Paradoks Waktu: Batu Kosmik (Buku 2)

Marion Drossi
Chapter #7

Si Pemakan Cahaya

Kaki bukit Suranadi, Agustus 2000

Nama kakek itu Amaq Jumadi, dan cucunya bernama Inun, dan selama sembilan hari aku tinggal di kolong rumah bambu mereka seperti seekor kucing liar yang belum yakin akan dipelihara. Aku membantu Amaq Jumadi memanen jagung di ladang yang tersisa, mengikat batang-batangnya yang kering untuk pakan kambing, dan memperbaiki atap lumbung yang bocor dengan ilalang. Sebagai balasannya, aku mendapat sepiring jagung rebus setiap pagi dan sore, tempat tidur di atas tikar di kolong rumah, dan tatapan Inun yang tidak pernah lepas dari tanganku setiap kali aku makan.

“Mas tidak panas?” tanyanya suatu sore, duduk di anak tangga paling bawah dengan dagu di atas lutut.

“Tidak.”

“Tapi tangan Mas bisa membakar parang.”

“Kadang-kadang.”

Ia memikirkan jawaban itu dengan serius. “Kalau Mas pegang tanganku, tanganku terbakar?”

Aku menyembunyikan kedua tanganku di balik punggung. “Jangan pernah pegang tanganku, Nun. Janji?”

Ia mengangguk dengan wajah sangat serius, lalu tertawa dan berlari ke ladang mengejar seekor ayam. Aku duduk di tangga itu lama setelah ia pergi, merasakan panas Gandara dan dingin samar di ujung jari-jariku yang belum juga hilang, dan aku bertanya-tanya berapa lama aku bisa tinggal di sini sebelum aku menyentuh seseorang yang tidak seharusnya kusentuh.

 

Kelompok Gagak datang pada hari kesepuluh. Kelompok itu berasal dari Praya, kata Amaq Jumadi, dan namanya diambil dari burung-burung yang selalu mengikuti mereka dari desa ke desa, karena ke mana pun kelompok itu pergi, selalu ada yang mati. Mereka berjumlah tujuh orang dan datang menjelang asar dengan dua truk bak terbuka yang dicat hitam. Pemimpinnya seorang perempuan bertubuh tinggi kurus dengan rambut dipotong sangat pendek dan cahaya biru yang menyelimuti kedua lengannya sampai ke siku. Orang-orang memanggilnya Mbak Wening. Aku tidak tahu nama aslinya.

Mereka tidak meminta jagung. Mereka meminta anak-anak. Ada dua anak Terpilih di desa itu, kata Amaq Jumadi kemudian dengan suara bergetar. Seorang anak lelaki berumur dua belas tahun bercahaya hijau, dan seorang anak perempuan berumur sembilan tahun bercahaya merah. Kelompok-kelompok seperti Gagak mengambil anak-anak itu, melatih mereka, memakai mereka. Dan ketika anak-anak itu mulai terkikis, mereka dibawa ke arena supaya cahayanya tidak terbuang percuma.

Mbak Wening berdiri di tengah halaman desa dan menyebut nama kedua anak itu. Tidak ada yang menjawab. Ia menunggu. Lalu ia mengangkat tangannya, dan seluruh halaman tiba-tiba diselimuti kabut putih yang dingin, dingin sekali, sampai embun membeku di ujung-ujung daun jagung dan napas semua orang keluar sebagai uap.

“Aku hitung sampai sepuluh,” katanya. “Setelah itu, setiap hitungan, satu atap kuturunkan suhunya sampai bambunya pecah.”

Aku berdiri di tepi ladang dengan sabit di tangan. Di sampingku, Inun memeluk kaki kakeknya. Kali ini ia tidak menatap tanganku, tapi wajahku.

“Mas,” bisiknya. Hanya itu.

Aku memikirkan Komang. Kadang-kadang orang harus pergi supaya tetap ada. Aku memikirkan anak bercahaya hijau di mata air Lingsar, yang menggigil di dalam air yang tidak dingin. Aku memikirkan Gandara kecil yang mengulurkan telapak tangannya di dalam mimpi. Maka kemudian aku meletakkan sabit itu di tanah dan berjalan ke tengah halaman.

