Pukul setengah sembilan pagi, Mataram bergerak seperti satu tubuh raksasa yang bernapas dengan irama yang sama. Aku tidak menyadarinya kemarin, mungkin karena hari itu tanggal merah. Pagi ini lain. Begitu kami keluar dari kompleks, jalur pejalan kaki di sepanjang jalan utama sudah dipenuhi orang yang melangkah dengan kecepatan nyaris seragam. Garis-garis cahaya di permukaan trotoar berganti warna setiap beberapa detik, hijau, biru, hijau lagi, dan orang-orang berpindah jalur mengikutinya tanpa menoleh, tanpa bertabrakan, tanpa berbicara. Masing-masing menatap gawai di tangan atau lensa tipis di depan mata. Tidak ada yang tergesa-gesa. Tidak ada pula yang terlambat.
“Jadwal Warga,” kata Andini di sampingku, setengah berbisik. “Setiap orang punya jam berangkat sendiri. Jalurnya diatur supaya arus tidak pernah menumpuk.”
“Dan kita?”
“Kita sedang cuti.” Ia menyentuh pergelangan tanganku sekilas. “Tetap dekat denganku. Tanpa gawai, kamu hanya terbaca sebagai tamu dalam radius penjaminku. Kalau kamu terpisah lebih dari tiga puluh meter, robot patroli akan menganggapmu tersesat. Atau penyusup.”
Aku menempel padanya seperti anak kecil di pasar malam. Rizka berjalan beberapa langkah di depan, tasnya berayun di pinggul, sesekali menoleh untuk memastikan kami tidak tertelan arus.
Kami berbelok ke arah barat, dan pelan-pelan menara-menara kaca menyusut, digantikan bangunan-bangunan rendah berdinding tebal dengan jendela tinggi berbingkai kayu. Aku melambat. Ada sesuatu yang kukenal dari bentuk atap-atap itu, dari lengkung pintu dan tiang-tiang yang dicat putih kusam.
“Ini Ampenan,” kataku.
“Kota Tua Ampenan,” koreksi Rizka tanpa menoleh. “Kawasan cagar budaya. Satu-satunya bagian kota yang dilarang dibongkar. Orang suka ke sini kalau ingin merasa hidup di zaman dulu.”
Zaman dulu. Aku menelan ludah. Tiga hari lalu, menurut tubuhku, aku masih bersepeda motor melewati jalan ini untuk membeli rokok. Dulu bangunan-bangunan ini berdebu dan sebagian kosong, dengan papan nama toko yang catnya mengelupas. Sekarang semuanya bersih, sangat bersih, seperti kenangan yang dipoles sampai kehilangan baunya.
Rizka berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai di sudut jalan. Papan namanya berupa huruf-huruf hologram yang melayang di atas pintu: One Heart Cafe. Aku menatap bangunan itu lama sekali.
“Kenapa?” tanya Andini.
“Dulu ini toko kelontong,” jawabku. “Pemiliknya Pak Haji yang galak. Aku sering membeli es di sini waktu kecil. Bersama…”
Kalimatku putus. Ada seseorang di ujung ingatan itu, seseorang yang menggandeng tanganku, yang selalu memilih es rasa stroberi. Namun ketika aku mencoba menoleh ke arahnya di dalam kepalaku, sosok itu sudah tidak ada.
“Bersama siapa?” tanya Andini pelan.
“Aku lupa.” Aku tersenyum agar terdengar ringan. Kedengarannya tidak ringan sama sekali.
Di dalam, One Heart Cafe terasa seperti tempat dua zaman sedang berdebat dan tidak ada yang mau mengalah. Lantai tegelnya masih lantai tegel lama dengan motif bunga yang pudar. Langit-langitnya tinggi, dengan kipas kayu berputar malas. Tetapi di balik meja panjang, dua lengan robot berwarna tembaga bekerja tanpa henti, menggiling, menakar, menuang, dan menyerahkan gelas kepada pelanggan yang bahkan tidak mengangkat kepala dari gawai mereka. Hampir semua meja penuh. Orang-orang duduk sendirian di depan layar masing-masing, ditemani minuman yang mengepul dan dengung percakapan yang tidak pernah lebih keras dari bisikan.
