Mataram, Juli 2000
Kerusuhan Cahaya dimulai di tempat yang jauh, lalu tiba di Mataram seperti hujan yang sudah terdengar gemuruhnya dari balik gunung. Mula-mula hanya kabar dari radio militer, yang setiap malam semakin sering terputus. Barisan Cahaya di Surabaya menembaki komandannya sendiri pada awal Januari. Lalu Makassar. Lalu Denpasar. Lalu kota-kota yang namanya hanya pernah kudengar dari mulut para sopir truk seperti Manila, Bangkok, Kalkuta. Di mana-mana ceritanya sama. Anak-anak yang dulu dipilih cahaya dan dilatih menjadi penjaga gudang pangan kini sudah dewasa, dan mereka sudah menghitung. Mereka bisa membakar, membekukan, dan melompat. Para jenderal hanya bisa memberi perintah.
Pada bulan Maret, pos militer di bekas kantor bupati terbakar dalam satu malam. Paginya, tidak ada lagi tentara di Mataram. Yang tersisa hanya seragam-seragam hangus, truk-truk yang ditinggalkan dengan pintu terbuka, dan sumur-sumur bor yang kini dijaga oleh orang-orang dengan tengkuk dan pergelangan tangan yang menyala.
Lalu muncul kabar yang lebih buruk daripada semua kabar sebelumnya. Ketika seorang Terpilih mati, cahayanya keluar. Semua orang sudah tahu itu. Namun cahaya yang keluar itu tidak langsung padam, tapi melayang sebentar di atas jasad pemiliknya, berdenyut seperti kunang-kunang yang tersesat, lalu masuk ke tubuh Terpilih lain yang paling dekat. Dan siapa pun yang menerimanya menjadi dua kali lebih kuat.
Dua kali lebih kuat, dan dua kali lebih cepat terkikis. Bagian kedua itu jarang diucapkan orang. Sejak kabar itu menyebar, perang di kota ini bukan lagi soal beras. Perang ini soal cahaya.
Gudang garam di Ampenan terbakar pada bulan Mei, dan sejak itu aku bekerja di pasar gelap pangan di bekas terminal Sweta. Pasar itu tidak punya nama dan tidak punya pemilik, kecuali kelompok mana pun yang paling kuat minggu itu. Karung-karung beras jagung, ikan asin, kaleng susu bantuan dari luar negeri yang entah bagaimana masih sampai ke pulau ini, dan jeriken-jeriken minyak tanah ditumpuk di bawah atap terminal yang sudah separuh runtuh. Para pedagang membayar upeti kepada kelompok yang menguasai pasar, dan kelompok itu membayar para kuli dengan sisa-sisanya. Aku memikul karung dari subuh sampai magrib. Aku tidak bertanya siapa yang membayarku. Di pasar, orang tidak bertanya.
Komang bekerja bersamaku. Ia sudah semakin bungkuk, dan matanya yang tinggal satu semakin sering berair, tetapi ia masih bisa memikul karung seberat dirinya sendiri dan masih bisa membuka gembok mana pun dengan seutas kawat. Kami tidur di bawah tangga bekas loket tiket, beralaskan karung dan berselimut sarung tenun cokelat milikku.
Aku sudah dua puluh tahun. Sejak meninggalkan Kampung Abu, aku belum sekali pun kembali ke sana. Kadang-kadang, di pasar, aku mendengar seseorang menyebut penjahit dari Cakranegara yang tangannya selalu dingin, dan aku pura-pura tidak mendengar.
Denyut di dadaku datang dan pergi seperti tamu yang tidak diundang. Setiap kali seorang kuli bercahaya hijau menabrakku di antara tumpukan karung, denyut itu kembali. Setiap kali berbulan-bulan berlalu tanpa sentuhan semacam itu, denyut itu memudar. Aku sudah belajar untuk tidak memikirkannya. Aku sudah belajar banyak hal untuk tidak dipikirkan.
Kelompok Bara menguasai pasar Sweta pada pertengahan Juli, dan pemimpinnya adalah Gandara. Aku melihatnya pertama kali dari atas tumpukan karung ketika ia berjalan masuk ke bawah atap terminal diikuti selusin pengikut. Enam tahun mengubahnya. Ia lebih besar dari yang kuingat, bahunya selebar pintu, dan cahaya merah yang dulu hanya menyala di tengkuknya kini merambat sampai ke rahang dan kedua lengannya, berdenyut seperti urat-urat bara di bawah kulit yang menghitam. Ia memakai seragam Barisan Cahaya yang lencananya sudah dicabut paksa. Ia tidak memakai sepatu. Kata orang, setiap sepatu yang ia pakai akan meleleh dalam seminggu.
