Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #10

Retakan di Arsip

Mataram, 10 Januari 2050

Andini menyetrika blazernya tiga kali. Blazer itu berwarna abu-abu dengan lambang Arsip Kependudukan Kota tersulam kecil di dada kiri, sebuah lingkaran yang dibelah garis-garis tipis, seperti sidik jari atau lingkaran tahun pada potongan kayu. Andini sudah menyetrikanya sejak pukul lima pagi, padahal kainnya jenis yang tidak bisa kusut. Setrikanya pun bukan setrika sungguhan, hanya sebuah lempeng tipis yang mengeluarkan uap dan berbunyi pelan setiap kali ia menempelkannya ke kain. Namun ia terus melakukannya, berulang-ulang.

“Kamu akan membuatnya berlubang,” kataku dari ambang pintu dapur.

“Tidak bisa berlubang. Seratnya dirancang tahan panas sampai empat ratus derajat.” Ia meletakkan lempeng itu, lalu menatap blazernya dengan wajah orang yang kalah berdebat dengan benda mati. “Aku tahu ini tidak ada gunanya. Aku hanya butuh sesuatu untuk dikerjakan.”

Ia mengenakan blazer itu, merapikan kerahnya di depan cermin yang sekaligus menampilkan prakiraan cuaca hari itu, tiga puluh delapan derajat, kualitas udara sedang, kemungkinan hujan nol. Lalu ia mengambil pita kuning dari meja, mengikat rambutnya, menatap pantulannya sebentar, dan melepaskan pita itu lagi.

“Terlalu mencolok,” gumamnya. “Panel peninjau itu orang-orang yang menganggap warna adalah bentuk ketidakdisiplinan.”

“Pakai saja.”

Ia menoleh. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena sejak hari pertama, pita itulah yang selalu kutemukan lebih dulu di tengah kerumunan, dan aku tidak suka membayangkan ia masuk ke ruangan penuh orang yang akan menghakiminya tanpa membawa satu-satunya warna yang ia pilih sendiri.

Andini menatapku lama, lalu menyelipkan pita itu ke saku blazernya. “Di sini saja,” katanya. “Kompromi.”

Bel rumah berbunyi pukul setengah tujuh. Suara rumah mengumumkan, “Tamu terdaftar: Rizka,” dengan nada yang menurutku sedikit lebih ramah daripada biasanya, seolah rumah itu pun menyukai Rizka lebih daripada menyukaiku. Rizka masuk dengan tas selempangnya yang berat, rambutnya basah, dan kantong mata yang menandakan ia tidak tidur semalaman.

“Rencana cadangan,” katanya, tanpa salam, dan meletakkan sebuah benda di atas meja makan.

Benda itu sebesar biji kopi, berwarna hitam doff, dengan satu titik cahaya biru yang berkedip lambat. Aku nyaris mengira itu permen.

“Token penjamin bayangan,” kata Rizka. “Kalau kredensial Andini dibekukan, penjaminanmu otomatis gugur. Kalau penjaminanmu gugur, robot patroli pertama yang lewat akan menganggapmu penyusup tanpa identitas, dan kamu tahu apa yang dilakukan kota ini pada penyusup tanpa identitas.”

“Aku tidak tahu.”

“Bagus. Pertahankan ketidaktahuan itu.” Ia mengetuk benda hitam itu dengan kukunya. “Benda ini akan memindahkan penjaminanmu kepadaku sepersekian detik sebelum sistem menyadari penjaminanmu gugur. Sistem akan mengira aku sudah mendaftarkannya sejak awal. Masalahnya, benda ini harus tetap terhubung ke perangkatku, dan perangkatku ada di apartemenku. Jadi kalau sampai dipakai, kamu harus tinggal dalam jarak tiga puluh meter dariku, bukan dari Andini.”

“Dan kalau ketahuan?”

“Kalau ketahuan,” kata Rizka sambil menuang kopi Andini ke cangkirnya sendiri tanpa izin, “kita bertiga akan makan nasi ganggang di ruang tahanan selama kira-kira dua puluh tahun. Tapi tenang saja. Nasi ganggang di sana kabarnya lebih enak.”

 

Kantor Pusat Arsip Kependudukan Kota berdiri di bekas kawasan perkantoran gubernur, dan bentuknya membuatku teringat pada lemari arsip raksasa yang dijatuhkan dari langit lalu tertancap tegak di tanah.

Bangunan itu abu-abu, nyaris tanpa jendela kecuali di beberapa lantai terbawah. Lantai-lantai di atasnya tertutup rapat, hanya berhias kisi-kisi logam yang terus-menerus mengembuskan udara hangat ke langit pagi. Andini pernah bercerita bahwa di balik dinding-dinding itu tersimpan ratusan ribu lemari server, menyimpan setiap kelahiran, kematian, perpindahan, pernikahan, dan perceraian di Pulau Lombok sejak catatan pertama yang pernah didigitalkan. Perpustakaan tanpa satu pun buku, katanya. Tempat kota ini mengingat dirinya sendiri.

Gerbang keamanannya berupa lengkungan cahaya putih. Ketika aku melewatinya, sebuah label kuning muncul melayang di atas kepalaku, terlihat oleh semua orang di lobi: Tamu Terjamin. Penjamin: A. Andini. Sisa masa: 4 hari 16 jam. Beberapa pegawai yang lewat menoleh sekilas, lalu kembali menatap gawai mereka. Di kota ini, rupanya, menjadi seseorang yang dijamin sama memalukannya dengan menumpang tidur di rumah mertua.

