Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #5

Bertemu Diriku di Masa Depan

Mataram, 4 Januari 2050

Kota belum bangun ketika kami berangkat, tetapi kota ini memang tidak pernah benar-benar tidur, hanya meredupkan diri. Pukul lima lewat seperempat, lampu-lampu jalan masih menyala dalam warna biru pucat yang menandakan jam malam belum dicabut. Drone patroli melintas rendah di atas atap rumah-rumah yang serupa, berdengung seperti lebah yang kehilangan arah. Andini berjalan setengah langkah di depanku dengan tas punggung kecil dan sebuah toples kaca berisi bubuk kopi yang dibungkus kain. Ia membawanya seperti orang membawa jimat.

“Untuk apa itu?” tanyaku.

“Oleh-oleh.” Ia tidak menoleh. “Tidak sopan datang ke rumah orang dengan tangan kosong.”

“Kamu membawa kopi untuk petani kopi?”

“Kopi ini darinya.” Ia mengangkat toples itu sedikit, cukup agar aku bisa membaca label cokelat yang ditulis tangan di sisinya. Kebun M. Tebilin. Tidak ada logo, tidak ada kode batang, tidak ada nomor izin edar seperti produk lain di kota ini. “Aku ingin dia tahu bahwa ada orang di kota yang benar-benar meminumnya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ada sesuatu yang ganjil dalam membayangkan diriku sendiri, dua puluh empat tahun lebih tua, menulis label itu dengan tangan yang sama dengan tangan yang kini kumasukkan ke saku jaket. Huruf W di sana miring ke kanan, persis seperti tulisanku di buku catatan kantor yang sekarang entah di mana, tertinggal di tahun yang mungkin sudah tidak mengingatku.

Stasiun kereta layang terletak di lantai lima puluh sebuah menara di pinggir Cakranegara. Lift kaca membawa kami naik tanpa guncangan sedikit pun, dan di setiap lantai yang terlewati aku melihat potongan-potongan kehidupan yang belum sempat kupahami. Satu lantai penuh rak tanaman yang disinari lampu ungu. Satu lantai lagi berisi deretan kapsul tidur bagi pekerja yang pulang terlalu larut untuk mencapai rumah sebelum jam malam. Lalu lantai yang gelap seluruhnya, kecuali satu tulisan merah di dinding: Pusat Data Wilayah. Akses Terbatas.

Andini menundukkan kepala ketika kami melewati lantai itu. Gerakannya kecil sekali, nyaris tidak terlihat, tetapi aku sudah mulai belajar membaca bahasa tubuhnya.

“Ada apa?”

“Tidak ada.” Ia menyentuh Gawai V3 di pergelangan tangannya, lalu cepat-cepat menutup layarnya. Aku sempat melihat sebaris tulisan sebelum layar itu padam. Pemberitahuan: peninjauan akses rutin dijadwalkan. “Hanya pengingat kantor.”

Pengingat kantor tidak membuat orang menahan napas.

Aku tidak mendesaknya. Kemarin di One Heart Cafe, Andini menatap fotonya sendiri sebagai gadis kecil berkepang di layar Rizka, dan sejak itu ada bagian dari dirinya yang seperti dikunci dari dalam. Aku tahu rasanya. Aku juga punya ruangan seperti itu di kepalaku, ruangan yang pintunya menempel pada malam ketika ayahku meninggal. Mendobrak pintu orang lain tidak pernah membuat pintu kita sendiri terbuka.

 

Kereta magnetik layang itu tidak berbunyi ketika datang. Ia hanya muncul, ramping dan putih, meluncur di atas rel tunggal yang menggantung di udara seperti seutas benang perak. Tidak ada roda maupun gesekan. Pintunya terbuka dengan desis lembut, dan suara perempuan yang sangat ramah menyambut kami dalam tiga bahasa.

Gerbong itu hampir kosong. Di jam seperti ini, menurut Andini, hanya ada dua jenis penumpang yang menuju utara, yaitu petugas distribusi pangan dan orang-orang yang tidak punya urusan resmi di mana pun. Kami jelas termasuk golongan kedua. Kartu prabayar tanpa nama yang dibelikan Rizka untukku berbunyi hijau di pemindai, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di tahun ini, sebuah mesin menerimaku tanpa bertanya siapa aku.

Kereta melaju. Kota terlepas dari bawah kami seperti peta yang digulung. Dari ketinggian ini aku bisa melihat seluruh Mataram yang baru. Menara-menara pangan vertikal berdiri berjajar di bekas sawah, masing-masing setinggi tiga puluh lantai, dindingnya berkilau hijau oleh daun-daun yang tumbuh di dalamnya. Di sepanjang pantai Ampenan, laut tidak lagi biru, tapi bergaris-garis cokelat kehijauan, petak-petak budidaya ganggang yang membentang sampai kaki langit, dijaga pelampung-pelampung kuning yang berkedip. Atap-atap rumah tertutup membran surya yang menghitam di bawah cahaya pagi. Semuanya rapi, dan efisien. Tidak ada satu pun yang tampak seperti kota tempat aku tumbuh besar.

