Paradoks Waktu: Batu Kosmik (Buku 2)

Marion Drossi
Chapter #3

Musim Batu Matang

Mataram, Maret 1991

Para petugas Lembaga datang ke Kampung Abu dengan truk tentara dan sebuah kotak kayu yang dibawa oleh dua orang, hati-hati sekali, seperti membawa peti mayat bayi. Mereka mendirikan meja lipat di lapangan bekas parkiran dan menyuruh seluruh warga berbaris berdasarkan nomor kartu jatah. Seorang perempuan berseragam abu-abu dengan rambut digelung ketat membuka kotak kayu itu. Isinya sebuah tabung kaca seukuran lengan, berisi cairan bening, dengan sebatang jarum logam tipis yang menggantung di tengahnya pada seutas benang. Di dasar tabung terpasang sepotong batu hitam yang kusam.

“Pendeteksi kronon,” bisik Pak Darsa kepada kami, anak-anak yang berdiri berdesakan di belakang garis tali. “Batu di bawah itu batu mati. Tapi batu itu masih ingat cahaya. Kalau ada cahaya di dekatnya, jarumnya bergetar.”

Aku belum pernah merasa setakut itu, bahkan di bawah menara air dengan tangan Gandara di tengkukku. Selama tujuh bulan sejak Kamis sore itu, aku menuruti Kak Tari. Aku tidak mencoba memperlambat waktu lagi. Aku tidak menceritakannya kepada siapa pun. Namun denyut hangat di dadaku tidak pernah benar-benar hilang. Kadang-kadang, ketika aku sedang marah atau ketakutan, denyut itu menguat, dan dunia di sekelilingku terasa sedikit terlalu lambat. Aku yakin jarum di dalam tabung itu akan menari-nari begitu aku mendekat.

Kak Tari berdiri di sampingku di dalam barisan. Ia memegang tanganku dengan tangannya yang dingin, lebih dingin daripada biasanya.

“Pikirkan sesuatu yang membosankan,” bisiknya tanpa menoleh.

“Apa?”

“Antrean beras. Debu di rak. Jam yang berdetak di ruangan kosong. Apa saja yang tidak membuat jantungmu berdebar. Jangan pikirkan jarum itu.”

Aku mencoba. Aku memikirkan antrean beras jagung setiap Senin pagi. Aku memikirkan bunyi mesin jahit. Aku memikirkan pelajaran berhitung Pak Darsa yang tidak pernah selesai. Barisan bergerak maju selangkah demi selangkah. Di depan kami, jarum itu bergetar ketika Mbok Sarni lewat, bergetar keras ketika anak sulungnya lewat, dan perempuan berseragam abu-abu mencatat semuanya di buku besar bersampul hitam.

Lalu giliran kami. Kak Tari melangkah lebih dulu, masih menggenggam tanganku, dan menarikku ke depan meja bersamanya. Perempuan berseragam itu mengangkat alis, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia mendekatkan tabung kaca itu ke dada Kak Tari, lalu ke dadaku.

Jarum itu diam. Tidak bergetar sedikit pun. Bukan hanya itu. Jarum itu bahkan tidak berayun, padahal angin sore bertiup cukup kencang dan meja lipat itu sedikit goyah. Ia menggantung lurus di tengah cairan bening, kaku dan tegak, seperti jarum yang dibekukan di dalam es.

Perempuan itu mengetuk tabungnya dua kali. Jarumnya tetap diam.

“Kosong,” katanya akhirnya, dengan nada sedikit heran, dan menulis nama kami berdua di halaman yang paling sedikit isinya.

Kak Tari menarikku pergi dari meja itu dengan langkah biasa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Baru ketika kami sudah berbelok ke gang rumah, ia melepaskan tanganku, dan aku melihat telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Aku ingin bertanya kenapa jarum itu tidak berayun sama sekali, padahal angin bertiup. Namun aku sudah belajar membaca wajah Kak Tari, dan wajahnya sore itu mengatakan dengan sangat jelas bahwa aku tidak boleh bertanya.

