Para Pencari Cinta

Topan We
Chapter #2

Kacong Dan Ocehan Kakak

Kesendirian Hasan di dapur selalu buyar oleh riuh yang bocor dari sekat rumah. Selalu ada musik harian di sana, dentang logam perkakas yang beradu, derit pintu yang sesekali terbuka, dan gumam percakapan yang hanyut dari ruang tengah.

Siang itu, suara yang paling jelas adalah suara Uum.

“Kacong, kamu sampai kapan mau kaya gini terus?”

Lenting logat Sunda dari ruang tamu naik satu oktaf, menebal oleh emosi kakak tertuanya yang mulai meluap. Di sudut meja, Hasan mengunci tatapannya ke bawah. Dunia seolah menyempit hanya setinggi piringnya yang lowong separuh. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menyuap sisa lauk, mengunyahnya lumat-lumat seakan sedang menakar ketakutan sendiri.

“Kamu punya kemampuan,” lanjut Uum. “Tapi kenapa enggak mau cari kerja? Kamu pikir hidup bisa terus-terusan bergantung sama orang tua atau keluarga?”

Bungkam menjadi pilihan Hasan. Detik berikutnya, denting sendok yang membentur piring seolah memberi tanda jeda di tengah riuh ocehan Uum. Hasan tidak mendebat, sebab jauh di lubuk hatinya, ia paham ada luka atau alasan yang valid di balik setiap amarah yang dimuntahkan kakaknya.

Ada masa ketika Uum melipat seluruh lelah keluarga di balik punggungnya. Estafet tanggung jawab itu berpindah tanpa upacara saat langkah Ayah kian melambat ditelan tua. Dan kini, di dapur yang pengap ini, Hasan sadar bendungan di dada kakaknya telah penuh, bersiap jebol oleh luapan yang tak lagi tertampung.

“Dengar, Cong!”

Langkah kaki terdengar mendekat. Uum muncul di ambang ruang makan, kedua tangannya bertolak pinggang.

“Kamu kan bisa nyetir. Coba ikut siapa kek. Minta kerjaan sama yang lain.”

Ketika Hasan akhirnya mendongak, tatapannya telanjur kehilangan binar. Sepasang matanya hanya memantulkan keletihan seorang musafir yang tersesat di labirin lama, ia kenal setiap sudut omelan itu, tetapi tak pernah menemukan pintu untuk menyudahinya.

“Saya tahu, Teh. Tapi...”

“Gak ada tapi!”

Uum langsung memotong.

“Kamu enggak bisa terus-terusan begini. Harus bangkit. Harus ngelakuin sesuatu!”

Hasan kembali melihat piringnya. Nasi tinggal beberapa suap. Ia memasukkannya ke mulut tanpa selera. Tidak ada yang menjawab Uum. Hanya suara kunyahan Hasan yang terdengar pelan.

Begitu suapan terakhir tandas, Hasan mengumpulkan perkakas makannya. Namun, tepat ketika beban tubuhnya bertumpu pada lutut untuk berdiri, lantai kayu rumah berderit pelan, menyuarakan langkah-langkah mungil yang berlari tergesa dari arah dalam.

“Kak Kacong!”

Sani muncul dengan rambut yang sedikit berantakan. Ia berdiri di samping Hasan sambil mengulurkan tangan.

“Minta uang. Pengen jajan.”

Pandangan Hasan terkunci pada jemari mungil yang terbuka itu. Dengan kikuk, ia menyembunyikan tangannya ke dalam saku, meraba sudut-sudut kain tipis tersebut dengan harapan yang kian menipis. Kosong. Kulit tangannya menyisir saku yang lain, hanya untuk kembali merogoh dinding udara yang tak berisi itu.

“Gak ada,” katanya.

Sani tetap mengulurkan tangannya.

“Kakak lagi enggak punya uang sekarang.”

Wajah Sani langsung berubah. Bibirnya sedikit mengerucut. Uum yang masih berdiri tidak jauh dari sana menggeleng pelan.

“Tuh kan.”

Hasan tidak menoleh.

“Gampang kamu bisa ngasih adik-adik. Minimal uang yang kamu dapat bisa disimpen. Ditabung dulu.”

Hasan menggenggam piringnya sedikit lebih erat. Ia tidak membantah. Tidak juga menjawab. Dari pintu, tiba-tiba terdengar suara lain.

“Huh, si Kacong.”

Lihat selengkapnya