Pringgabaya, Oktober 2000
Perempuan itu datang ke pasar Pringgabaya pada hari ketiga setelah aku tiba, mendorong gerobak kayu beroda satu, dan di atas gerobak itu terbaring seorang anak lelaki yang dibungkus tikar pandan. Aku sedang duduk di bawah pohon asam di ujung pasar, makan nasi bungkus pemberian seorang pedagang ikan yang desanya kubebaskan dari kelompok kecil bercahaya merah dua minggu sebelumnya. Orang-orang di pasar itu sudah tahu siapa aku. Mereka memberiku tempat duduk terbaik di bawah pohon, menyuguhkan kopi tanpa meminta bayaran, dan menyingkir dengan sopan setiap kali aku lewat, seperti menyingkir untuk seorang haji atau seorang dukun. Aku sudah mulai terbiasa dengan cara mereka menatapku. Kagum dan takut dalam takaran yang sama.
Perempuan itu tidak menatapku dengan kagum. Ia menghentikan gerobaknya tepat di depanku, begitu dekat sampai rodanya hampir menyentuh kakiku, dan berdiri di sana dengan napas tersengal dan wajah yang kering, kering sekali, seperti tanah sawah di puncak kemarau. Tidak ada air mata. Barangkali air matanya sudah habis di jalan.
“Kamu Pemakan Cahaya,” katanya. Bukan pertanyaan.
Aku meletakkan nasi bungkus di atas akar pohon. Di sekeliling kami, pasar perlahan jadi sunyi. Seorang pedagang sayur menghentikan timbangannya. Dua anak kecil berhenti berlari.
“Lihat,” kata perempuan itu, dan menyibak ujung tikar pandan.
Anak lelaki itu mungkin berumur lima belas atau enam belas tahun. Wajahnya pucat dan tenang, matanya terpejam, rambutnya dipotong cepak seperti anak-anak di desa-desa lereng timur. Di pipi kirinya ada tahi lalat kecil. Ia memakai kaus oblong yang terlalu besar dengan tulisan sablon yang sudah luntur, dan di pergelangan tangan kanannya ada gelang dari karet ban dalam yang dianyam, jenis gelang yang dibuat anak-anak untuk sahabatnya.
Aku mengenalnya. Ia salah satu dari dua bersaudara bercahaya biru di dekat Aikmel. Yang membekukan sumur desa dan menjual airnya seharga sepiring beras per ember. Aku menyentuhnya di tepi sumur itu, tiga minggu lalu, ketika ia mencoba membekukan kakiku ke tanah. Aku ingat wajahnya. Aku ingat ia berteriak memanggil kakaknya. Aku tidak ingat tahi lalat di pipinya. Aku tidak ingat gelang karet di tangannya. Waktu itu, ia hanya musuh.
“Namanya Lalu Hadi,” kata perempuan itu. “Umurnya lima belas tahun. Dia anakku yang bungsu.” Suaranya datar, nyaris tanpa nada, seperti orang yang membacakan daftar belanja. “Kakaknya, Lalu Hamid, yang kamu sentuh lebih dulu. Dia kukubur di belakang rumah. Hadi tidak mau kukubur di samping kakaknya. Dia lari waktu itu, dan baru pulang kemarin. Dia pulang karena tidak bisa berhenti kedinginan.”
Aku tidak mengerti. “Aku menyentuhnya. Di tepi sumur. Dia...”
“Dia tidak langsung mati, kalau itu yang kamu tanyakan.” Perempuan itu menatapku tanpa berkedip. “Kamu tidak mengambil semuanya. Kamu cuma mengambil separuh, lalu kakaknya menariknya lari. Separuh yang tersisa tidak cukup membuatnya hidup, tapi cukup membuatnya mati pelan-pelan. Tiga minggu. Dia mati tadi malam di pangkuanku sambil bilang, ‘dingin, Mak. Dingin.’.”
Pasar itu benar-benar sunyi sekarang. Aku bisa mendengar seekor lalat berdengung di atas gerobak. Aku bisa mendengar jantungku sendiri.