“Dulu di sana ada pasar,” kataku sambil menunjuk sebuah lapangan beton yang dipenuhi kendaraan logistik. “Pasar Kebon Roek. Ayahku suka membeli ikan di sana setiap Minggu pagi. Baunya bisa tercium sampai tiga gang.”

Andini mengikuti arah telunjukku. “Dibongkar waktu Penataan Besar,” katanya. “Semua pasar basah dibongkar. Katanya tidak higienis.”

“Dan orang-orang menurut saja?”

“Tidak.” Ia diam sejenak. “Itulah sebabnya ada kerusuhan.”

Kami melewati bekas jalan raya yang kini dijadikan jalur drone. Kereta berbelok ke utara, dan menara-menara mulai jarang. Sawah kembali muncul, tetapi sawah yang aneh, dipayungi jaring-jaring hitam dan diawasi tiang sensor di setiap petak. Lalu hutan. Lalu bukit. Lalu, di kejauhan, bayangan Rinjani yang masih berselimut kabut, persis seperti yang kuingat dari masa kecil. Gunung itu satu-satunya hal yang tidak berubah.

Sesuatu di dadaku mengendur ketika melihatnya. Sejak tiba di tahun ini, aku selalu merasakan tarikan halus di bawah tulang dada, seperti ada tali tak kasatmata yang mengikatku ke suatu titik di belakang punggung. Kemarin tarikan itu menguat ketika ponselku berkedip di antara 23.59 dan 00.00. Pagi ini, semakin jauh kereta menjauhi kota, semakin longgar rasanya. Aku menarik ponsel dari saku. Layarnya masih menunjukkan angka yang sama, tertahan di detik terakhir tahun 2026, tetapi untuk pertama kalinya angka itu tidak bergetar.

“Kamu pucat,” kata Andini.

“Justru sebaliknya. Aku merasa lebih ringan.”

Ia menatapku lama, lalu menatap tangan kiriku. Aku ikut menatapnya. Kemarin, selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam, ujung jari-jari itu sempat memudar seperti foto yang terlalu lama terpapar matahari. Sekarang tangan itu utuh, kulitnya cokelat dan berurat, kuku jempolnya masih menyimpan bekas terjepit pintu lemari server dua bulan lalu. Dua bulan lalu menurut tubuhku. Dua puluh tiga tahun lalu menurut dunia.

“Rizka bilang ada teori tentang ini,” kata Andini pelan. “Bahwa orang yang tertahan di luar waktunya lebih stabil di tempat yang sepi dari gangguan. Tempat tanpa jaringan, tanpa pemancar. Dia menyebutnya kebisingan elektromagnetik.”

“Dan Tebilin tidak punya jaringan.”

“Tebilin satu-satunya desa di pulau ini yang tidak punya jaringan.” Andini memeluk toples kopinya lebih erat. “Dan aku baru menyadari, setelah bertahun-tahun meminum kopinya, bahwa aku tidak pernah bertanya kenapa.”

 

Stasiun terakhir bernama Bayan Utara, dan itu lebih mirip pos perbatasan daripada stasiun. Peronnya pendek, dindingnya polos, dan di ujung tangga turun terdapat sebuah gerbang besi yang dicat kuning dengan papan peringatan berukuran besar.

Anda memasuki Kawasan Khusus Tebilin. Layanan jaringan tidak tersedia di luar titik ini. Gawai akan beralih ke mode luring. Pemerintah Wilayah tidak bertanggung jawab atas kehilangan data.

Seorang petugas berseragam abu-abu duduk di balik kaca, memindai gawai Andini dengan wajah bosan. Ia tidak memindaiku, karena aku tidak punya apa pun untuk dipindai. Ia hanya melirik, lalu kembali menatap layarnya. Untuk sesaat aku mengira ia akan menghentikan kami. Ternyata tidak. Mungkin di tempat ini, orang tanpa identitas bukan hal yang luar biasa. Atau mungkin ia sudah terlalu lama bekerja di ujung dunia untuk peduli.

Ketika kami melangkah melewati gerbang kuning itu, Gawai V3 di pergelangan Andini berbunyi tiga kali, lalu layarnya meredup menjadi abu-abu. Andini menatapnya seperti orang menatap jam tangan yang mati.

“Pertama kalinya?” tanyaku.

“Pertama kalinya sejak umurku sepuluh tahun aku tidak tersambung ke apa pun.” Ia tertawa kecil, gugup. “Rasanya seperti telanjang.”

Lihat selengkapnya