Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #2

Bertemu Gadis di Tahun 2050

Mataram, 1 Januari 2050

 

Hal pertama yang kusadari adalah dingin logam yang menempel di pipi. Aku membuka mata dan mendapati diriku terbaring di sebuah bangku panjang berwarna perak, di tepi plaza yang luasnya bisa menampung tiga lapangan sepak bola. Langit di atasku berwarna jingga pucat, warna pagi yang terlalu panas untuk pagi. Udara berbau aneh, campuran ozon dan sesuatu yang manis, seperti bau mesin fotokopi yang baru dibersihkan.

Lalu aku mendongak lebih tinggi, dan napasku tertahan di tenggorokan. Gedung-gedung menjulang di sekeliling plaza, ramping dan berkilau, dindingnya dilapisi panel kaca yang berganti warna mengikuti arah matahari. Di antara puncak-puncaknya, kendaraan melayang dalam jalur-jalur rapi yang ditandai pelampung cahaya biru, berbelok tanpa suara, naik dan turun seperti ikan di dalam akuarium raksasa. Tidak ada klakson, tidak ada knalpot. Hanya dengung rendah yang samar, seakan seluruh kota sedang bersenandung dengan mulut tertutup.

Di tengah plaza berdiri sebuah menara yang tingginya menembus kabut tipis. Separuh badannya dibalut layar raksasa. Wajah seorang pembaca berita tersenyum di sana, sebesar gedung sepuluh lantai, sementara barisan huruf bergulir di bawahnya.

SELAMAT TAHUN BARU. SABTU, 1 JANUARI 2050. SUHU HARI INI: 37°C. JAM MALAM BERLAKU PUKUL 22.00.

Aku membaca baris itu tiga kali. Angkanya tidak berubah.

Ini mimpi. Pati ini mimpi.

Kucubit pipiku. Sakit. Kucubit lagi lebih keras, sampai mataku berair. Masih sakit, dan plaza itu masih ada, dan kendaraan-kendaraan itu masih melayang di atas kepalaku seolah gravitasi hanyalah bagian opsional dari bumi ini.

Dengan tangan gemetar, kurogoh saku celana. Ponselku masih di sana, retak kecil di sudut layarnya masih di tempat yang sama. Tidak ada sinyal. Jam di layar membeku pada angka 23.59. Kutekan tombol daya berkali-kali. Angkanya tetap di situ, keras kepala, seperti jam dinding Ayah yang berhenti di tengah ayunan.

Orang-orang berlalu-lalang di sekitarku tanpa menoleh. Pakaian mereka nyaris seragam, yaitu blazer ramping berwarna gelap, celana yang membungkus kaki dengan pas, sepatu tipis tanpa tali. Laki-laki dan perempuan sama-sama berambut rapi, dipotong tipis di sisi. Sebagian besar berjalan sambil menatap sesuatu di udara, tepat di depan mata mereka, layar-layar tembus pandang seukuran kartu pos yang hanya terlihat sebagai kilau samar dari tempatku duduk. Mereka berjalan cepat, berbicara sedikit, dan tidak ada satu pun yang tertawa.

Aku menunduk menatap kaus oblong abu-abu dan celana jin yang ujungnya kulipat karena kepanjangan. Kalau mereka semua adalah orang-orang dari masa depan, aku pasti terlihat seperti fosil yang lupa dikembalikan ke museum.

Kucoba mencari penjelasan. Aku ingat foto itu, jam yang berhenti, kembang api yang membeku, lorong cahaya. Aku pernah menonton film-film tentang perjalanan waktu, pernah membaca beberapa novel fiksi ilmiah yang tokohnya melompat ke masa depan dengan mesin yang berdenyut dan berasap. Aku tidak punya mesin. Aku hanya punya sofa butut, televisi tabung, dan keinginan konyol untuk bertemu seorang gadis kecil yang namanya tak bisa kuingat.

Sebuah bayangan jatuh di atas pangkuanku. Sesosok robot berdiri di depan bangku. Tingginya lebih dari dua meter, tubuhnya ramping dan putih susu, dengan satu garis cahaya biru melintang di tempat yang seharusnya ada mata. Di bahu kirinya tercetak lambang Pemerintah Kota Mataram. Ia tidak membawa senjata yang terlihat, tetapi caranya berdiri, tenang dan terlalu stabil, sudah cukup membuat lututku lemas.

“Selamat pagi,” katanya. Suaranya ramah, nyaris lembut, dan justru itulah yang membuatnya menyeramkan. “Pemindaian gagal mengenali identitas Anda. Mohon tunjukkan Gawai V3 Anda.”

“Gawai apa?”

Garis biru di wajahnya berkedip. “Tanpa Gawai V3 yang aktif, Anda akan dibawa ke Pusat Pendataan untuk verifikasi. Proses ini memerlukan waktu maksimal empat puluh delapan jam. Mohon tetap di tempat.”

Empat puluh delapan jam di sebuah pusat pendataan, menjelaskan kepada robot bahwa aku lahir tahun 2003 dan baru saja tertidur di sofa. Aku membayangkan diriku diperiksa, dipindai, lalu dimasukkan ke ruangan putih tanpa jendela. Tubuhku bergerak sebelum otakku memutuskan apa pun. Aku berdiri, mundur selangkah, dua langkah, lalu berbalik. Dan menabrak seseorang.