“Mereka bukan anak baik,” kata perempuan itu. “Aku tahu. Mereka menjual air sumur kepada tetangga sendiri. Aku malu. Aku menangis setiap malam karena malu.” Suaranya pecah. “Tapi mereka anakku. Mereka berumur lima belas dan tujuh belas tahun. Mereka ketakutan sejak cahaya itu masuk ke dada mereka, dan mereka tidak tahu cara lain untuk bertahan hidup, karena tidak ada yang pernah mengajari mereka cara lain.” Ia menunjuk anaknya di atas gerobak. “Dan kamu. Kamu juga tidak mengajari mereka apa-apa. Kamu cuma menyentuh mereka, lalu pergi sebelum fajar.”
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
“Aku tidak datang untuk memintamu menghidupkan anakku,” katanya. “Aku tahu kamu tidak bisa. Aku datang supaya kamu melihat wajahnya.” Ia menutup kembali tikar pandan itu, pelan dan hati-hati. “Supaya kamu ingat bahwa dia punya wajah.”
Lalu ia memutar gerobaknya dan pergi, dan tidak ada seorang pun di pasar itu yang menghalanginya, dan tidak ada seorang pun yang menatapku lagi sepanjang sisa hari itu.
Malam itu aku menghitung. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku hanya berbaring di bawah atap lumbung kosong di pinggir Pringgabaya, menatap bintang-bintang yang tidak pernah terlihat di balik abu, dan wajah-wajah itu datang satu per satu tanpa diundang. Kak Tari selalu takut aku akan menghitung. Aku baru mengerti sekarang.
Gandara, di arena Sangkareang. Mbak Wening, di halaman desa Amaq Jumadi. Lelaki bercahaya hijau di Montong Gading, yang melompat-lompat di atas atap dan yang, aku baru ingat sekarang, punya bekas luka bakar di punggung tangannya. Lelaki bercahaya merah di Sikur. Lalu Hamid dan Lalu Hadi di tepi sumur di dekat Aikmel. Seorang perempuan bercahaya hijau di Kotaraja yang mencuri ternak. Tiga lelaki bercahaya biru dan merah di Sakra yang membakar lumbung. Bayu, yang mati hangat di pelukanku.
Dan wajah-wajah lain yang tidak bisa kuingat dengan jelas, karena aku tidak pernah benar-benar melihatnya. Aku selalu pergi sebelum fajar.
Empat belas. Aku menghitungnya tiga kali, dan setiap kali hasilnya sama. Empat belas orang dan tidak satu pun yang bangun lagi. Selama dua bulan aku memberi tahu diriku sendiri bahwa mereka memang pantas. Bahwa mereka memeras desa-desa, mencuri ternak, membakar lumbung, menjual air sumur kepada tetangga sendiri. Bahwa aku hanya melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain. Bahwa Ayah, yang membeli tembakau dengan harga adil dan meminjamkan bibit jagung tanpa bunga, pasti bangga. Namun aku tidak pernah bertanya apakah mereka bisa diselamatkan. Aku tidak pernah bertanya apakah ada cara lain. Aku hanya menyentuh, dan merasakan cahaya mereka mengalir ke dalam diriku, dan tanganku yang lapar itu, entah bagaimana, merasa kenyang.
Aku duduk di lantai lumbung dan menatap telapak tanganku dalam gelap. Di bawah kulitnya, empat belas cahaya berdenyut. Merah, hijau, biru, berlilit-lilit seperti akar pohon yang tumbuh terlalu rapat di dalam pot yang terlalu kecil.
“Aku pembunuh,” kataku keras-keras kepada kegelapan, kepada diriku sendiri, kepada foto di saku bajuku. “Aku pembunuh.”
Kata itu tidak membuatku merasa lebih baik. Namun aku rasa kini aku merasa jujur.
Aku berhenti. Ketika seorang lelaki dari Labuhan Haji datang keesokan paginya meminta pertolongan, aku menolak. Ketika dua bersaudara dari Keruak datang dua hari kemudian, menangis karena kelompok bercahaya merah membakar rumah mereka, aku menolak. Aku memberi mereka semua jagung yang kumiliki dan menyuruh mereka mencari orang lain, siapa saja. Mereka menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca, lalu pergi.