Ruang peninjauan berada di lantai dua, tepat di atas kafe kecil di sudut lobi. Rizka sudah memeriksa denahnya semalam. Dua puluh dua meter lurus ke atas, katanya, masih dalam batas tiga puluh meter. Jadi aku dan Rizka duduk di kafe itu, memesan dua minuman yang tidak kumengerti namanya, sementara Andini berdiri di depan lift dengan punggung lurus dan tangan mengepal di samping tubuh.

Sebelum pintu lift tertutup, ia menoleh ke arahku. Tangannya menyentuh saku blazer, tempat pita kuning itu tersimpan. Lalu pintu tertutup, dan ia hilang.

Aku menunggu.

Di dinding seberang kafe setinggi tiga lantai, terdapat sesuatu yang oleh Rizka disebut Dinding Catatan. Layar raksasa itu menampilkan nama-nama yang terus bergulir dari atas ke bawah, pelan, tanpa henti, masing-masing disertai sebuah ikon kecil. Bunga untuk kelahiran. Garis lurus untuk kematian. Dua cincin untuk pernikahan. Panah untuk perpindahan. Nama-nama itu muncul sesuai urutan waktu kejadiannya, nyaris seketika, seolah kota sedang berbisik pada dirinya sendiri tentang apa saja yang baru berubah dalam hidup warganya.

Aku menatapnya lama. Seorang bayi perempuan lahir di Praya pukul 08.41. Seorang lelaki berusia sembilan puluh dua tahun meninggal di Selong pukul 08.43. Dua orang menikah di Sekarbela. Sebuah keluarga pindah dari Gerung ke Lingsar.

“Indah, ya,” kata Rizka, tanpa nada mengejek kali ini. “Waktu kecil aku sering datang ke sini hanya untuk menontonnya. Rasanya seperti melihat jantung kota berdetak.”

“Namaku tidak akan pernah muncul di situ.”

Rizka menoleh. Aku tidak bermaksud mengatakannya keras-keras, tetapi kalimat itu sudah terlanjur keluar. Kelahiranku tidak tercatat di sini. Kematianku pun, entah kapan dan di mana terjadinya, mungkin tidak akan pernah tercatat di dinding ini. Aku adalah lubang di antara nama-nama itu. Sebuah jahitan yang terlewat.

“Kalau itu menghibur,” kata Rizka akhirnya, “namaku juga hampir tidak pernah muncul. Aku sudah menghapusnya dari separuh sistem di kota ini sejak umur lima belas.”

“Itu tidak menghibur.”

“Memang tidak. Tapi setidaknya kita berdua sama-sama hantu.” Ia menyesap minumannya, lalu meringis. “Ya Tuhan, ini rasanya seperti air rendaman kaus kaki.”

Aku tertawa, dan tawa itu membuat dadaku sedikit lebih ringan. Di atas kepala kami, di lantai dua, dua puluh dua meter jauhnya, Andini sedang duduk di depan orang-orang yang akan menentukan apakah aku masih boleh bernapas di kota ini selama empat hari ke depan. Di gawai Rizka, label kuningku masih berpendar: Penjamin: A. Andini.

Pukul sembilan lewat. Pukul sepuluh. Pukul sebelas. Minuman kami sudah lama dingin.

 

Sementara itu, di lantai tiga puluh satu Arsip Kependudukan Kota…

Lestari belum pulang sejak kemarin sore. Ruang pemantau di lantai tiga puluh satu seharusnya sudah bukan wilayahnya lagi. Dua hari lalu, atasannya menemukan tanda tunda yang ia sematkan pada peringatan akses tanggal tiga Januari, dan sejak itu Lestari dipindahkan ke bagian pengarsipan rekaman lama, sebuah ruangan sempit tanpa jendela di mana pekerjaan sehari-harinya adalah memastikan rekaman berusia puluhan tahun tidak rusak dimakan waktu. Hukuman yang halus. Di Arsip, orang tidak dipecat. Mereka hanya dipindahkan ke tempat di mana tidak ada yang perlu mendengar suara mereka.

Namun ruang pengarsipan rekaman lama, rupanya, adalah tempat terbaik untuk mencari hantu. Di layar di depannya, tiga potongan gambar terbuka berdampingan. Yang pertama adalah rekaman kamera kafe tanggal tiga Januari 2050: seorang lelaki bertopi lebar duduk di meja dekat tangga, tanpa label identitas. Yang kedua adalah cuplikan dari berkas tahun 2038 yang seharusnya sudah lenyap, satu-satunya salinan yang tersisa karena tersimpan di cadangan pita magnetik yang tidak terhubung ke jaringan mana pun. Seorang lelaki berpakaian kuno menggandeng gadis kecil di dekat Menara. Dan di sudut kanan atas bingkai itu, nyaris tertutup bayangan papan iklan, berdiri lelaki bertopi lebar yang sama.

Potongan gambar ketiga adalah yang membuat Lestari tidak bisa tidur. Itu hasil pindaian sebuah koran cetak tertanggal 15 Agustus 2014. Foto hitam putih yang buram, diambil dari kerumunan warga yang menonton garis polisi di depan sebuah kedai kopi kecil di Mataram. Keterangan fotonya hanya menyebut peristiwa itu sebagai “musibah di Kedai Kopi Ayu”. Lestari sudah memperbesar foto itu sampai pikselnya pecah. Di antara wajah-wajah warga yang penasaran, di barisan paling belakang, seorang lelaki bertopi lebar menatap lurus ke arah kamera.

Wajahnya sama. Garis rahangnya sama. Janggutnya yang tidak terurus sama.

Lihat selengkapnya