Aku terbangun karena aroma kopi, bukan karena alarm. Untuk beberapa detik aku tidak tahu di mana aku berada. Langit-langit putih tanpa lampu, cahaya pagi yang disaring jendela menjadi kebiruan, sofa yang terlalu empuk untuk disebut sofa. Lalu semuanya kembali sekaligus, seperti air yang menjebol bendungan: lorong cahaya, robot patroli, layar raksasa yang menyebut tahun 2050 dengan nada sesantai ramalan cuaca.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di dadaku. Layarnya masih menyala. Pukul 23.59. Baterainya enam puluh tiga persen, persis seperti yang kulihat sebelum tidur.
Ponsel tidak mungkin menyala semalaman tanpa berkurang satu persen pun.
“Selamat pagi, Mas Galang.” Suara itu turun dari langit-langit, lembut dan datar. “Suhu luar ruangan tiga puluh empat derajat dan akan terus naik. Kualitas udara sedang. Anda dianjurkan tidak berada di luar ruangan antara pukul sebelas dan pukul tiga sore.”
“Terima kasih,” jawabku refleks, lalu merasa konyol karena berterima kasih kepada sebuah rumah.
Andini berdiri di dapur dengan rambut diikat asal dan kaus abu-abu yang kebesaran. Pita kuningnya tidak ada. Tanpa pita itu ia terlihat lebih muda, atau lebih lelah, aku tidak yakin yang mana. Ia sedang menuang air panas ke atas bubuk kopi di dalam corong kertas, memutar teko dalam lingkaran-lingkaran kecil, seolah sedang menulis sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh air.
“Rumahmu memanggilku Mas,” kataku sambil bangkit.
“Semalam aku mendaftarkanmu sebagai tamu. Sapaannya dipilih sendiri berdasarkan perkiraan usia.” Ia melirikku dari balik bahu. “Jangan tersinggung. Aku dipanggil Kak.”
Aku duduk di kursi tinggi di seberang meja dapur. Cangkir yang ia sodorkan terasa hangat di telapak tanganku. Uapnya membawa aroma yang membuat dadaku sesak dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan sesak yang menyakitkan, tapi seperti ketika mendengar lagu yang dulu sering disenandungkan seseorang yang kini sudah tiada.
“Bagaimana tidurmu?” tanyanya.
“Nyenyak. Terlalu nyenyak, malah. Aku sempat berharap bangun di kamarku sendiri.”
“Dan?”
“Dan rumahmu memberitahuku suhu udara.”
Sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia menyesap kopinya sendiri, lalu melirik ponselku yang tergeletak di meja. “Masih pukul 23.59?”
Aku mengangguk dan menunjukkan angka baterainya. Senyum di wajah Andini perlahan memudar, digantikan raut yang kukenali dari semalam, raut seorang analis yang menemukan satu baris data yang tidak cocok dengan seluruh tabel.
“Benda-benda yang kamu bawa tidak ikut berjalan,” gumamnya. “Seperti… masih tertinggal di detik terakhir sebelum kamu melompat.”
“Itu buruk?”
“Aku tidak tahu.” Ia meletakkan cangkirnya. “Itu sebabnya Rizka datang.”
Maka Rizka datang pukul delapan lewat sedikit, dan ia tidak mengetuk. Pintu depan membuka sendiri begitu wajahnya terpindai, tanda Andini sudah lama memberinya akses. Seorang perempuan seusia Andini melangkah masuk dengan sepatu bot berdebu, rambut hitam sebahu yang dipotong lurus seperti digaris penggaris, dan tas selempang yang tampak lebih berat daripada tubuhnya. Kulitnya pucat, khas orang yang lebih sering bergaul dengan layar daripada dengan matahari. Ia melepas kacamata hitamnya, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu berkata tanpa salam.
“Jadi ini sepupumu dari desa.”
“Rizka,” tegur Andini.
