Para Pencari Cinta

Topan We
Chapter #3

Kecelakaan Tak Terduga

Matahari senja mulai tenggelam, menebarkan cahaya oranye keemasan di langit. Jalanan mulai sepi, hanya beberapa kendaraan yang masih lalu lalang. Iwan mengendarai motornya dengan hati-hati setelah seharian mengirim barang ke berbagai pelanggan. Kelelahan mulai terasa di tubuhnya, namun semangat untuk segera pulang membuatnya tetap fokus.

Satu detik jalanan sepi itu membentang datar, detik berikutnya sesosok pria paruh baya sudah memotong tajam di tikungan. Dunia mendadak melambat, tangan Iwan mencengkeram tuas, namun jarak sudah terlanjur ringkas sebelum rem sempat menggigit aspal.

Brak!

Suara logam dan tulang yang beradu menghantam kesunyian magrib dengan kejam. Seketika itu juga, gravitasi seolah lepas, tubuh Iwan terenggut dari kemudi, terlempar ke udara, lalu dihempaskan berulang kali ke atas aspal yang kasar.

"Sial!"

Sebuah rintihan tipis lolos dari bibir Iwan bersamaan dengan sengatan ngilu yang menjalar dari sendi hingga tulang rusuknya. Namun, ketakutan yang mendadak menyergap jauh lebih dingin dari rasa sakit itu, mengabaikan protes tubuhnya yang remuk, ia memaksakan kakinya tegak, menyeret langkah yang limbung dalam kepanikan yang memburu ke arah tubuh yang terbujur kaku di tepi jalan.

"Pak, Pak, enggak apa-apa?" tanya Iwan dengan wajah panik.

Pria paruh baya itu tidak menjawab, giginya mengatup rapat menahan ringkik perih yang menyiksa. Namun, sebuah anggukan lemah menjadi isyarat; Iwan menyodorkan kedua tangannya, membiarkan jemari tua yang gemetar itu mencengkeram pundaknya.

"Aduh, sakit sekali," keluh bapak itu sambil memegangi kakinya yang lecet dan berdarah. "Motor saya juga rusak parah. Kamu harus bertanggung jawab!"

Ada rasa pahit yang tertinggal di pangkal lidah Iwan ketika matanya menyapu serpihan kaca dan bodi motor yang berserakan. Kendaraan itu telah kehilangan bentuknya.

"Aduh, Pak, saya minta maaf. Saya benar-benar enggak sengaja," kata Iwan dengan nada penuh penyesalan.

Lihat selengkapnya