Lereng utara Rinjani, 19 Oktober 1980.
Sore itu, Lentari Kusuma menggendong bayi orang lain untuk pertama kalinya. Bayi itu milik keluarga Kelana, juragan kopi dan tembakau dari kota yang setiap musim panen datang ke dusun dan menginap di rumah panggung paling ujung. Rumah itu yang terbesar di seluruh lereng, berdinding papan jati yang dipelitur sampai mengilap, dengan beranda luas yang menghadap lembah dan jendela-jendela berkaca, satu-satunya rumah di dusun yang punya kaca. Baiq Ratih memanggil Lentari dari pinggir kebun ketika gadis itu sedang memikul keranjang berisi buah kopi yang baru dipetik. Bayinya rewel sejak siang, katanya, dan pengasuhnya pulang ke Bayan karena ibunya sakit. Bisakah Lentari menolong sebentar?
Lentari baru genap lima belas tahun dan belum pernah memegang apa pun yang lebih rapuh daripada telur ayam. Ia menerima bayi itu dengan kedua lengan kaku, seperti orang memeluk kendi yang berisi air penuh.
“Jangan takut,” kata Baiq Ratih sambil tertawa. Tawanya renyah, tawa perempuan kota yang tidak pernah kekurangan beras. “Dia tidak akan pecah.”
Bayi itu berumur sepuluh bulan. Pipinya bulat, rambutnya tipis dan lembap oleh keringat, dan matanya hitam dan tajam seperti mata elang yang sering melayang di atas punggung gunung. Ia berhenti menangis begitu berada di dalam gendongan Lentari, lalu menatap gadis itu dengan kesungguhan yang ganjil untuk ukuran makhluk sekecil itu, seolah sedang menimbang apakah gadis dusun berkulit gosong ini layak dipercaya. Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah gelang perak tipis yang berukir huruf-huruf kecil. Lentari tidak bisa membacanya. Ia hanya pernah bersekolah sampai kelas tiga.
“Lalu Rajata Surya Kelana,” kata Baiq Ratih, mengusap gelang itu dengan ujung jarinya. “Bapaknya yang memilih. Katanya supaya kelak dia jadi orang besar.”
Nama yang terlalu panjang untuk seorang bayi, pikir Lentari. Nama raja. Namun ia tidak mengatakannya. Ia hanya mengayun-ayunkan bayi itu pelan, seperti yang dulu dilakukan ibunya kepada adik bungsunya, sambil menyenandungkan lagu Sasak tentang burung yang pulang ke sarang sebelum hujan.
Ketika bayi itu akhirnya tertidur di bahunya, napasnya yang hangat dan basah menempel di leher Lentari. Ia berdiri diam di bawah pohon nangka di samping rumah panggung itu cukup lama, tidak berani bergerak, mendengarkan jangkrik yang mulai berbunyi dan seekor ayam jantan yang berkokok di jam yang salah. Dari dalam rumah tercium bau kopi yang sedang disangrai dan terdengar suara Mamiq Ardana yang tertawa bersama mandor kebun. Matahari tenggelam di balik bukit, mewarnai lembah dengan jingga yang pelan-pelan berubah ungu.
Lentari tidak tahu kenapa, tetapi sore itu terasa seperti sore yang kelak ingin ia ingat baik-baik.
Langit malam itu terlalu terang untuk disebut malam. Orang-orang dusun keluar dari rumah satu per satu, masih bersarung, sebagian menggendong anak yang setengah tertidur. Mereka mengira bulan terbit dua kali. Cahaya yang menggantung di atas punggung gunung itu memang bulat dan pucat seperti bulan, tetapi bergerak. Mula-mula perlahan, lalu tidak lagi.
Lentari berdiri paling belakang, di dekat lumbung padi milik keluarganya dengan pelita di tangan. Bapaknya berdiri di depan bersama lelaki-lelaki lain, menunjuk-nunjuk langit dan bertebak-tebakan dalam bahasa Sasak. Inaq memeluk Lintang, adik bungsunya yang baru lima tahun, yang bersorak setiap kali cahaya itu berkedip. Anak-anak lain ikut bersorak. Seseorang memukul kentongan, entah karena gembira entah karena takut.
Lentari tidak ikut bersorak. Ia memperhatikan sesuatu yang luput dari mata semua orang. Jangkrik berhenti berbunyi. Angin berhenti bertiup. Dan api pelita di tangannya berhenti bergoyang. Nyala itu membeku, tegak dan diam, seperti api di dalam lukisan.
Seolah-olah waktu sedang menahan napas.
Lalu ia melihat langit di sekeliling cahaya itu. Kelak, ketika ia mencoba menceritakannya, tidak ada yang percaya. Tidak ada orang lain di dusun itu yang melihatnya. Namun Lentari melihatnya dengan sangat jelas, sejelas ia melihat jari-jarinya sendiri. Di sekeliling cahaya pucat itu, langit robek. Seperti kain hitam yang disobek dengan kasar, tepinya bergerigi dan berpendar putih, dan dari dalam robekan itu sesuatu yang sangat besar sedang didorong keluar. Bukan jatuh. Didorong, seperti sesuatu yang dipaksa lahir dari tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Dan cahaya itu bukan hanya ada di atas punggung gunung. Ketika Lentari memutar kepalanya, ia melihat langit di selatan, di atas arah kota, juga berpendar. Langit di timur, di atas laut menuju Sumbawa, juga berpendar. Seluruh cakrawala, dari ujung ke ujung, menyala samar seperti bara di bawah abu, seolah seluruh dunia sedang menahan napas bersama-sama.
Lalu ia melihat dua sosok itu. Mereka berdiri di atas batu besar di punggung bukit, jauh di atas dusun, di tempat yang biasanya hanya didatangi pencari kayu. Seorang lelaki dan seorang perempuan. Lentari tidak bisa melihat wajah mereka. Ia hanya bisa melihat cahaya mereka. Rambut perempuan itu panjang dan berkibar, dan di sekeliling tubuhnya berpendar cahaya putih yang dingin. Lelaki di sampingnya mengangkat kedua tangan ke langit, dan tangannya menyala, tetapi cahaya itu tidak berwarna. Bening, seperti kaca yang ditimpa matahari, seperti air yang jernih sekali sampai hanya terlihat dari kilaunya.
Lelaki itu mendorong. Lentari tidak tahu bagaimana ia tahu, tetapi ia tahu. Lelaki itu mendorong cahaya pucat di langit, mendorongnya kembali ke dalam robekan, dan untuk satu tarikan napas yang panjang sekali, cahaya itu benar-benar berhenti. Bergetar di tempatnya. Mundur sedikit.