Paradoks Waktu: Batu Kosmik (Buku 2)

Marion Drossi
Chapter #2

Anak Tanpa Cahaya

Mataram, Agustus 1990

Di Kampung Abu, semua anak tahu kapan dirinya lahir, tetapi hanya sedikit yang tahu di mana. Aku termasuk yang sedikit itu, atau setidaknya begitulah yang kupercaya. Kak Tari bilang aku lahir di Mataram pada bulan Desember, dua minggu sebelum tahun baru, dan bahwa kami berdua berasal dari sebuah dusun di lereng utara Rinjani yang sudah tidak ada lagi. Ia tidak pernah bercerita lebih banyak daripada itu. Setiap kali aku bertanya, ia hanya tersenyum tipis, mengusap rambutku dengan jari-jarinya yang selalu dingin, dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja, seolah kalimat itu adalah jawaban atas pertanyaan apa pun.

Kampung Abu berdiri di atas reruntuhan pertokoan Cakranegara. Kata Kak Tari, dulu tempat ini adalah pusat keramaian kota, dengan toko emas, toko kain, dan pedagang martabak yang antreannya mengular sampai ke jalan besar. Aku tidak bisa membayangkannya. Yang kukenal hanyalah tembok-tembok setengah runtuh yang ditambal seng berkarat, papan bekas, dan terpal tentara yang warnanya sudah pudar. Rumah-rumah kami bersandar satu sama lain seperti orang-orang mabuk. Di setiap celah, di setiap retakan, abu dari sepuluh tahun lalu masih terselip, kelabu dan halus seperti bedak. Kalau angin bertiup dari utara, abu lama itu naik lagi dari tanah, dan kami semua batuk-batuk sampai malam.

Langit di atas Mataram tidak pernah benar-benar biru. Kak Tari bilang dulu langit berwarna biru tua di siang hari. Aku hanya pernah melihat langit berwarna putih susu yang encer, dengan matahari pucat yang menggantung di tengahnya seperti koin yang terlalu sering dipegang. Kata Pak Darsa, guru di sekolah darurat, abu masih tersisa di lapisan atas udara dan mungkin tidak akan pernah habis sampai kami semua tua. Kata Pak Darsa juga, kami beruntung. Di beberapa tempat di dunia, langit masih hitam.

Air diambil dari sumur bor yang dijaga dua tentara bersenjata. Beras jagung dibagikan setiap Senin dengan kartu jatah, dan antreannya dimulai sebelum subuh. Listrik hanya ada di pos militer di bekas kantor bupati dan di rumah-rumah juragan pangan di bukit, rumah-rumah bertembok tinggi yang lampunya menyala sepanjang malam seperti mata yang tidak pernah tidur. Di Kampung Abu, kami punya pelita, lilin, dan bulan, kalau bulan sedang mau menembus abu.

Kak Tari menjahit. Ia punya mesin jahit injak tua yang ia tukar dengan sepasang anting emas, satu-satunya perhiasan yang ia bawa dari pos pengungsian di Bayan, dan sejak aku bisa mengingat apa pun, bunyi mesin jahit itulah yang menidurkanku setiap malam. Tek-tek-tek-tek-tek, lalu berhenti, lalu tek-tek-tek lagi. Ia menjahit apa saja dari bahan apa saja. Kain parasut bekas dari tentara. Karung tepung bantuan yang bertuliskan huruf-huruf asing. Gorden dari rumah-rumah yang ditinggalkan. Pakaian-pakaian itu ia tukar di pasar dengan beras, minyak tanah, dan sabun batangan, dan kadang-kadang, kalau sedang beruntung, dengan sepotong ikan asin untukku.

Umurnya dua puluh lima tahun. Rambutnya panjang sampai pinggang dan selalu dikepang satu, dan ia tidak pernah tertawa keras, tidak pernah marah keras, tidak pernah menangis di depanku. Orang-orang di kampung menyebutnya perempuan es, setengah karena sikapnya yang dingin dan setengah karena tangannya. Tangan Kak Tari selalu dingin. Dingin di siang terik, dingin di dekat tungku, dingin ketika ia mengusap dahiku yang demam. Ia tidur memakai selimut bahkan di puncak musim kemarau, dan ketika seluruh kampung terkena diare tiga tahun lalu, ia satu-satunya orang dewasa yang tidak sakit sama sekali.

Aku tidak pernah menganggapnya aneh. Bagiku, begitulah Kak Tari. Dingin, tenang, dan selalu ada.

 

Gelombang Kedua datang pada malam tanggal tujuh belas Agustus, ketika separuh kampung sedang tidur kelelahan setelah lomba panjat pinang di lapangan bekas parkiran. Aku terbangun karena bunyi itu. Bunyi seperti ranting kering yang dipatahkan, tetapi bukan satu ranting. Ratusan, atau ribuan. Datang dari segala arah sekaligus, dari dalam rumah-rumah, dari bawah tanah, dari kaleng-kaleng di atas rak, seperti seluruh kota sedang meretakkan buku-buku jarinya bersama-sama. Lalu cahaya. Melalui celah-celah dinding seng rumah kami, aku melihat kilatan-kilatan warna di rumah-rumah tetangga. Merah. Hijau. Biru. Kilatan-kilatan itu menyala sesaat, lalu padam.

Lalu jeritan. Dan setelah jeritan, entah kenapa, tawa. Kak Tari sudah duduk tegak di atas tikar ketika aku menoleh. Wajahnya pucat di bawah cahaya yang berkedip-kedip dari celah dinding. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku, lalu meletakkan telapak tangannya yang dingin di dadaku, tepat di atas jantung, dan menahan napas.