“Kenapa di sini?” tanyaku ketika kami mendapat meja di pojok lantai dua, dekat jendela besar yang menghadap ke arah laut.
“Jaringan terbuka kota paling ramai di kawasan ini,” jawab Rizka sambil membuka gawainya. “Ratusan orang tersambung sekaligus, semua mengirim dan menerima data. Kalau kamu mau menyembunyikan satu daun, sembunyikan di hutan.”
“Kalau kamu mau menyembunyikan satu peretas,” gumam Andini, “sembunyikan di kafe.”
“Konsultan keamanan independen,” kata Rizka datar.
Ia bekerja dengan cepat. Gawainya membentang menjadi tiga layar tipis yang hanya bisa dilihat dari sudut tempat kami duduk; dari meja lain, kata Rizka, yang terlihat hanyalah seorang perempuan yang sedang membaca berita. Andini duduk di sebelahnya, punggung tegak, kedua tangan di pangkuan, seperti orang yang menunggu dipanggil masuk ke ruang dokter.
“Oke,” kata Rizka. “Andini, masuk seperti biasa. Kerjakan sesuatu yang membosankan. Periksa laporan harian. Apa saja.”
Andini menatap layar kecilnya. Seberkas cahaya membaca wajahnya, lalu jempolnya menekan sudut layar. Sebuah antarmuka berwarna biru tua muncul, dengan lambang Arsip Kependudukan Kota di pojok kiri atas, sebuah lingkaran yang dibelah garis-garis tipis seperti lapisan batang pohon.
“Aku masuk,” bisiknya.
“Bagus. Jangan bergerak terlalu cepat.” Jemari Rizka menari di atas layarnya sendiri. Aku tidak mengerti sebagian besar dari yang ia lakukan, tetapi ia menjelaskannya sambil bekerja, mungkin untuk menenangkan Andini, mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri. “Setiap kali kamu masuk, sistem memberimu semacam tiket. Tiket itu menyatakan siapa kamu dan pintu mana saja yang boleh kamu buka. Aku tidak mencuri tiketmu. Aku cuma membuat bayangannya. Selama kamu masih di dalam, bayanganku berdiri tepat di belakangmu, dan penjaga pintu mengira kami satu orang.”
“Dan pintu lapisan dalam?” tanyaku.
“Pintu lapisan dalam tidak percaya pada tiket siapa pun.” Ia menyeringai tipis. “Tapi ia percaya pada pembaruan rutin. Setiap pagi, ada proses otomatis yang menyalin data dari lapisan dalam ke lapisan tengah untuk keperluan laporan. Proses itu tidak pernah diperiksa, karena dianggap bagian dari sistem itu sendiri. Aku tinggal menumpang di dalamnya.”
Di layar Rizka, deretan baris teks bergulir semakin cepat. Sesekali ada kotak merah yang muncul lalu menghilang. Andini menahan napas setiap kali itu terjadi. Aku menyadari bahwa aku juga menahan napas.
“Masuk,” kata Rizka akhirnya. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Sebuah kolom pencarian muncul. Polos, putih, tanpa hiasan, seperti pintu yang terbuka ke ruangan yang sangat besar dan sangat gelap.
“Nama lengkap,” kata Rizka.
“Galang Mahesa Prasetyo,” jawabku.
Ia mengetik. Sistem berpikir sejenak, lalu memuntahkan daftar. Ada empat belas Galang Mahesa Prasetyo yang pernah tercatat di Pulau Lombok. Rizka menyaring tahun lahir: 2003. Tiga nama tersisa. Ia menyaring tempat lahir: Mataram.
Satu.
Rizka tidak langsung membukanya. Ia menoleh kepadaku, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, tidak ada sindiran di wajahnya. “Kamu siap?”