Desa Tebilin, 7 Januari 2050
Anak-anak di SD Negeri 5 Ampenan punya banyak nama untukku, tetapi hanya satu yang bertahan. Aku tidak pernah memutuskan untuk mengingat ini. Ingatan itu datang sendiri, siang itu, ketika aku duduk di batu datar dan mencoba menyentuh kain waktu dengan lembut seperti yang diajarkan Ayah. Aku mendengar detak jam, aku merasakan getaran benang-benang itu, dan bukannya waktu yang melambat, justru masa laluku yang mendekat. Seperti air bah yang selama ini tertahan di balik bendungan.
Aku berumur delapan tahun. Kelas dua. Kami sedang bermain kasti di lapangan berdebu di belakang sekolah, dan seorang anak bertubuh besar bernama Gede merampas bola dari tanganku. Aku tidak ingat apa yang ia katakan. Aku hanya ingat ia mendorongku sampai jatuh, dan anak-anak lain tertawa, dan wajahku panas, dan ada sesuatu di dadaku yang tiba-tiba terasa seperti balon yang ditiup terlalu keras.
Lalu aku berada di atap masjid. Tidak ada perpindahan maupun jeda. Satu detik aku tersungkur di lapangan dengan lutut berdarah, detik berikutnya aku duduk di atas kubah seng masjid di seberang jalan, enam meter di atas tanah, dengan angin laut meniup rambutku. Aku tidak tahu bagaimana aku sampai di sana. Aku hanya tahu aku takut sekali, dan aku menangis, dan suara tangisku membuat orang-orang di bawah berkerumun dan menunjuk-nunjuk.
Pak Marbot yang akhirnya menurunkanku dengan tangga bambu. Ia tidak memarahiku. Ia hanya menatapku dengan wajah pucat dan bergumam sesuatu dalam bahasa Arab yang tidak kumengerti, berulang-ulang, seperti orang yang sedang mengusir sesuatu.
Keesokan harinya, Gede berdiri di depan kelas dan mengumumkan kepada semua orang bahwa aku bukan manusia. Bahwa aku anak iblis. Bahwa ibunya bilang, hanya jin yang bisa terbang ke atap masjid dalam sekejap mata. Nama itu menempel padaku seperti getah nangka. Tidak bisa dicuci, tidak bisa dikerok.
-II-
“Itu bukan yang pertama,” kata Mahesa ketika aku membuka mata dan menceritakannya. “Dan bukan yang terakhir.”
“Aku tahu.” Aku memeluk lutut. Batu datar itu sudah hangat oleh matahari siang. “Ada yang lain. Aku ingat sekarang. Lampu-lampu di rumah selalu berkedip setiap kali aku menangis. Jam dinding di kelas berhenti waktu aku dimarahi guru matematika. Televisi tetangga mati sendiri waktu aku bertengkar dengan anaknya.” Aku tertawa getir. “Aku pikir itu kebetulan. Semua orang bilang itu kebetulan. Lalu lama-lama mereka berhenti bilang begitu.”
“Dan malam-malam itu?”
Aku terdiam.
Malam-malam itu. Aku tidak ingin mengingatnya, tetapi Mahesa menatapku dengan cara yang membuatku tahu bahwa ia tidak akan membiarkanku lari dari ingatan itu. Ia sudah pernah lari. Ia tahu ke mana jalan itu berujung.
Aku sering terbangun di tempat yang bukan kamarku. Itu dimulai sejak umur sembilan tahun. Kadang aku terbangun di dapur, di depan kulkas yang terbuka. Kadang di teras, di atas kursi rotan Ayah. Sekali, aku terbangun di pantai Ampenan, dua kilometer dari rumah, dengan kaki telanjang dan piyama basah oleh air laut, sementara langit masih gelap dan ombak berdebur di dekat kakiku. Ibu menemukanku di sana menjelang subuh, setelah satu kampung dibangunkan untuk mencariku. Ia memelukku begitu erat sampai aku sulit bernapas, dan aku merasakan tubuhnya gemetar. Waktu itu aku kira ia gemetar karena lega. Sekarang, empat belas tahun kemudian, aku tidak yakin lagi.
“Dokter bilang aku berjalan dalam tidur,” kataku. “Somnambulisme. Ibu membawaku ke dokter di Mataram, lalu ke dukun di Lombok Tengah, lalu ke ustaz di Pancor. Tidak ada yang bisa menyembuhkan.”
“Karena tidak ada yang perlu disembuhkan.” Mahesa memungut sehelai daun kopi yang jatuh dan memutar-mutarnya di antara jari. “Kamu tidak berjalan dalam tidur, Galang. Kamu melompat dalam tidur. Penggerakmu bekerja ketika pikiranmu sedang lengah. Kamu bermimpi tentang suatu tempat, dan tubuhmu pergi ke sana.”