Aku menunggu. Ia menunggu. Tidak terjadi apa-apa. Kak Tari mengembuskan napas panjang. Aku tidak tahu apakah wajahnya lega atau kecewa. Barangkali keduanya. Ia menarik tangannya, menyelimutiku lagi, dan berbaring membelakangiku tanpa sepatah kata pun. Di luar, bunyi patahan itu terus terdengar sampai menjelang subuh, semakin lama semakin jarang, seperti hujan yang mereda.

Keesokan paginya, semua orang tahu apa yang terjadi. Batu-batu itu sudah matang. Selama sepuluh tahun, orang-orang di seluruh kota menyimpan Batu Kosmik yang masih utuh. Ada yang menyimpannya sebagai jimat di dalam kaleng biskuit. Ada yang menguburnya di bawah lantai karena takut. Ada yang tidak tahu bahwa ada batu di bawah fondasi rumahnya, karena batu-batu itu jatuh di mana-mana pada malam itu dan tertimbun reruntuhan. Para ilmuwan di Lembaga Kajian Batu Kosmik, yang sesekali bicara di radio militer, sudah memperingatkan bahwa batu-batu itu akan terbelah sendiri setelah cukup lama berada di bumi. Tidak ada yang tahu kapan. Ternyata jawabannya adalah sepuluh tahun kurang dua bulan, pada malam tujuh belasan, di seluruh dunia hampir bersamaan.

Dan cahaya-cahaya itu, seperti pada malam sepuluh tahun lalu, memilih. Di sekolah darurat di bekas gudang beras, separuh kursi kosong pagi itu karena banyak anak demam. Separuh lagi diisi anak-anak yang duduk dengan punggung tegak dan mata berbinar, sesekali mengangkat lengan baju untuk memperlihatkan kepada teman sebangkunya cahaya samar yang berdenyut di bawah kulit. Pak Darsa, guru kami yang kehilangan lengan kirinya pada malam tahun 1980, berdiri di depan papan tulis dengan sebatang kapur dan wajah yang sulit diartikan. Ia memanggil kami satu per satu ke depan, menyuruh kami membuka kancing baju, lalu menuliskan nama dan warna di papan.

Gandara, merah, di tengkuk. Sekar, biru, di pergelangan tangan. Bayu, hijau. Wira, hijau. Murni, merah. Daftar itu terus memanjang sampai papan tulis penuh dan Pak Darsa harus menghapus sudutnya untuk menulis lagi. Lembaga sudah mengirim surat ke semua pos militer, katanya. Setiap anak yang terpilih harus didata. Itu peraturan.

Ketika giliranku tiba, aku membuka kancing bajuku dengan tangan gemetar. Pak Darsa menatap dadaku lama. Lalu pergelangan tanganku. Lalu tengkukku, sampai ia harus membungkuk dan menyibak rambutku dengan satu-satunya tangannya.

“Tidak ada,” katanya akhirnya, dan menulis namaku di sudut papan yang paling kecil, di bawah garis yang ia tarik dengan kapur. Di sana sudah ada sebelas nama lain. Anak-anak yang tidak terpilih.

Gandara tertawa paling keras. Ia dua tahun lebih tua daripada aku, anak tukang jagal di pasar yang bertubuh besar dan bersuara serak. Sebelum malam itu, ia hanya anak nakal biasa yang suka merebut jatah jagungku. Setelah malam itu, ia adalah anak nakal yang tengkuknya menyala merah dan telapak tangannya bisa menjadi panas seperti tutup panci di atas tungku.

“Si Kosong,” katanya, dan seluruh kelas ikut tertawa. Nama itu menempel padaku seperti abu menempel di keringat. Si Kosong. Anak tanpa cahaya.

Malam itu aku memecahkan sepotong kaca jendela dari tumpukan sampah di belakang rumah dan memandangi dadaku di bawah cahaya pelita sampai mataku perih. Aku mencari cahaya di dadaku, di tengkukku, di pergelangan tanganku, di telapak kakiku. Tidak ada apa-apa. Hanya kulit cokelat kurus dan tulang rusuk yang bisa dihitung.

“Kenapa aku tidak dipilih?” tanyaku kepada Kak Tari, yang sedang menjahit di sudut ruangan.

Mesin jahitnya berhenti. Untuk beberapa saat, satu-satunya bunyi di dalam rumah kami adalah desis pelita.

“Karena kamu tidak perlu dipilih,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Kamu sudah cukup.”

Tek-tek-tek-tek. Mesin jahitnya berbunyi lagi, sedikit lebih cepat daripada biasanya.

 

Selama dua minggu berikutnya, Gandara dan kawan-kawannya mempelajari kekuatan baru mereka dengan cara yang paling mudah, yaitu mencobanya pada Si Kosong. Mereka menungguku di gang menuju sumur bor. Gandara menempelkan telapak tangannya yang panas ke punggungku sampai bajuku berlubang berbentuk lima jari. Sekar meniupkan napas dingin ke tengkukku sampai aku menggigil sepanjang pelajaran. Bayu, yang hijau, belajar melompat sejengkal di tempat dan merampas buku tulisku sebelum aku sempat berkedip. Aku tidak melawan. Aku tidak tahu caranya melawan anak-anak yang tangannya bisa terbakar. Aku hanya belajar mengambil jalan yang lebih panjang, berangkat lebih pagi, dan menyembunyikan bajuku yang berlubang dari Kak Tari dengan menjahitnya sendiri, diam-diam, dengan jahitan yang miring-miring.

Lihat selengkapnya