Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #7

Membangkitkan Kekuatan

Desa Tebilin, 5 Januari 2050

Batu datar itu lebih dingin daripada yang kuduga. Aku duduk bersila di atasnya sebelum matahari terbit, persis seperti yang diperintahkan Mahesa, dengan sarung pinjaman membungkus bahu dan embun membasahi celana. Di bawahku, lembah masih tenggelam dalam kabut. Di atasku, bintang-bintang terakhir memudar satu per satu, seperti lampu kota yang dimatikan menjelang pagi. Pohon-pohon kopi di sekeliling batu berdiri diam, daunnya berkilau basah.

“Pejamkan mata,” kata Mahesa. Ia duduk di atas sebatang kayu tumbang tiga langkah di belakangku. “Lalu dengarkan.”

“Dengarkan apa?”

“Semuanya. Sampai kamu menemukan sesuatu yang bukan suara.”

Aku memejamkan mata. Aku mendengar burung-burung pertama yang terbangun di hutan pinus. Aku mendengar air menetes dari daun ke tanah. Aku mendengar napasku sendiri, terlalu cepat, dan jantungku yang berdetak seperti orang yang baru naik tangga. Aku mendengar nyamuk berdenging di dekat telinga kiri, lalu telinga kanan, lalu kembali ke telinga kiri, dan aku mendengar diriku sendiri memaki dalam hati.

Aku tidak mendengar sesuatu yang bukan suara.

“Aku tidak mendengar apa-apa,” kataku setelah sepuluh menit.

“Bohong. Kamu mendengar terlalu banyak.” Suara Mahesa terdengar sabar, tetapi kesabaran yang sudah diasah oleh banyak kekecewaan. “Kamu mendengar nyamuk. Kamu mendengar pikiranmu sendiri tentang nyamuk itu. Kamu mendengar dirimu bertanya-tanya apakah kamu melakukan ini dengan benar. Itu semua kebisingan. Di kota, kebisingannya datang dari luar. Di sini, kamu membawanya dari dalam.”

Aku membuka mata dan menoleh. Di sebelah Mahesa, Andini duduk dengan sebuah buku catatan bersampul kain di pangkuan, buku kertas sungguhan yang ia pinjam dari rak Mahesa. Gawainya mati sejak kemarin, dan rupanya seorang analis data tidak bisa hidup tanpa mencatat sesuatu. Ia menulis dengan pensil, dahi berkerut, dan ketika menyadari aku menatapnya, ia mengangkat buku itu sedikit.

“Percobaan pertama,” katanya. “Durasi sebelas menit empat puluh detik. Hasil: nol. Keluhan: nyamuk.”

“Kamu mencatat keluhanku?”

“Semua variabel penting.” Ia tersenyum polos. “Ayo, percobaan kedua.”

 

Percobaan kedua gagal. Begitu juga yang ketiga, keempat, dan seterusnya sampai matahari berada tepat di atas kepala dan batu datar itu berubah dari dingin menjadi panas.

Mahesa tidak banyak bicara. Setiap kali aku membuka mata dengan wajah putus asa, ia hanya mengangguk ke arah batu dan berkata, “Lagi.” Sesekali ia memberi petunjuk, tetapi petunjuk itu lebih mirip teka-teki. Bernapaslah seperti pohon. Jangan cari, biarkan ia datang. Waktu tidak berbunyi, waktu berdenyut.

“Pohon tidak bernapas,” protesku ketika kami beristirahat makan siang di beranda. Nasi jagung, sayur pakis, dan ikan asin. Makanan sungguhan. Aku menghabiskan dua piring sebelum sadar bahwa aku sedang marah.

“Pohon bernapas,” kata Andini. “Lewat stomata. Lambat sekali. Satu siklus penuh bisa berlangsung seharian.” Ia menatap Mahesa. “Itu maksud Bapak, kan? Ritmenya. Bukan napasnya.”

Mahesa mengangkat alis, lalu menatapku. “Kamu dengar? Dia lebih cepat paham daripada kamu.”

“Dia tidak harus melakukannya.”

“Itulah sebabnya dia lebih cepat paham.”

