Desa Tebilin, 9 Januari 2050
“Jangan bayangkan tempatnya,” kata Mahesa. “Bayangkan waktunya.”
Kami berdiri di ujung kebun, di tepi lereng tempat makam tanpa nama itu berada. Matahari baru saja terbit. Dari sini, rumah panggung Mahesa tampak kecil di kejauhan, kira-kira dua ratus meter jauhnya, dengan beranda menghadap lembah dan asap tipis yang mengepul dari dapur. Di beranda itu, dua sosok kecil duduk menunggu. Andini dengan buku catatannya. Rizka dengan tablet offline-nya, yang ia arahkan kepadaku seperti kamera.
“Aku tidak mengerti,” kataku. “Bagaimana membayangkan waktu?”
“Setiap tempat punya irama.” Mahesa menunjuk ke arah beranda. “Beranda itu, pada detik ini, punya iramanya sendiri. Asap dari dapur. Angin yang menggoyang daun pisang di sebelahnya. Andini yang mengetuk-ngetukkan pensil ke lutut. Rizka yang menggerutu. Detak jam di dalam rumah. Semua itu adalah benang-benang kain pada satu titik. Kalau kamu bisa merasakan benang-benang itu dari sini, kamu bisa melipat kain di antara kita dan titik itu. Dua titik yang jauh menjadi bersentuhan. Lalu kamu tinggal melangkah.”
“Seperti melipat kertas.”
“Seperti melipat kertas,” Mahesa mengangguk. “Tapi kertasnya hidup, dan tidak suka dilipat.”
Aku memejamkan mata. Detak jam itu sayup terdengar dari kejauhan, dan aku mengikutinya. Aku sudah lebih mahir sekarang. Dalam beberapa tarikan napas, getaran benang-benang itu muncul di sekelilingku seperti jaring laba-laba yang basah oleh embun. Aku merasakan benang-benang di dekatku, rumput, tanah, makam di belakangku yang anehnya terasa berat dan dalam, seperti sumur. Lalu aku mencoba menjangkau lebih jauh, ke arah beranda.
Sulit. Benang-benang di kejauhan terasa samar, bertumpuk, kusut. Aku mencoba mencari irama yang disebutkan Mahesa. Asap, daun pisang, pensil di lutut. Aku menemukan sesuatu, ketukan kecil yang teratur, dan aku menggenggamnya.
Lalu aku melipat. Rasanya seperti jatuh ke dalam air es. Seluruh tubuhku menggigil dalam sekejap, dan ada rasa logam yang tajam di lidahku. Dunia di sekelilingku tidak hilang, melainkan berubah menjadi benang. Aku melihatnya, untuk sepersekian detik yang terasa seperti selamanya, pohon-pohon kopi, tanah, langit, semuanya terurai menjadi jutaan serat cahaya yang berkelindan, hijau dan keemasan, dan aku berada di antara serat-serat itu, ditarik ke depan oleh ketukan kecil yang kugenggam. Lalu aku mendarat di tengah semak kopi.
Ranting-ranting menusuk punggungku, daun-daun basah menampar wajahku, dan aku terguling ke tanah dengan bunyi gedebuk yang memalukan. Ketika aku berhasil duduk, aku menyadari bahwa aku hanya berpindah kira-kira lima puluh meter, ke deretan pohon kopi di tengah kebun. Jauh dari beranda.
Dari kejauhan, aku mendengar Rizka tertawa terbahak-bahak.
“Lima puluh dua meter!” teriak Andini. Ia berdiri di beranda dengan buku catatan terangkat tinggi. “Itu rekor!”
“Itu satu-satunya percobaan!” balasku sambil mencabut ranting dari rambut.
“Makanya rekor!”
Lompatan kedua membawaku ke atap kandang ayam. Lompatan ketiga, ke sungai kecil di bawah kebun, yang membuatku basah kuyup sampai ke pinggang. Lompatan keempat gagal sama sekali; aku hanya berdiri di tempat dengan wajah merah karena menahan napas terlalu lama.
Lompatan kelima berhasil. Aku membuka mata dan mendapati diriku berdiri di beranda, tepat di depan Andini, begitu dekat sampai ujung hidungku hampir menyentuh pensilnya. Ia terpekik dan menjatuhkan buku catatannya. Rizka berhenti tertawa. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara.
Lalu Andini mulai bertepuk tangan. Pelan, lalu lebih keras. Rizka ikut bertepuk, meski dengan ekspresi wajah seperti orang yang baru saja kalah taruhan.
“Oke,” kata Rizka. “Oke. Itu keren. Aku akui itu keren.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku sedang sibuk menahan diri supaya tidak muntah. Lidahku masih terasa seperti logam, dan seluruh tubuhku gemetar seperti baru keluar dari kulkas. Aku menatap tangan kiriku. Jari-jarinya memudar lagi, hanya sebentar, seperti bayangan yang tersapu cahaya, lalu kembali padat.
Andini juga melihatnya. Senyumnya meredup.
“Setiap lompatan ada harganya,” kata Mahesa, yang entah bagaimana sudah berdiri di ujung tangga beranda. Aku tidak melihatnya berjalan ke sana. Mungkin ia juga melompat. “Penggerakmu menarik benang dari dirimu sendiri untuk melipat kain. Tanpa jangkar, benang itu tidak tergantikan. Jangan melompat kecuali benar-benar perlu, Galang. Terutama di kota, di tengah kebisingan. Di sana, setiap lompatan akan menguras dua kali lipat.”
“Berapa kali aku bisa melompat sebelum...”
“Sebelum kamu terurai?” Ia tidak tersenyum. “Aku tidak tahu. Tidak ada yang pernah menghitungnya. Yang kutahu, setiap kali tanganmu memudar, kamu sudah terlalu dekat.”
-II-
Kami berangkat ke kota siang itu dengan kereta pukul satu. Mahesa mengantar kami sampai gerbang desa. Ia tidak memeluk siapa pun, tidak mengucapkan selamat jalan yang panjang. Ia hanya menepuk bahuku sekali, mengangguk kepada Rizka, lalu menatap Andini lama sekali, sampai Andini salah tingkah dan menunduk.
“Kembalilah,” katanya kepada Andini. “Setelah urusan kantormu selesai, kembalilah ke sini. Bersamanya.”
“Saya janji,” kata Andini.
Ada sesuatu yang aneh pada cara Mahesa menerima janji itu. Ia tidak tampak lega. Ia tampak seperti orang yang mendengar janji yang sudah pernah ia dengar sebelumnya, dan tahu persis bagaimana janji itu akan ditepati.
Ketika kereta melewati gerbang kuning di Bayan Utara, gawai Andini dan Rizka menyala bersamaan dengan bunyi yang memekakkan. Pemberitahuan menumpuk di layar mereka, ratusan pesan, peringatan, jadwal. Rizka mengumpat dan mulai menggeser layar dengan cepat. Andini hanya menatap layarnya dengan wajah datar, lalu mematikan semua bunyi dengan satu sentuhan.
Aku tidak memperhatikan keduanya. Aku sibuk merasakan tarikan di dadaku yang kembali, lebih kuat dari sebelumnya, seperti tali yang ditarik kencang begitu kami melewati gerbang. Ponselku bergetar di saku. Aku mengeluarkannya. 23.59. 00.00. 23.59. 00.00. Angka itu berkedip seperti jantung yang tidak teratur.