Paradoks Waktu: Batu Kosmik (Buku 2)

Marion Drossi
Chapter #4

Gelang Perak

Mataram, Maret 1998

Kunci itu ternyata tidak pernah perlu kusentuh. Peti kayu Kak Tari bisa dibuka dengan seutas kawat jahit dan sedikit kesabaran, sama seperti gembok-gembok gudang juragan yang diam-diam dibuka para kuli di pasar setiap kali mandor sedang tidur siang. Aku mempelajari caranya dari Komang, kuli tua bermata satu yang sudah tiga kali dipenjara dan tiga kali dibebaskan karena penjara kekurangan jatah makan. Ia mengajariku tanpa bertanya untuk apa. Di pasar, orang tidak bertanya untuk apa. Mereka hanya bertanya berapa.

Selama tiga bulan setelah ulang tahunku, aku menunggu. Aku menunggu Kak Tari menjawab tanpa ditanya. Aku menunggu ia membuka peti itu di depanku dan berkata, sudah waktunya. Aku menunggu sambil memikul karung, sambil mengantre air, sambil memandangi punggungnya di depan mesin jahit setiap malam. Ia tidak pernah membukanya. Ia bahkan berhenti membukanya diam-diam ketika aku tidak ada, karena sejak malam itu matanya tidak pernah lagi merah ketika aku pulang.

Pada hari Selasa di minggu kedua bulan Maret, seorang juragan pangan dari bukit memesan dua puluh potong kemeja untuk para pengawalnya, dan Kak Tari pergi ke rumahnya untuk mengukur badan mereka satu per satu. Ia bilang akan pulang menjelang magrib. Aku bilang aku akan bekerja di pasar sampai sore.

Aku tidak pergi ke pasar. Rumah kami terasa lain ketika kosong. Lebih sempit, sekaligus lebih luas. Mesin jahit diam di sudut, ditutup kain perca. Pelita belum dinyalakan. Cahaya siang yang kelabu masuk lewat celah-celah dinding seng, membentuk garis-garis pucat di lantai tanah. Peti kayu itu berdiri di bawah dipan, di tempat yang sama sejak aku bisa mengingat apa pun, dan aku menariknya keluar dengan tangan yang lebih gemetar daripada ketika aku memikul karung terberat di gudang.

Kawat itu masuk ke lubang gembok. Aku memutarnya pelan, merasakan bagian dalamnya yang berkarat, seperti Komang mengajariku. Satu putaran. Dua. Pada putaran ketiga, terdengar bunyi klik yang sangat kecil. Aku duduk di depan peti yang terbuka itu lama sekali sebelum berani mengangkat tutupnya.

 

Bau yang pertama kali keluar adalah bau kayu jati dan kopi yang disangrai, bau yang sama dengan bau sarung tenun di bahuku. Di lapisan paling atas tergeletak sehelai kain gendongan bayi. Kainnya dari batik halus berwarna cokelat soga, dan tepinya hangus, menghitam dan rapuh seperti daun kering. Aku mengangkatnya dengan kedua tangan. Di tengahnya, kain itu masih utuh, masih lembut, seolah tidak pernah menyentuh api. Batas antara bagian yang hangus dan bagian yang utuh begitu tegas, nyaris lurus, seperti digambar dengan penggaris.

Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku menempelkan kain itu ke wajahku dan menghirupnya dalam-dalam. Baunya hanya bau kain tua. Namun dadaku terasa sesak, seolah tubuhku mengingat sesuatu yang kepalaku sudah lama lupakan.

Di bawah kain gendongan itu ada sebuah kotak kaleng bekas biskuit, berkarat di sudut-sudutnya, dengan gambar kue-kue berwarna cerah yang sudah memudar jadi bayangan. Aku membukanya.

Gelang perak itu berbaring di atas segumpal kapas yang sudah menguning. Gelang itu kecil sekali. Terlalu kecil bahkan untuk pergelangan tangan anak sepuluh tahun. Perak tipis yang sudah menghitam di beberapa bagian, dengan huruf-huruf kecil terukir di sepanjang lingkarannya. Aku memiringkannya ke arah cahaya dari celah dinding dan membaca huruf-huruf itu satu per satu.

Lalu Rajata Surya Kelana. Mataram, 11 Desember 1979.

Lalu. Rajata. Kelana. Tiga kata yang belum pernah kudengar sebagai bagian dari namaku. Di kartu jatah, di daftar Lembaga, di buku besar petugas pendataan, namaku hanya Surya. Surya adik Lentari Kusuma. Surya si Kosong. Surya yang tidak punya nama belakang karena kami berdua sama-sama tidak tahu nama belakang orang tua kami, begitulah yang selalu kupercaya.

Aku tahu arti kata yang pertama. Semua orang di Lombok tahu. Lalu adalah gelar para menak, keturunan bangsawan Sasak yang dulu tinggal di rumah-rumah bertembok tinggi dan dipanggil Mamiq oleh orang kebanyakan. Di Kampung Abu, gelar itu sudah lama tidak berarti apa-apa. Para menak mengantre jatah beras jagung di barisan yang sama dengan kami, dan Musim Abu tidak memilih siapa yang harus mati berdasarkan gelarnya. Namun membaca kata itu terukir di atas perak, di depan namaku sendiri, rasanya seperti menemukan bahwa rumah yang selama ini kutinggali ternyata punya sebuah kamar yang pintunya tidak pernah kulihat.

