Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #6

Hukum Gerbang

Desa Tebilin, malam 4 Januari 2050

Malam di Tebilin turun seperti selimut yang ditarik dari puncak gunung. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada cahaya biru jam malam, tidak ada dengung drone, tidak ada layar raksasa yang mengumumkan suhu dan jadwal. Yang ada hanya pelita minyak di jendela-jendela rumah panggung, nyala tungku di dapur Mahesa, dan langit. Langit yang membuatku berhenti di tengah beranda dengan kepala mendongak dan mulut terbuka seperti bocah.

Bintangnya sangat banyak. Di kota, langit selalu berwarna jingga kotor, dipantulkan oleh jutaan lampu dan membran surya. Di sini, Bima Sakti membentang dari satu ujung lembah ke ujung lainnya seperti sungai susu yang tumpah, dan di antara bintang-bintang itu sesekali melintas titik-titik cahaya yang bergerak lurus. Satelit banyak sekali.

“Dulu juga sebanyak ini?” tanya Andini. Ia duduk di anak tangga beranda dengan selimut tenun membungkus bahunya. Di tangannya ada cangkir kopi ketiga malam itu.

“Bintangnya, ya,” jawabku. “Satelitnya tidak.”

Mahesa keluar dari dalam rumah membawa sebuah kotak kayu kecil dan sebatang pelita. Ia meletakkan keduanya di atas meja rendah di beranda, lalu duduk bersila di atas tikar pandan dengan gerakan lambat orang yang lututnya sudah tidak muda lagi. Bunyi jam pendulum dari dalam rumah terdengar jelas di keheningan, detak demi detak, seolah ikut menunggu.

“Duduklah,” katanya. “Kalian berdua. Apa yang akan kuceritakan malam ini tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun selama dua puluh empat tahun. Tidak kepada penduduk desa ini, tidak kepada pemerintah yang memberiku izin tinggal di sini, tidak kepada siapa pun. Kecuali kepada diriku sendiri. Dua kali.”

“Dua kali?” tanyaku.

“Sekali ketika aku duduk di tempatmu duduk sekarang, dan sekali malam ini.” Ia tersenyum tipis. “Jangan pikirkan terlalu dalam. Kepalamu akan sakit.”

 

Mahesa membuka kotak kayu itu. Di dalamnya, di atas alas kain beludru yang sudah usang, tergeletak sebongkah batu seukuran ibu jari. Bentuknya tidak beraturan, permukaannya kasar dan kehitaman seperti arang, tetapi di celah-celahnya ada sesuatu yang berpendar. Cahaya hijau yang sangat redup, nyaris tidak terlihat, berdenyut perlahan seperti bara yang hampir padam.

Jantung kedua di dadaku langsung menjawab. Denyutnya menyesuaikan diri dengan denyut batu itu, seirama, seperti dua garpu tala yang dipukul bersamaan.

Andini mendekat. “Apa itu?”

“Pecahan,” kata Mahesa. “Satu dari ribuan pecahan yang tersebar di lereng ini. Kebanyakan sudah mati. Yang ini masih menyimpan sedikit sisa.” Ia mengangkat batu itu dengan dua jari dan mendekatkannya ke pelita. “Pada malam tanggal sembilan belas Oktober 1980, sebuah benda jatuh dari langit di lereng utara Rinjani. Orang-orang dusun mengira bulan terbit dua kali. Ilmuwan yang datang belakangan menyebutnya meteorit. Mereka salah. Itu bukan batu biasa yang kebetulan jatuh ke bumi.”

“Lalu apa?”

“Aku tidak tahu persis,” jawabnya jujur. “Tidak ada yang tahu. Tapi aku tahu apa yang ada di dalamnya.” Ia meletakkan batu itu kembali ke kotak. “Kamu tahu apa itu foton, Nak Andini?”

“Partikel cahaya.”

“Bagus. Cahaya punya partikelnya sendiri. Gravitasi, menurut sebagian ilmuwan, juga punya. Nah, batu-batu ini menyimpan partikel lain. Partikel yang membawa waktu.” Ia mengetuk tutup kotak dengan ujung jari. “Aku menyebutnya kronon, meniru sebuah istilah lama dari buku fisika yang hampir tidak ada yang membacanya. Bayangkan waktu bukan sebagai sungai yang mengalir, tapi sebagai kain yang ditenun. Setiap benang adalah satu kejadian, satu detik, satu napas. Kronon adalah serat paling halus dari kain itu. Dan batu-batu ini, entah bagaimana, menyimpan serat itu dalam keadaan terlepas. Bebas. Bisa digerakkan.”

