Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #1

Prolog

Lereng utara Rinjani, sebuah malam di tahun 1980.

 

Langit malam itu terlalu terang untuk disebut malam. Orang-orang dusun keluar dari rumah satu per satu, masih bersarung, sebagian menggendong anak yang setengah tertidur. Mereka mengira bulan terbit dua kali. Cahaya yang menggantung di atas punggung gunung itu memang bulat dan pucat seperti bulan, tetapi bergerak. Mula-mula perlahan, lalu tidak lagi.

Seorang gadis berambut panjang berdiri paling belakang, di dekat lumbung padi. Ia tidak ikut bersorak seperti anak-anak lain. Ia memperhatikan sesuatu yang luput dari mata semua orang: jangkrik berhenti berbunyi, angin berhenti bertiup, dan api pelita di tangannya berhenti bergoyang. Nyala itu membeku, tegak dan diam, seperti api di dalam lukisan.

Seolah-olah waktu sedang menahan napas.

Kemudian cahaya itu pecah. Ribuan serpihan berpendar turun dari langit, hijau dan kuning, berderai seperti hujan bara. Suara pertama yang sampai ke telinga gadis itu bukan ledakan, melainkan dengung panjang yang rendah, seakan seluruh lembah adalah lonceng raksasa yang baru saja dipukul. Suara kedua adalah gemuruh. Setelah itu, tak ada lagi yang bisa ia dengar.

Ketika ia membuka mata, fajar belum datang, tetapi tanah sudah terang oleh ribuan batu kecil yang berdenyut pelan di antara abu. Semuanya berdenyut dengan irama yang sama, teratur, seperti detak jam.

Dusunnya sudah tidak ada. Yang tersisa hanya tiang-tiang hangus, atap yang rebah, dan sunyi yang terlalu lebar. Ia berjalan tanpa alas kaki di atas tanah yang masih hangat, memanggil nama-nama yang tidak menjawab. Lalu, di antara puing sebuah rumah, ia mendengar tangis bayi.

Bayi itu tergeletak di atas kain yang hangus di tepinya, tetapi kulitnya tak tergores sedikit pun. Di sekelilingnya, batu-batu kecil itu berdenyut lebih terang, membentuk lingkaran yang nyaris sempurna, seolah-olah sedang menjaganya.

Gadis itu mengangkatnya ke dalam dekapan. Tangis si bayi perlahan mereda.

“Sudah, sudah,” bisiknya. “Kita masih hidup. Itu artinya masih ada yang belum selesai.”

Di belakangnya, salah satu batu berhenti berdenyut, lalu padam.

 

-II-

 

Mataram, 31 Desember 2026

Lihat selengkapnya