“Pantai?”
“Kamu sering bermimpi tentang laut waktu kecil. Aku ingat.” Ia tersenyum tipis. “Dan ada satu tempat lain yang sering kamu kunjungi dalam tidur. Kamu ingat?”
Aku memejamkan mata. Ada sesuatu di sana, di balik kabut. Bau kopi, lantai papan, lampu kuning redup di atas meja. Seseorang menyodorkan cangkir kecil ke tanganku, tangan yang kecil dan hangat dengan kuku yang digigiti. Suara tawa perempuan dewasa yang memanggil dari dapur. Lalu kabut itu menebal, dan semuanya hilang.
“Tidak,” kataku. “Aku tidak ingat.”
Mahesa mengangguk, seolah sudah menduga. Ia membuang daun kopi itu ke tanah.
“Belum,” katanya. “Kamu belum ingat.”
-II-
“Lalu Ibu pergi,” kataku sore itu kepada Andini.
Kami duduk di tepi kebun, di bawah pohon dadap yang daunnya bergoyang pelan. Di bawah kami, lembah berwarna keemasan oleh cahaya sore, dan di kejauhan aku bisa melihat garis tipis laut di ujung cakrawala. Andini tidak membawa buku catatannya kali ini. Ia hanya duduk dengan lutut ditekuk dan dagu bertumpu di atasnya, mendengarkan.
“Setelah Ayah meninggal?”
“Tiga bulan setelahnya.” Aku mencabut sehelai rumput dan memelintirnya. “Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berdiri di lorong depan kamar, menatap jam pendulum Ayah yang tergantung di dinding ruang tamu. Jam itu sudah berhenti sejak... sejak malam Ayah meninggal. Tidak ada yang berani menyetelnya. Aku berdiri di sana lama sekali, dan aku menangis tanpa suara, dan aku berharap jam itu berdetak lagi. Aku berharap waktu bisa berjalan mundur, kembali ke sore terakhir ketika Ayah masih ada.”
“Dan?”
“Dan Ibu terbangun. Ia keluar dari kamarnya dan menemukanku di lorong. Tapi ia tidak menatapku. Ia menatap semua jam di rumah itu.” Aku menelan ludah. “Jam dinding di dapur. Jam weker di kamarnya. Jam tangan Ayah yang ia simpan di laci. Semuanya berhenti. Semuanya menunjukkan angka yang sama.”
“Jam berapa?”
“Aku tidak ingat. Tapi aku ingat wajah Ibu.” Rumput di tanganku putus. “Ia menatapku seperti menatap sesuatu yang bukan anaknya. Seperti menatap hantu. Atau iblis, mungkin. Sebulan kemudian, ia pindah ke Surabaya, ke rumah kakaknya. Katanya untuk bekerja, katanya hanya sementara, katanya nanti aku akan dijemput. Aku tidak pernah dijemput. Aku dibesarkan Bibi Sum, adik Ayah, sampai lulus SMK. Ibu menelepon setiap Lebaran. Dua belas tahun, dua belas telepon. Masing-masing tidak lebih dari lima menit.”
Andini tidak mengatakan apa pun untuk menghiburku. Aku bersyukur untuk itu. Aku sudah terlalu sering mendengar orang mengatakan bahwa ibuku pasti punya alasan, bahwa ibuku pasti tetap menyayangiku, bahwa suatu hari nanti semuanya akan baik-baik saja. Kalimat-kalimat seperti itu terdengar seperti tambalan di atas ban yang sudah robek besar.
Ia hanya menggeser duduknya sedikit, sampai bahunya menyentuh bahuku. Kami duduk seperti itu sampai matahari tenggelam di balik bukit.
Malam itu, Andini terbangun sambil berteriak. Aku melompat dari tikar sebelum sempat berpikir. Mahesa sudah lebih dulu berdiri di ambang pintu kamar belakang dengan pelita di tangan. Di dalam, Andini duduk tegak di atas dipan dengan napas memburu dan rambut menempel di dahi yang basah oleh keringat. Matanya terbuka lebar, tetapi tatapannya kosong, seperti masih melihat sesuatu yang sudah tidak ada.
“Andini.” Aku berlutut di sisi dipan. “Andini, ini aku. Kamu di Tebilin. Kamu aman.”
Perlahan, matanya menemukan wajahku. Ia mengerjap. Lalu napasnya mulai melambat.
“Kedai,” bisiknya. “Aku mimpi tentang kedai.”
Mahesa meletakkan pelita di atas meja kecil di sudut kamar. Cahayanya kuning dan bergoyang, membuat bayangan kami bertiga menari-nari di dinding papan. Ia tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sudut dengan tangan terlipat, wajahnya separuh tersembunyi dalam gelap.