Andini menatap batu itu seperti menatap teka-teki yang sudah lama ia cari jawabannya. “Di Divisi Kronologi,” katanya pelan, “kami punya istilah untuk data yang tidak sesuai dengan urutan waktu. Kelahiran yang tercatat setelah kematian. Rekaman kamera yang menunjukkan orang berada di dua tempat sekaligus. Kami menyebutnya anomali kronologis. Atasan bilang itu hanya kesalahan sistem. Kami diperintahkan menandai, mengarsipkan, lalu melupakannya.”

“Berapa banyak anomali seperti itu?” tanya Mahesa.

“Sedikit. Satu atau dua setiap tahun.” Andini menelan ludah. “Tapi hampir semuanya berasal dari pulau ini.”

Mahesa mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia duga sejak lama.

 

“Batu yang jatuh pada tahun 1980 itu tidak utuh,” lanjut Mahesa. “Batu itu pecah di udara dan menghujani lereng ini dengan ribuan pecahan. Sebagian besar hanya menyimpan satu jenis cahaya. Tapi ada beberapa, sangat sedikit, yang menyimpan dua. Hijau dan kuning.”

Ia mengangkat dua jari.

“Cahaya hijau adalah Penggerak, yang mendorong, yang membuat kronon di sekitarmu berlari lebih cepat atau lebih lambat dari kronon di sekelilingnya. Itulah yang kamu lihat tadi siang, ketika cangkir itu berhenti di udara. Waktu tidak benar-benar berhenti. Aku hanya mempercepat waktuku sendiri sedemikian rupa sehingga dunia di luar diriku seakan membeku. Bagi Andini, seluruh kejadian itu berlangsung kurang dari sekedip mata.”

“Dan cahaya kuning?”

“Jangkar.” Mahesa menatapku lurus. “Cahaya kuning menahan, yang mengikat seseorang pada satu titik di kain waktu, sehingga ia tidak hanyut. Tanpa jangkar, Penggerak hanya akan membuatmu terlempar ke sana kemari seperti daun di tengah badai. Itulah yang terjadi padamu.”

Aku menegakkan punggung. “Padaku?”

“Kamu membawa cahaya hijau di dalam tubuhmu, Galang. Kamu mewarisinya. Kamu membawanya sejak lahir, sama sepertiku, karena kita adalah orang yang sama.” Ia diam sejenak. “Pada malam pergantian tahun itu, kamu sedang berada di titik terendah hidupmu. Dipecat, ditinggalkan, kesepian. Lalu kamu membuat permohonan dengan seluruh hatimu. Ingin bertemu gadis di foto itu. Perasaan sekuat itu bisa membangunkan Penggerak yang sedang tidur. Dan Penggerak yang bangun tanpa jangkar akan melemparmu ke mana pun hatimu menunjuk.”

“Ke tahun 2050.”

“Ke tempat gadis itu berada.”

Aku tidak berani menoleh ke arah Andini. Aku hanya mendengar napasnya tertahan sejenak di sebelahku, lalu cangkir kopinya diletakkan di lantai papan dengan bunyi pelan.

Gadis di foto itu. Dia mengatakannya seolah gadis itu ada di sini.

Aku ingin bertanya, tetapi Mahesa sudah melanjutkan, dan nadanya membuatku tahu ia tidak akan menjawab pertanyaan itu malam ini.

“Masalahnya, kamu tidak punya jangkar. Kamu tidak benar-benar berada di tahun ini. Kamu tertahan, seperti batu yang dilempar ke udara dan belum jatuh. Tubuhmu masih terikat pada malam 31 Desember 2026 dengan seutas benang kronon yang sangat tipis. Itu yang kamu rasakan di dadamu, tarikan ke belakang itu. Ponselmu juga merasakannya, membawa jejak waktu asalmu, karena itulah jamnya berhenti di 23.59.”

“Dan benang itu,” kata Andini, suaranya kecil, “akan menariknya pulang.”

“Cepat atau lambat.”

“Berapa lama?” tanyaku.

Lihat selengkapnya