 

-II-

 

Mataram, Juli 1993

Bang Rusdi meninggal pada umur tiga puluh satu tahun, dan ia meninggal kedinginan di tengah musim kemarau. Ia anak sulung Mbok Sarni, tetangga kami yang berjualan gorengan di depan pos militer. Cahaya biru memilihnya pada malam tahun 1980, ketika ia berumur delapan belas tahun dan sedang membantu ayahnya menurunkan barang di Pelabuhan Ampenan. Selama bertahun-tahun, ia adalah orang paling dibutuhkan di Kampung Abu. Ia bisa membuat air di dalam ember menjadi dingin seperti air es hanya dengan mencelupkan jarinya. Ketika musim kemarau datang dan seluruh kampung kepanasan, anak-anak berbaris di depan rumahnya membawa gelas, dan Bang Rusdi akan tertawa dan meniupkan napas dingin ke wajah mereka satu per satu.

Namun setahun terakhir, Bang Rusdi berhenti tertawa. Ia mulai memakai jaket tebal di siang hari. Lalu dua jaket. Lalu selimut. Kulitnya, yang dulu cokelat seperti kulit semua orang di kampung ini, perlahan-lahan menjadi pucat kebiruan, dan di malam hari, kalau kamu melewati rumahnya, kamu bisa melihat cahaya samar yang merembes dari celah-celah dinding, berdenyut pelan, seperti ada bulan kecil yang terperangkap di dalam. Mbok Sarni berhenti berjualan gorengan. Ia menghabiskan seluruh uangnya untuk minyak tanah, menyalakan tungku siang dan malam di dalam rumah, tetapi tidak ada api yang cukup panas untuk anaknya.

Orang-orang menyebutnya Kikisan. Kikisan Cahaya. Penyakit yang tidak tercatat di buku kedokteran mana pun karena belum pernah ada sebelum tahun 1980. Kata orang, cahaya di dalam tubuh Terpilih perlahan-lahan memakan tubuh itu sendiri, menggantikan daging dan darah dengan dirinya, sedikit demi sedikit, sampai yang tersisa lebih banyak cahaya daripada manusia. Kata orang, hampir tidak ada Terpilih yang hidup melewati umur empat puluh. Kata orang, itulah harga yang harus dibayar.

Aku ikut ke pemakaman Bang Rusdi bersama Kak Tari. Jenazahnya ringan sekali, kata para lelaki yang memikulnya. Ketika mereka menurunkannya ke liang lahat, kain kafannya berpendar samar, biru dan pucat, dan Mbok Sarni menjerit dan harus dipegangi tiga orang perempuan.

Kak Tari tidak menangis. Ia berdiri di belakang kerumunan dengan kedua tangan tersembunyi di dalam lipatan selendangnya, dan wajahnya putih seperti kain kafan itu.

Malam itu, aku memikirkan sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan. Tangan Kak Tari yang selalu dingin. Selimut yang ia pakai di puncak musim kemarau. Tubuhnya yang tidak pernah sakit ketika seluruh kampung sakit. Jarum di dalam tabung kaca yang membeku tegak di tengah angin. Aku menatap punggungnya yang membungkuk di depan mesin jahit, dan dadaku terasa sesak sampai aku sulit bernapas.

“Kak,” panggilku.

“Hm?”

“Kakak tidak akan seperti Bang Rusdi, kan?”

Mesin jahitnya berhenti. Lama sekali ia tidak menjawab. Lalu ia memutar tubuhnya, menatapku dengan mata hitamnya yang tenang, dan tersenyum. Senyum tipis yang biasa, senyum yang selalu ia berikan setiap kali aku menanyakan sesuatu yang tidak bisa ia jawab.

“Kakak tidak punya cahaya, Surya,” katanya. “Kamu dengar sendiri, kan? Jarumnya tidak bergerak.”

Itu jawaban yang masuk akal. Sangat masuk akal. Dan aku tahu, dengan kepastian seorang anak berumur tiga belas tahun yang sudah terlalu lama tinggal bersama seseorang yang pandai menyimpan rahasia, bahwa itu bukan jawaban yang jujur.

 

-II-

Lihat selengkapnya