Kabut turun lebih awal malam itu. Lebih tebal. Lebih berat. Seolah bukan lagi uap air, melainkan napas makhluk purba yang mengendap di bawah tanah Paser. Ia tidak bergerak seperti kabut biasa yang perlahan menyapu halaman dan menghilang ketika fajar tiba. Kabut itu menggantung, berputar pelan, seakan hidup dan mengamati setiap sudut desa yang terdiam. Pohon-pohon di kejauhan hanya tampak sebagai bayangan samar. Lampu-lampu rumah memantulkan cahaya kekuningan yang teredam, membuat suasana terasa semakin mencekam.
Yuda berdiri di teras rumahnya, mencium bau tanah basah yang kini bercampur anyir seperti darah lama. Bau itu menusuk hidungnya, membuat perutnya terasa mual. Dadanya sesak tanpa sebab. Sejak malam pertarungan itu, ia merasa sesuatu menempel di belakang punggungnya tak terlihat, tapi selalu ada. Kadang seperti bayangan yang mengikuti, kadang seperti tangan dingin yang nyaris menyentuh tengkuknya. Setiap kali ia menoleh cepat, tak ada apa-apa di sana. Hanya kabut dan kegelapan.
Ia mencoba mengatur napas, meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya perasaan. Namun suara lirih di dalam kepalanya tak berhenti berbisik. Bukan kata-kata jelas, hanya gumaman samar yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Di rumah Ardi, keadaan memburuk.
Tanda hitam yang sempat memudar kini muncul kembali. Bukan hanya di kakinya. Garis-garis gelap itu menjalar ke lehernya, membentuk pola seperti akar pohon mati yang membelit tulang. Kulit di sekitarnya tampak pucat, kontras dengan warna hitam pekat yang berdenyut pelan, seakan memiliki nadi sendiri. Ardi mulai berbicara sendiri. Kadang tertawa pelan tanpa sebab. Kadang berbisik dengan suara serak yang bukan miliknya. Tatapannya kosong, sering terpaku pada sudut ruangan yang tak dilihat orang lain.
Ibunya sempat mencoba memanggil namanya, mengguncang bahunya dengan cemas. Namun Ardi hanya menoleh perlahan dengan senyum tipis yang terasa asing. Senyum itu bukan miliknya. Seolah ada sesuatu di balik matanya yang mengintip keluar.
………………………………………“Kami lapar…”…………………………………………..
Bisikan itu terdengar semakin jelas. Bukan hanya bagi Ardi, tapi juga bagi yang lain. Ridho terbangun di kamarnya dengan keringat dingin, yakin ia mendengar suara yang sama di telinganya. Rosandi memeluk lututnya di sudut kamar, merasa dinding rumahnya berdenyut pelan seperti jantung raksasa. Bahkan Alfian yang biasanya paling keras kepala mulai merasakan ketakutan yang tak bisa dijelaskan.
Ridho dan Rosandi memutuskan untuk berkumpul di rumah Alfian malam itu. Mereka tak ingin sendirian lagi. Ketakutan terasa lebih ringan jika dibagi bersama, pikir mereka. Yuda pun datang, wajahnya tegang. Mereka duduk melingkar di ruang tamu, mencoba berbicara tentang hal-hal biasa, mencoba tertawa, meski suara mereka terdengar dipaksakan.
Namun justru di situlah semuanya pecah.
Tepat pukul dua dini hari, Ardi tiba-tiba berdiri kaku di tengah ruang tamu. Ia sebelumnya duduk diam, kepala tertunduk. Tak ada yang menyadari kapan ia bangkit. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri. Matanya terbuka lebar hingga bagian putihnya terlihat seluruhnya. Tubuhnya bergetar hebat, seperti tersengat arus listrik tak kasatmata.
“Ardi, sadar!” Yuda mengguncangnya.
Akan tetapi sudah Terlambat !!!!!!!
Tubuh Ardi melengkung ke belakang dengan bunyi retakan tulang yang mengerikan. Suara itu membuat bulu kuduk mereka berdiri. Mulutnya terbuka terlalu lebar, lebih lebar dari yang seharusnya bisa dilakukan manusia, dan dari dalamnya keluar suara banyak orang sekaligus—berlapis-lapis, tua, muda, laki-laki, perempuan. Suara-suara itu saling bertumpuk, saling tindih, menciptakan gema yang memekakkan telinga.
……………………“Kalian membuka gerbangnya… kalian mengambil milik kami…”…………
Lampu padam. Ruangan menjadi hitam pekat.!!!!!!!!!!
Kegelapan itu total. Tak ada cahaya dari luar. Bahkan bayangan pun seolah lenyap. Namun di sudut-sudut dinding, sesuatu mulai bergerak. Bayangan mulai menetes seperti tinta cair. Tetes demi tetes jatuh dari dinding, lalu merayap di lantai sebelum perlahan membentuk sosok tinggi kurus tanpa wajah. Satu per satu. Puluhan. Mengelilingi mereka.
Alfian berteriak histeris. Ridho tersandung meja, jatuh dengan suara keras. Rosandi gemetar tak mampu bergerak, matanya terpaku pada sosok-sosok yang semakin mendekat.
Ardi melayang beberapa sentimeter dari lantai.
Tubuhnya menggantung di udara, berputar perlahan. Rambutnya tergerai ke bawah, wajahnya menengadah dengan ekspresi kosong. Tiba-tiba ia menjerit-jeritan panjang yang membuat kaca jendela retak. Suara itu begitu tajam hingga terasa menusuk tulang.
Dari punggungnya, bayangan hitam menyembur seperti asap tebal. Tapi itu bukan satu roh. Itu banyak. Terlalu banyak. Mereka berebut keluar, saling mencakar, seakan tubuh Ardi adalah pintu sempit menuju dunia ini. Bayangan-bayangan itu menjerit, melolong, menciptakan suara yang membuat kepala terasa hendak pecah.
Yuda mundur, ketakutan.
“Ini salahmu!” teriak Ridho pada Rosandi. “Kau yang pertama kali masuk ruang bawah Panti!”
“Tidak! Yuda yang mengambil kalung tua itu!” Rosandi membalas dengan suara pecah.
Semua tuduhan mengarah satu sama lain. Ketakutan berubah menjadi amarah. Amarah berubah menjadi kebencian. Kata-kata kasar meluncur tanpa kendali.
Dan saat kebencian itu memuncak, suara dari tubuh Ardi tertawa keras.
“Bagus… pecah… terbelah… lebih mudah bagi kami…”
Tawa itu menggema di seluruh ruangan, membuat dinding bergetar. Tiba-tiba Ardi menghantam lantai dengan kekuatan tak manusiawi. Tangannya mencengkeram leher Ridho dan mengangkatnya hanya dengan satu tangan. Kekuatan itu bukan miliknya. Ridho meronta, wajahnya memerah, kakinya menendang udara kosong.