Paradoks Waktu: Batu Kosmik (Buku 2)

Marion Drossi
Chapter #9

Desa di Kaki Bukit

Lendang Bunga, lereng Sembalun, November 2000

Hal pertama yang kusadari adalah panas, dan untuk sesaat aku mengira aku sudah mati, karena aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa hangat. Aku berbaring di atas dipan bambu di bawah tumpukan selimut yang berbau asap tungku dan daun sereh. Di sudut ruangan, sebuah tungku tanah liat menyala, dan di atasnya sebuah periuk mendidih pelan, mengepulkan uap yang berbau jahe dan sesuatu yang pahit. Dindingnya anyaman bambu yang dilapisi tanah liat. Dari celah-celahnya masuk cahaya pagi yang pucat, dan bunyi ayam, dan suara anak-anak yang menghitung dalam bahasa Sasak sambil bermain lompat tali.

Aku mencoba menggerakkan jari-jariku, bergerak, kaku dan sakit seperti jari-jari orang tua, tetapi bergerak.

“Jangan dulu,” kata sebuah suara. “Kalau kamu bangun sekarang, aku harus mengulangnya dari awal, dan aku sudah tidak punya rambut cadangan.”

Seorang gadis duduk di bangku kecil di samping dipan. Umurnya mungkin sembilan belas tahun. Wajahnya bulat dan cokelat terbakar matahari, alisnya tebal, dan matanya yang besar menatapku dengan campuran rasa ingin tahu dan kesal. Rambutnya hitam dan dikepang dua. Kecuali sehelai, di dekat pelipis kirinya, yang putih seperti benang kapas. Kedua tangannya dibungkus kain basah sampai ke pergelangan.

“Siapa...” Suaraku keluar sebagai bisikan serak.

“Janika. Janika Prameswari. Anak sulung kepala dusun, kalau itu penting.” Ia mencelupkan secarik kain ke dalam mangkuk air hangat di pangkuannya, memerasnya, lalu meletakkannya di dahiku. Lewat kain basah yang membungkus jari-jarinya, aku merasakan sesuatu mengalir ke kulitku. Bukan dingin, tapi hangat. Hangat yang lembut, seperti sinar matahari sore yang menembus jendela, dan di mana pun hangat itu menyentuh, rasa sakit di tubuhku mundur pelan-pelan seperti air surut. “Kamu ditemukan anak-anak di pinggir ladang kemarin pagi. Mereka kira kamu bangkai rusa. Mukamu biru. Jari kakimu putih. Bulu matamu membeku.”

“Kamu menyembuhkanku.”

“Sebagian.” Ia mengangkat bahu. “Sisanya urusan jahe dan selimut. Aku Pemulih, bukan penyihir.”

Pemulih. Aku pernah mendengar istilah itu di radio militer bertahun-tahun lalu. Cahaya jingga. Langka sekali. Lembaga pernah mengumumkan hadiah untuk setiap Pemulih yang mau bergabung dengan rumah sakit tentara, dan aku tidak pernah mendengar ada yang mau. Kata orang, setiap luka berat yang disembuhkan seorang Pemulih mengambil sesuatu dari tubuh Pemulih itu sendiri. Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.

Aku menatap sehelai rambut putih di pelipisnya.

“Itu karena aku?” tanyaku.

Janika mengikuti arah tatapanku, lalu menyentuh rambut putih itu dengan ujung kain basah di jarinya, seolah baru menyadarinya. “Oh. Yang ini? Ini yang ketujuh. Yang pertama waktu adikku jatuh dari pohon kelapa.” Ia tersenyum lebar yang memperlihatkan gigi depannya yang sedikit bertumpuk. “Kalau aku terus begini, umur tiga puluh aku sudah kelihatan seperti nenek-nenek. Tapi tidak apa-apa. Nenekku cantik.”

Aku ingin tertawa. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku ingin tertawa. Yang keluar justru batuk, panjang dan menyakitkan, dan Janika menyodorkan secangkir air jahe ke bibirku dengan tangan yang terbungkus kain.

Baru ketika aku sudah meminumnya, aku memahami arti kain itu.

“Tanganmu,” kataku. “Kenapa dibungkus?”

Janika meletakkan cangkir di lantai. Untuk pertama kalinya, senyumnya sedikit memudar.

“Karena penjaga bilang begitu,” katanya. “Waktu anak-anak membawamu ke sini, penjaga datang melihat. Dia bilang jangan pernah sentuh kulitmu dengan kulit. Pakai kain.” Ia menatapku dengan mata yang besar dan jernih. “Dia bilang, kalau aku menyentuhmu langsung, kamu akan mengambil cahayaku tanpa kamu sadari, dan aku tidak akan bangun lagi.”

Seluruh tubuhku jadi dingin lagi, dingin yang tidak ada hubungannya dengan Kikisan.

“Siapa penjaga itu?”

“Penjaga ya penjaga.” Janika mengangkat bahu lagi. “Dia datang ke sini sebulan lalu. Tidak ada yang tahu dari mana. Dia tinggal di gubuk kosong di ujung desa, dekat jalan ke hutan, dan sejak dia datang, tidak ada satu pun kelompok yang bisa masuk ke Lendang Bunga.” Ia bangkit, merapikan selimutku. “Tidurlah lagi. Kalau kamu sudah bisa berjalan, kamu bisa bertanya sendiri kepadanya. Tapi kuberi tahu dulu, dia tidak suka bicara.”

Aku terbangun lagi di tengah malam karena seseorang sedang menatapku. Seorang anak lelaki kurus berumur sekitar sebelas tahun duduk bersila di lantai tanah di samping dipan, dengan sebatang lilin yang hampir habis di tangannya. Rambutnya dipotong cepak. Di pelipis kirinya ada bekas luka panjang yang sudah lama sembuh, berwarna lebih pucat daripada kulit di sekitarnya, berbentuk seperti akar pohon. Ia sedang menatap tanganku yang tergeletak di atas selimut.

“Kamu siapa?” bisikku.

“Ikram,” bisiknya balik. “Adiknya Kak Jani.” Ia mendekatkan lilin itu ke tanganku. “Tadi urat-uratnya menyala. Tiga warna. Aku melihatnya dari balik dinding.”

Aku menarik tanganku ke bawah selimut. “Jangan dekat-dekat.”

“Aku tidak punya cahaya,” kata Ikram, seolah itu menjelaskan segalanya. “Kamu tidak bisa mengambil apa-apa dariku.” Ia menyentuh bekas luka di pelipisnya. “Aku jatuh dari pohon kelapa waktu umurku tujuh tahun. Kepalaku pecah. Kak Jani menyembuhkanku. Itu rambut putihnya yang pertama.” Ia tersenyum. “Sejak itu aku bilang aku mau jadi Pemulih juga. Supaya kalau Kak Jani jatuh, aku yang menyembuhkan.”

“Kamu tidak punya cahaya.”

“Belum,” kata Ikram dengan keras kepala yang mengingatkanku pada kakaknya. “Kata Bapak, masih ada batu yang belum matang di bawah tanah di mana-mana. Siapa tahu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa kepada seorang anak yang berharap dipilih oleh sesuatu yang sudah menghancurkan dunia. Aku teringat diriku sendiri yang berumur sepuluh tahun, memandangi dadaku di depan pecahan kaca jendela di bawah cahaya pelita, mencari cahaya yang tidak ada.

Lihat selengkapnya