 

Aku tidak akan menceritakan pertarungan itu dengan rinci. Bukan karena aku tidak ingat, tetapi karena aku ingat terlalu baik. Cukuplah kukatakan bahwa Mbak Wening melihatku datang dan tertawa, karena di matanya aku hanyalah seorang kuli kurus tanpa cahaya. Cukuplah kukatakan bahwa ketika kabut dinginnya menyelimutiku, aku memikirkan panas Gandara, dan kabut di sekelilingku mendidih jadi uap yang menyembur ke segala arah seperti dari mulut ketel. Cukuplah kukatakan bahwa ketika dua orang anak buahnya yang bercahaya merah melemparkan api, api itu pecah di telapak tanganku seperti di Narmada, dan bahwa ketika seorang lelaki bercahaya hijau melompat ke belakangku, dunia melambat cukup lama bagiku untuk berbalik.

Dan cukuplah kukatakan bahwa pada akhirnya, tanganku menyentuh pergelangan tangan Mbak Wening. Sengatan dingin itu. Lalu tarikan. Lalu aliran yang biru dan sedingin air di bawah es, mengalir dari tubuhnya ke tubuhku, masuk ke dadaku dan meringkuk di sana di samping yang merah dan yang hijau, seperti tamu baru yang canggung di ruangan yang sudah penuh. Aku mencoba melepaskan tanganku. Aku benar-benar mencoba. Namun tanganku tidak mau. Tanganku sudah lama lapar.

Ketika akhirnya aku bisa melepaskannya, Mbak Wening jatuh berlutut di tengah halaman, lalu terguling ke samping. Kabut putih di sekeliling desa menipis dan lenyap seperti napas di kaca yang mengering.

Sisa kelompok Gagak tidak menunggu. Mereka berlari ke truk-truk hitam mereka dan pergi dengan mesin meraung, meninggalkan kepulan debu dan seekor burung gagak yang terbang berputar-putar di atas halaman, berkaok, lalu menghilang ke balik bukit.

Aku berdiri di tengah halaman dengan kedua tangan berasap dan bernapas uap. Di bawah kulit lenganku, untuk pertama kalinya, aku melihat ketiganya sekaligus. Merah, hijau, biru. Berdenyut bersama-sama, saling melilit seperti tiga ekor ular di dalam satu keranjang.

Aku tidak berani menoleh ke arah Mbak Wening. Aku hanya mendengar Amaq Jumadi mendekatinya, berlutut, lalu mengucapkan sesuatu dengan suara pelan, kalimat yang diucapkan orang-orang di Lombok ketika seseorang meninggal. Lalu, dari belakangku, terdengar suara lain. Suara kecil, yaitu Inun.

“Mas Pemakan Cahaya menang,” bisiknya, dan aku tidak tahu apakah suaranya penuh kekaguman atau ketakutan. Barangkali keduanya.

 

Mereka menguburkan Mbak Wening di pinggir desa keesokan harinya, dan aku ikut menggali liangnya. Tidak ada yang memintaku. Tidak ada pula yang melarangku. Para lelaki desa menggali dalam diam, dan aku menggali di antara mereka, dan setiap kali cangkulku membentur batu, aku merasakan sesuatu yang biru dan dingin bergerak di dadaku, seolah cahaya di dalam diriku tahu ke mana pemilik aslinya sedang dibawa.

Jenazahnya ringan, kata orang-orang yang memikulnya. Tidak seringan jenazah Bang Rusdi, tetapi lebih ringan daripada seharusnya. Ketika mereka menurunkannya ke liang lahat, aku melihat kain kafannya tidak berpendar sama sekali. Tidak biru, tidak sama sekali. Seperti kafan orang biasa.

Amaq Jumadi berdiri di sampingku setelah liang itu ditimbun. Ia menghisap rokok kelobotnya lama sebelum bicara.

Lihat selengkapnya