya kini retak dan menganga, memperlihatkan rongga penuh tangan-tangan kecil yang meronta.

“Kembalikan yang diambil…” suaranya bergema seperti gemuruh tanah longsor.

Ardi tiba-tiba kejang di rumahnya. Matanya memutih. Dari mulutnya keluar suara yang bukan miliknya.

“Penjaga… kau mencuri milik kami…”

Udara kamar membeku. Lampu pecah tanpa disentuh. Di sudut ruangan, bayangan menebal membentuk pintu gelap yang berdenyut seperti jantung.

Dan dari kegelapan itu, sosok muncul.

Bukan Awang.

Melainkan sesuatu yang lebih tua.

Lihat selengkapnya