Di bawah gelang, terlipat dua, ada sebuah foto hitam putih seukuran telapak tangan, dengan pinggiran bergerigi seperti perangko. Sudut kanan atasnya hangus. Seorang lelaki dan seorang perempuan duduk di beranda sebuah rumah panggung berdinding papan, dengan jendela berkaca di belakang mereka. Lelaki itu tinggi dan tegap, memakai peci hitam dan kemeja putih yang digulung sampai siku, dan ia tidak menatap kamera. Ia menatap perempuan di sampingnya. Perempuan itu tertawa, kepalanya sedikit terlempar ke belakang, rambutnya digelung longgar, dan di pangkuannya ada seorang bayi berpipi bulat yang menatap lurus ke kamera dengan mata hitam yang tajam.

Mata itu. Aku mengenalnya. Aku melihatnya setiap pagi di pecahan cermin yang tergantung di dinding seng. Aku membalik foto itu. Di punggungnya, dengan tinta biru yang sudah luntur, seseorang menulis dengan huruf sambung yang rapi.

Ardana, Ratih, dan si kecil Rajata. Rumah kebun, lereng utara. Musim panen, Oktober 1980.

Oktober 1980.

Aku tahu tanggal itu. Semua orang di dunia ini tahu tanggal itu. Setiap tahun, seluruh Kampung Abu menyalakan pelita di depan pintu dan tidak berbicara keras sampai pagi. Lereng utara. Rumah kebun. Rumah panggung dengan jendela berkaca, satu-satunya rumah di sebuah dusun yang punya kaca, kalau aku menilai dari cara Kak Tari pernah sekali bercerita, bertahun-tahun lalu, tentang dusunnya. Ia menceritakannya hanya sekali, ketika aku masih kecil dan demam, dan ia mungkin mengira aku tidak akan mengingatnya. Ada rumah orang kota di ujung dusun, katanya. Jendelanya berkilau seperti air kalau matahari sore menimpanya.

Aku duduk di lantai tanah dengan foto di satu tangan dan gelang di tangan lain, dan dunia di sekelilingku tidak melambat. Tidak ada denyut di dadaku. Tidak ada yang membeku. Dunia tetap berjalan dengan kecepatan biasa, dan justru itulah yang membuatnya terasa begitu kejam. Aku ingin waktu berhenti. Aku ingin punya cukup waktu untuk memahami bahwa aku bukan adik siapa pun.

Di dasar peti, di bawah semuanya, ada selembar kertas karton yang sudah kekuningan, terlipat empat. Kartu pengungsi dari pos di Bayan, dengan cap tinta ungu yang sudah pudar dan tulisan tangan seorang petugas yang tergesa-gesa.

Nama: Lentari Kusuma. Umur: 15 th. Asal: dusun lereng utara (musnah). Keluarga: Surya, adik, kurang lebih 10 bln.

Adik. Satu kata yang ditulis dengan tinta yang sama, dengan tangan yang sama, di atas kartu yang sama yang selama delapan belas tahun menjadi dasar seluruh hidupku. Adik. Kata itu tidak pernah benar. Kata itu dipilih seorang gadis berumur lima belas tahun di sebuah tenda pengungsian ketika seorang petugas bertanya dan ia harus menjawab sesuatu.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana. Ketika aku akhirnya mengangkat kepala, garis-garis cahaya di lantai sudah bergeser dan berubah warna jadi jingga, dan dari luar terdengar azan magrib dari surau bambu di ujung kampung. Lalu bunyi langkah kaki di depan pintu. Langkah yang kukenal sejak aku belum bisa berjalan.

 

Kak Tari berdiri di ambang pintu dengan meteran kain tergantung di lehernya dan bungkusan kertas di tangan. Ia melihat peti yang terbuka. Ia melihat kain gendongan di pangkuanku. Ia melihat foto dan gelang di tanganku. Bungkusan kertas itu jatuh. Isinya, dua potong ikan asin, terguling ke lantai tanah. Untuk waktu yang lama, tidak ada yang bicara. Azan sudah selesai. Seekor anjing menggonggong di kejauhan. Kak Tari tidak bergerak dari ambang pintu, dan aku tidak bergerak dari lantai, dan di antara kami ada peti kayu yang terbuka seperti luka.

“Kamu membongkarnya,” katanya akhirnya. Suaranya datar. Bukan pertanyaan.

“Aku menunggumu membukanya selama delapan belas tahun.” Suaraku lebih keras daripada yang kumaksud. “Kamu tidak pernah membukanya.”

“Aku bilang aku belum siap.”

“Kapan kamu akan siap?” Aku bangkit. Kakiku kesemutan karena terlalu lama duduk, dan aku terhuyung sedikit, dan aku membencinya, karena aku tidak ingin terlihat lemah sekarang. Aku mengangkat foto itu. “Siapa mereka?”

Kak Tari menatap foto itu. Sesuatu bergerak di wajahnya, sangat cepat, seperti riak di permukaan air ketika ikan lewat di bawahnya. Lalu wajahnya kembali tenang.

“Orang tuamu,” katanya. “Lalu Ardana Kelana dan Baiq Ratih Kencana.”

Nama-nama itu jatuh ke dalam diriku seperti batu yang dilempar ke dalam sumur. Aku menunggu bunyi batu itu menyentuh air. Namun, tidak ada bunyi sama sekali.

Lihat selengkapnya