Awal 2011 selalu terasa seperti masa ketika anak-anak SMA belum benar-benar tahu harus menjadi siapa.
Seragam masih sering kusut ketika berangkat sekolah. Sepatu kadang belum sempat dibersihkan. Di dalam kelas, buku pelajaran bisa saja terbuka, tetapi pembicaraannya justru tentang pertandingan sepak bola, film, atau siapa yang sedang menyukai siapa.
Di sekolah swasta itu, Irfan sedang menjalani salah satu masa paling ramai dalam hidupnya.
Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Ia bukan siswa paling pintar di kelas, bukan pula yang paling berani. Tetapi seperti kebanyakan anak seusianya, ia punya satu hal yang sering membuat pikirannya berjalan ke mana-mana. Sinta.
Nama itu cukup disebut sekali, dan beberapa kepala di kelas mereka biasanya akan ikut menoleh.
Sinta punya senyum yang gampang membuat suasana berubah. Ia ceria, cukup pintar, dan hampir selalu punya waktu ketika ada teman yang membutuhkan bantuan. Karena itu, tidak mengherankan kalau beberapa anak laki-laki diam-diam berusaha mencari perhatian darinya.
Irfan termasuk di dalamnya. Begitu juga Bimo dan Rudi.
Ketiganya tidak pernah benar-benar mengakui persaingan itu. Tetapi setiap kali Sinta lewat, mereka bisa tiba-tiba duduk lebih tegak, membetulkan rambut, atau mencari alasan untuk ikut dalam percakapan.
Siang itu, saat jam istirahat, Irfan sedang menghabiskan semangkuk cilok di kantin ketika ia melihat Bimo dan Rudi duduk di pojokan. Keduanya memegang pulpen.
Entah mengapa, pulpen itu diperlakukan seperti benda penting.
Bimo berbisik kepada Rudi. Rudi membalas dengan bisikan yang lebih pelan. Setelah itu keduanya tertawa seperti baru menemukan sesuatu yang luar biasa.
Irfan menghentikan kunyahannya.
“Heh, kalian lagi ngomongin apaan, sih?”
Bimo menoleh. Senyumnya terlalu lebar untuk seseorang yang tidak sedang merencanakan sesuatu.
“Kita lagi mau coba trik baru buat menarik perhatian Sinta.”
Irfan meletakkan tusuk cilok di pinggir mangkuk.
“Trik apa?”
Bimo mendekat sedikit.
“Kamu mau ikut enggak?”
Irfan memandang Rudi. Anak itu sudah tersenyum sambil mengeluarkan pulpen dari saku bajunya.
“Gini,” kata Rudi. “Kita masukin pulpen ke hidung, terus ditiup keluar.”
Irfan hampir tersedak.
“Apa?”
“Kalau berhasil,” lanjut Rudi dengan wajah sungguh-sungguh, “Sinta pasti tertarik.”
Beberapa detik Irfan hanya menatap kedua temannya.
“Trik apaan itu? Konyol banget.”
Bimo mengangkat bahu.
“Percaya, deh. Ini lagi ngetren.”
“Di mana?”
“Pokoknya ada.”
“Siapa yang berhasil?”
Bimo terdiam sebentar.
“Banyak.”
Irfan mendengus. Ia tahu jawaban itu tidak meyakinkan sama sekali.
Namun matanya kembali jatuh pada pulpen di tangan Rudi.
Ada bagian kecil dalam dirinya yang penasaran.
Dan mungkin, sedikit lebih besar dari rasa penasaran itu, ada keinginan untuk membuat Sinta memperhatikannya.