Di belakangnya berjalan Sekar, yang cahaya birunya kini menyelimuti kedua tangannya seperti sarung tangan es, dan Bayu, yang tidak berjalan melainkan melompat-lompat pendek di antara tiang terminal, menghilang dan muncul seperti bayangan yang tidak bisa diam.
Gandara tidak melihatku hari itu. Ia hanya berdiri di tengah pasar dan mengumumkan, dengan suara serak yang sama dengan suara anak sembilan tahun di bawah menara air, bahwa mulai hari ini upeti dinaikkan menjadi separuh, dan siapa pun yang keberatan bisa menyampaikan keberatannya di arena. Dan demikian, tidak ada yang keberatan.
Arena itu berada di bekas lapangan Sangkareang, di tengah kota, tempat yang kata Komang dulu dipakai untuk upacara tujuh belasan dan pasar malam. Sekarang lapangan itu adalah kubangan tanah keras yang dikelilingi tumpukan puing dan bangkai-bangkai bus kota yang dijadikan tribun. Setiap malam Jumat, orang-orang berdesakan di atas atap bus itu, membayar segenggam jagung untuk menonton para Terpilih bertarung di bawah cahaya obor dan aki-aki bekas yang menyalakan lampu-lampu sorot. Pertarungan berlangsung sampai salah satu tidak bisa berdiri lagi. Kadang-kadang, sampai salah satu tidak akan pernah berdiri lagi.
Aku menonton sekali, karena Komang memaksaku. Ia bilang aku harus tahu dunia seperti apa yang sedang kutinggali. Aku berdiri di atas atap bus yang berkarat di antara kerumunan yang berbau keringat dan minyak tanah, dan aku melihat seorang lelaki bercahaya biru dan seorang perempuan bercahaya hijau saling mengitari di tengah lapangan.
Aku tidak akan menceritakan bagaimana pertarungan itu berakhir. Cukuplah kukatakan bahwa pada akhirnya lelaki itu tidak bangun lagi. Lalu sesuatu naik dari dadanya. Seberkas cahaya biru, kecil, berdenyut gemetar di udara di atas tanah lapang seperti kunang-kunang yang kebingungan. Seluruh tribun menahan napas. Cahaya itu melayang sebentar, berputar, lalu melesat lurus ke dada perempuan itu.
Perempuan itu menjerit. Kedua tangannya, yang tadi hanya menyala hijau, kini menyala hijau dan biru sekaligus, dan napasnya keluar sebagai uap putih, padahal malam itu panas sekali. Kerumunan bersorak seolah baru saja menyaksikan keajaiban.
Aku turun dari atap bus dan muntah di balik tumpukan puing.
“Sekarang kamu tahu,” kata Komang, menepuk punggungku pelan. Suaranya tidak lagi terdengar seperti orang yang sudah melihat semuanya. Suaranya terdengar seperti orang yang berharap tidak pernah melihat.
Malam itu, di bawah tangga bekas loket tiket, Komang tidak langsung tidur. Ia duduk bersandar pada dinding dengan rokok lintingan yang tidak dinyalakan, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya yang kapalan, dan menatap kegelapan.
“Anakku yang bukan anakku,” katanya tiba-tiba. “Yang bajunya dijahit kakakmu. Namanya Dodi.”
Aku menunggu. Komang jarang bercerita tentang dirinya sendiri, dan aku sudah belajar bahwa kalau ia mulai, aku tidak boleh menyela.
“Cahaya hijau memilihnya waktu umurnya dua belas. Malam tujuh belasan itu.” Ia tertawa kecil, tanpa suara. “Dia senang sekali. Dia bilang dia bisa melompat ke atas atap dan memetik mangga milik tetangga tanpa ketahuan. Dia bilang dia akan jadi Barisan Cahaya, dapat sepatu, dapat beras dua kali lipat buat kami.” Rokok di tangannya berhenti berputar. “Dia naik ke arena tiga bulan lalu. Untuk taruhan. Dua karung beras kalau menang.”
“Dia menang?”