Paradoks Waktu: Batu Kosmik (Buku 2)

Marion Drossi
Chapter #6

Api di Telapak Tangan

Ampenan, Juli 2000

Komang menemukanku di bawah dermaga yang patah menjelang subuh, membawa buntelanku di punggungnya yang bungkuk. Ia tidak bertanya bagaimana aku melakukannya. Ia tidak bertanya apakah aku sengaja. Ia hanya menjatuhkan buntelan itu di atas pasir basah di sampingku, lalu duduk dengan napas tersengal, tangannya yang dibalut daun pisang menempel di dada. Di dalam buntelan itu ada semua yang kumiliki, dua stel pakaian, kain gendongan yang hangus di tepi, dan sarung tenun cokelat yang kini berlubang besar di satu sudutnya. Foto dan gelang perak masih di saku bajuku. Aku tidak pernah melepaskannya.

“Bayu memasang harga untuk kepalamu,” katanya. “Bayu yang melompat-lompat itu. Dia yang memimpin kelompok Bara sekarang. Lima karung beras untuk siapa saja yang membawamu ke arena, hidup atau mati.” Ia batuk. “Tapi menurutku dia tidak mau kamu mati. Menurutku dia takut. Semua orang di pasar takut. Orang bilang kamu bisa memakan cahaya siapa saja hanya dengan menyentuhnya.”

“Aku tidak tahu apa yang kulakukan,” kataku. Suaraku serak karena menangis semalaman.

“Aku tahu.” Komang menatap laut yang mulai memucat. “Tapi orang-orang itu tidak peduli kamu tahu atau tidak. Mereka cuma peduli tangannya.”

Ia menunjuk ke timur, ke arah jalan raya lama yang menuju Narmada dan Lingsar, ke arah perbukitan yang masih tertutup kabut abu.

“Pergi ke timur. Jangan ke utara, tentara memasang pagar di sana, dan di balik pagar cuma ada Kawah Hitam. Jangan ke selatan, kelompok-kelompok di Praya lebih gila daripada di sini. Ke timur, ke desa-desa di kaki bukit. Di sana orang masih menanam jagung sendiri. Di sana orang belum terlalu takut.”

“Kamu ikut?”

Komang tertawa, lalu batuk lagi, lebih lama. “Dengan kaki seperti ini? Aku akan memperlambatmu, Nak. Lagi pula, siapa yang akan membuka gembok-gembok di pasar kalau aku pergi?” Ia menepuk lututku. “Dulu aku bilang, yang penting bukan siapa yang melahirkanmu, tapi siapa yang tidak pergi. Sekarang aku tambahkan satu hal. Kadang-kadang, orang harus pergi supaya tetap ada.”

Aku memeluknya. Ia berbau rokok daun pisang, garam, dan daun pisang yang direndam air sumur. Tubuhnya kurus sekali, kurus seperti burung. Ketika aku melepaskannya, ia sudah berbalik dan berjalan pergi menyusuri pantai, tertatih-tatih, tidak menoleh. Aku tidak pernah melihatnya lagi.

 

Sepanjang hari itu, aku berjalan ke timur di antara arus pengungsi yang tidak pernah berhenti sejak Kerusuhan Cahaya dimulai. Mereka berjalan dengan kepala tertunduk, membawa apa pun yang bisa dibawa. Seorang perempuan menggendong mesin jahit di punggungnya, diikat dengan kain, dan setiap kali aku melihatnya dadaku terasa sakit. Seorang lelaki tua mendorong gerobak berisi dua kambing kurus dan seorang cucu yang tertidur. Sekelompok anak tanpa sandal berjalan beriringan sambil saling memegang ujung baju, seperti barisan semut. Tidak ada yang berbicara. Abu turun pelan dari langit putih, dan semua orang memakai kain di wajahnya.

Tanganku panas. Aku menyadarinya menjelang tengah hari, ketika aku berhenti di sebuah sumur tua di pinggir jalan dan menampung air dengan kedua telapak tangan untuk diminum. Air sumur itu dingin ketika menyentuh kulitku. Tiga tarikan napas kemudian, air itu hangat. Lima tarikan napas, uap tipis mulai naik dari permukaannya.

Aku menatap air di telapak tanganku sampai uap itu menghilang dan air itu meresap di sela jari-jariku. Lalu aku menimba lagi, dan menunggu lagi, dan hal yang sama terjadi lagi.

Aku mencoba menjelaskannya kepada diriku sendiri. Para ilmuwan Lembaga pernah berbicara di radio militer bertahun-tahun lalu, ketika radio itu masih berbunyi, tentang bagaimana cahaya hijau bekerja. Penggerak mempercepat dan memperlambat waktu, kata mereka. Seorang Penggerak yang kuat bisa membuat sebiji jagung bertunas dalam satu malam atau membuat secangkir susu menjadi basi dalam satu menit. Mungkin itulah yang terjadi pada air di tanganku. Mungkin aku sedang mempercepat waktunya tanpa sengaja, membuatnya menjadi hangat seperti air yang dibiarkan terlalu lama di bawah matahari.

Itu masuk akal. Setidaknya separuhnya. Yang tidak masuk akal adalah warna di bawah kulitku. Ketika aku menutup telapak tangan dan melihatnya dari celah jari-jari, di dalam bayangan yang gelap, ada sesuatu di sana. Garis-garis tipis yang berdenyut. Bukan bening, seperti kilau yang dulu kulihat di bawah pelita. Bukan pula hijau. Ini merah seperti urat-urat bara di rahang Gandara.

Aku membuka telapak tanganku cepat-cepat, dan di bawah cahaya siang yang pucat, garis-garis itu tidak terlihat lagi. Aku memasukkan kedua tanganku ke saku dan berjalan lebih cepat.

 

-II-

 

Narmada, Juli 2000

Taman Narmada dulu adalah taman milik raja-raja, kata Kak Tari pernah bercerita, dengan kolam-kolam bertingkat dan sebuah balai di tengah air tempat para bangsawan bersantai di sore hari. Sekarang kolam-kolam itu kering, dasarnya retak-retak dan ditumbuhi ilalang, dan balainya tinggal tiang-tiang batu yang menghitam. Para pengungsi berkemah di antara reruntuhan, menyalakan api kecil di dasar kolam yang kering, dan aku menemukan tempat tidur di balik sebuah patung batu tanpa kepala di sudut taman, jauh dari api siapa pun.

Mereka datang menjelang tengah malam. Aku mendengar mereka sebelum melihat mereka. Bunyi letupan kecil, berulang-ulang, seperti biji jagung yang meletus di atas wajan panas. Itu bunyi Bayu yang melompat. Aku sudah mendengarnya ratusan kali di gang menuju sumur bor ketika kami masih kecil. Lalu suara-suara, dan cahaya. Cahaya merah dari dua obor manusia yang berjalan menyusuri tepi kolam, menyinari wajah-wajah pengungsi yang ketakutan satu per satu.

“Kosong!” Suara Bayu menggema di antara tiang-tiang balai. “Aku tahu kamu di sini! Penjual ketela di gerbang melihatmu!”

Lihat selengkapnya