Sesuatu jatuh dan berguling di lantai plaza, sebuah tabung kecil berisi biji kopi. Aku refleks berjongkok untuk memungutnya, dan orang yang kutabrak ikut berjongkok, sehingga kepala kami nyaris berbenturan.

“M-maaf,” katanya. “Aku tidak lihat jalan.”

Seorang perempuan. Usianya mungkin awal dua puluhan. Ia mengenakan gaun putih sederhana, satu-satunya pakaian di plaza itu yang tidak berwarna gelap, dan rambut hitamnya dikuncir dengan pita kuning. Matanya sipit. Alisnya tipis dan lancip di ujung, seperti digoreskan dengan kuas yang sangat hati-hati. Hidungnya kecil dan lurus, pipinya bulat. Ketika ia mengangkat wajah dan menatapku, ada jeda yang terlalu panjang, satu detik, dua detik, seolah ia sedang membaca sesuatu yang tertulis di wajahku dengan huruf yang sudah lama tidak ia lihat.

Aku juga merasakannya. Sesuatu yang aneh dan hangat, seperti mendengar lagu lama di tempat asing.

“Mohon tetap di tempat,” ulang robot itu di belakangku.

Perempuan itu melirik robot, lalu melirikku, lalu melirik kaus dan celana jinku yang terlipat. Wajahnya berubah. Bukan takut, bukan juga curiga. Lebih seperti orang yang baru saja memutuskan sesuatu.

Ia berdiri dan mengangkat sebuah benda tipis dari tas jinjing kuningnya, kira-kira sebesar kartu nama, yang kemudian membuka sendiri menjadi selembar layar bening. “Dia bersamaku,” katanya kepada robot. “Sepupu dari desa. Gawainya rusak tadi malam. Aku yang menjamin.”

Garis biru di wajah robot itu menyapu layar, lalu menyapu wajah perempuan itu. Hening sejenak.

“Penjaminan diterima. Atas nama Andini, nomor identitas tercatat. Penjamin bertanggung jawab atas tamu tak terdaftar hingga verifikasi selesai. Batas penjaminan: empat belas hari.” Robot itu mengangguk kecil. “Selamat tahun baru. Semoga hari Anda produktif.”

Ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang sangat terukur. Aku baru sadar bahwa sejak tadi aku tidak bernapas.

“Terima kasih,” kataku akhirnya. Suaraku terdengar seperti orang yang baru selesai berlari. “Sungguh. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tidak lewat.”

“Kamu benar-benar tidak punya gawai?” tanyanya, setengah berbisik, seolah-olah itu sebuah aib.

“Aku bahkan tidak tahu itu apa.”

Ia menatapku lagi dengan cara yang sama, lama, menimbang-nimbang. Kemudian ia menunjuk ke seberang plaza, ke sebuah bangunan bergaya lama yang terjepit di antara dua gedung kaca, berdinding cokelat dengan papan kayu bertuliskan One Heart Cafe. “Kita bisa bicara di sana. Kamu kelihatan butuh duduk.”

Kafe. Dengan apa aku membayar? Uang kertas bergambar pahlawan yang mungkin sekarang hanya ada di museum?

“Bagaimana kalau di taman saja?” kataku cepat. “Kalau ada taman di dekat sini.”

Ia mengerjap, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit, seakan ia baru saja menebak alasanku dan memutuskan untuk tidak mengatakannya. “Ada. Lewat sini.”

 

Taman itu masih bernama Taman Udayana. Aku hampir tertawa ketika membaca papan namanya. Pohon-pohon trembesi tua yang dulu kulewati setiap pulang kerja sudah tidak ada, digantikan pohon-pohon peneduh berdaun lebar yang permukaannya berkilau keperakan. Kata Andini, daunnya direkayasa untuk memantulkan panas, dan memang di bawahnya udara terasa beberapa derajat lebih sejuk. Bangku-bangkunya terbuat dari logam yang dingin saat disentuh, dan di tengah taman, sebuah air mancur bundar menyemburkan air setinggi gedung lima lantai, lalu menangkapnya kembali tanpa setetes pun tumpah ke luar kolam.

Setiap beberapa menit, wajah seorang perempuan muncul dari kabut air itu, hologram yang tersenyum dan mengucapkan selamat datang kepada pengunjung baru. Aku menatapnya dengan mulut setengah terbuka sampai Andini menyikut lenganku pelan.

“Jangan menatapnya terlalu lama,” katanya. “Nanti dia mengira kamu mau mengajukan keluhan.”

Kami duduk di bangku sebelah utara air mancur. Aku memperkenalkan diri dengan nama lengkap, kebiasaan lama dari wawancara kerja yang sia-sia. “Galang Mahesa Prasetyo.”

Tangannya yang sudah separuh terulur berhenti di udara. Hanya sesaat, dan mungkin orang lain tidak akan memperhatikan. Tapi aku memperhatikan. Matanya melebar sedikit, bibirnya terbuka seperti hendak mengulang namaku, lalu menutup lagi. Kemudian ia menyambut tanganku. Telapak tangannya kecil dan dingin.

“Andini,” katanya. “Ayu Andini. Tapi semua orang memanggilku Andini.”

Nama itu masuk ke telingaku dan berhenti di sana, berputar-putar, seperti kunci yang dicoba di lubang yang hampir tepat. Hampir.

“Nama yang bagus,” kataku, karena aku tidak tahu harus berkata apa. Lalu kami sama-sama menyadari bahwa tangan kami masih bertaut, dan sama-sama melepaskannya dengan cepat.

Lihat selengkapnya