Aku menunduk di atas piringku dan menahan diri untuk tidak melempar ikan asin ke arah diriku sendiri yang dua puluh empat tahun lebih tua. Ada sesuatu yang sangat menjengkelkan saat dinasihati oleh orang yang tahu persis betapa keras kepalanya dirimu, karena ia sendiri dulu sama keras kepalanya.

Sore harinya, Mahesa mengajakku berjalan ke hutan pinus di atas kebun. Kami mendaki dalam diam selama setengah jam, sampai tiba di sebuah tempat di mana pohon-pohon tumbuh lebih jarang dan tanahnya berwarna lebih gelap, nyaris hitam. Di sela akar-akar pinus, aku melihat bongkahan-bongkahan batu kecil seperti arang yang berserakan.

“Di sinilah dulu dusun itu berdiri,” kata Mahesa. “Sebelum malam tahun 1980.”

Aku memungut sebongkah batu. Ringan, berpori, dingin. Tidak berpendar sama sekali.

“Mati,” kata Mahesa. “Semua yang di permukaan sudah mati. Cahayanya habis dalam beberapa tahun pertama. Tapi lihat tanahnya. Tidak ada rumput yang tumbuh di atas tanah hitam ini, bahkan setelah tujuh puluh tahun. Dan pohon-pohon pinus di sekitar sini,” ia menepuk sebatang batang yang besar, “umurnya tidak lebih dari tiga puluh tahun, tetapi lihat besarnya. Waktu di tempat ini tidak pernah benar-benar normal.”

Aku meletakkan batu itu kembali dengan hati-hati, seperti meletakkan tulang orang mati.

 

-II-

 

6 Januari 2050

Hari kedua lebih buruk daripada hari pertama, karena di hari kedua aku mulai mencoba terlalu keras. Aku tidak lagi mendengarkan. Aku mendorong, memusatkan seluruh perhatian pada jantung kedua di bawah tulang dadaku, denyut hangat yang kurasakan ketika Mahesa menghentikan cangkir di udara, dan aku memerasnya seperti memeras handuk basah. Aku menggertakkan gigi, menahan napas sampai telingaku berdenging. Aku memerintahkan waktu untuk berhenti, seolah waktu adalah anjing yang bisa dibentak.

Sesuatu memang terjadi, tetapi bukan yang kuinginkan. Ketika aku membuka mata dengan napas tersengal, Andini sudah berdiri. Pensilnya jatuh ke tanah. Ia menatap ke sekeliling batu, dan aku mengikuti arah tatapannya.

Pohon-pohon kopi di sekitarku layu. Tidak semuanya. Hanya yang berada dalam lingkaran kira-kira dua meter dari batu datar. Daun-daunnya yang tadi hijau mengilap kini menguning dan keriting, sebagian sudah cokelat dan rapuh, seolah baru saja melewati musim kemarau panjang dalam waktu beberapa menit. Buah-buah merah di dahan-dahannya mengerut, menghitam, lalu jatuh satu per satu ke tanah dengan bunyi pelan. Di luar lingkaran itu, tanaman lain tetap segar seperti biasa. Batasnya tegas, nyaris sempurna, seperti digambar dengan jangka.

“Aku...” Suaraku serak. “Aku melakukan itu?”

Mahesa berjongkok, memungut sehelai daun kering, dan meremasnya. Daun itu hancur menjadi serbuk. “Kamu mendorong,” katanya datar. “Kamu mempercepat waktu di sekitarmu dengan paksa, tanpa arah. Tanaman-tanaman ini baru saja menjalani kira-kira tiga bulan dalam lima menit.”

Aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bibir atasku. Aku menyentuhnya. Darah. Mimisan kecil, tidak parah, tetapi tanganku gemetar ketika melihatnya.

Andini sudah berlutut di tepi lingkaran dengan seutas tali rafia dan buku catatannya. Ia mengukur jari-jarinya dengan tangan yang tidak sepenuhnya tenang. “Dua meter sepuluh senti,” gumamnya. “Hampir bulat sempurna. Pusatnya kamu.” Ia menatapku. “Kamu baik-baik saja?”

“Aku membunuh pohon-pohon kopi Mahesa.”

Lihat selengkapnya