“Aku cuma mengulang yang tertulis di laporan penjaminanmu.” Rizka menjatuhkan tasnya ke sofa, tepat di tempat aku tidur semalam. “Kamu tahu berapa orang yang membuka laporan penjaminan setiap hari? Nol. Kecuali kalau penjaminnya analis arsip yang tidak pernah menjamin siapa pun selama empat tahun bekerja. Keganjilan kecil seperti itu bisa membuat seseorang tertarik.”
Andini menegang. “Ada yang membacanya?”
“Belum. Aku yang membacanya. Itu intinya.” Rizka mengeluarkan gawainya, lempengan tipis yang terlipat dua, lalu membukanya menjadi layar selebar buku tulis. “Nah, Sepupu. Berdiri di sana sebentar.”
Aku menurut sebelum sempat bertanya kenapa. Ia mengarahkan gawainya kepadaku, dan seberkas cahaya kehijauan menyapu tubuhku dari atas ke bawah, seperti mesin fotokopi yang sangat sopan.
“Tidak ada cip identitas. Tidak ada riwayat vaksin. Tidak ada jejak biometrik di basis data mana pun yang bisa kujangkau tanpa melanggar hukum, juga di beberapa yang hanya bisa kujangkau dengan melanggar hukum.” Ia menurunkan gawainya. “Secara digital, kamu tidak pernah lahir.”
“Aku lahir di Rumah Sakit Umum Mataram,” kataku. “Tahun 2003. Kalau itu membantu.”
“Tidak membantu sama sekali.” Rizka duduk di lengan sofa dan menyilangkan kaki. “Baiklah. Aku punya beberapa pertanyaan. Jawab cepat, jangan berpikir.”
Ia mulai menembakkan pertanyaan seperti peluru. Berapa harga paket data sebulan di tahun 2026? Negara mana yang menjuarai Piala Dunia tahun itu? Aplikasi apa yang paling sering dipakai untuk memesan ojek? Lagu apa yang diputar di setiap mal sampai orang muak mendengarnya? Aku menjawab sebisanya. Beberapa jawabanku membuatnya mengernyit, beberapa membuatnya mengetik sesuatu, dan satu jawaban, entah yang mana, membuatnya tersenyum tipis tanpa sadar.
“Terakhir,” katanya. “Berikan ponselmu.”
Aku menyerahkannya. Rizka membolak-balik benda itu seperti arkeolog memegang pecahan tembikar. Ia mengetuk layarnya, menggeser menu, mencoba memaksanya menyala ulang. Ponselku menolak. Angka di sudut layar tetap 23.59, dan baterainya tetap enam puluh tiga persen.
“Ini tidak masuk akal,” gumamnya, dan untuk pertama kali suaranya tidak terdengar menyindir. “Prosesornya bekerja. Layarnya menyala. Tapi jam internalnya tidak bergerak dan baterainya tidak berkurang. Seolah-olah waktu di dalam benda ini…” Ia mencari kata.
“Membeku,” kata Andini pelan.
“Tertahan,” koreksi Rizka. “Membeku itu kata untuk air.” Ia mengembalikan ponselku, dan aku sempat melihat jemarinya gemetar sebelum ia menyembunyikannya di saku jaket. “Oke. Aku tidak bilang aku percaya. Tapi aku juga tidak bisa menjelaskan ini dengan cara lain, dan aku benci kalau tidak bisa menjelaskan sesuatu.”
“Itu artinya dia percaya,” kata Andini kepadaku.
“Itu artinya aku penasaran,” sahut Rizka. “Beda.”
Kami bertiga duduk mengelilingi meja dapur, dan Andini membuat kopi lagi. Kali ini Rizka meminumnya tanpa berkomentar, yang menurut Andini adalah pujian tertinggi yang pernah keluar dari mulut sahabatnya.
“Masalahnya begini,” kata Rizka sambil mengetuk meja dengan ujung jari. “Kalau kamu benar-benar dari 2026, keberadaanmu di sini adalah pelanggaran. Bukan pelanggaran hukum. Pelanggaran logika. Pernah dengar paradoks kakek?”