Desa Tebilin, 11 Januari 2050
Mahesa membangunkanku ketika ayam pertama belum berkokok. Ia tidak perlu mengguncang bahuku. Aku memang tidak tidur. Sepanjang malam aku berbaring di atas tikar pandan dengan mata terbuka, mendengarkan detak jam pendulum dan menggenggam pita kuning di saku, sementara pikiranku berputar-putar di sekitar tiga baris tulisan tangan yang kasar itu. Datang sendiri, anak Iwan. Jangan terlambat seperti bapakmu.
Di atas dipan, Mahesa meletakkan sweter marun yang dibelikan Andini dua hari lalu. Aku tidak ingat membawanya kemari. Lalu aku sadar, tentu saja aku tidak membawanya. Sweter itu sudah ada di rumah ini sejak lama. Sweter yang sama, dua puluh empat tahun lebih tua, warnanya sedikit lebih pudar, dan di bagian punggungnya terdapat jahitan tangan panjang yang memanjang dari bahu ke pinggang.
“Itu milikmu,” kata Mahesa sambil menyodorkan sweter yang baru, yang masih harum. “Yang ini milikku.” Ia menyentuh jahitan di sweter tua itu dengan ujung jarinya, lalu melipatnya kembali dan menyimpannya di dalam lemari tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku mengenakan sweter baru itu. Hangatnya pas sekali dengan dinginnya pagi.
Kami berjalan ke tepi hutan pinus dalam diam. Langit masih hitam, bintang-bintang masih jelas, dan embun membasahi celanaku sampai lutut. Di tempat tanah berubah warna menjadi hitam, Mahesa berhenti dan menunjuk ke arah utara, ke sebuah lembah sempit yang gelap.
“Ikuti sungai kecil itu ke hulu. Satu jam jalan kaki. Kamu akan mendengar air terjun sebelum melihatnya. Guanya di balik tirai air.”
“Kamu tidak ikut.”
Itu bukan pertanyaan, dan ia tidak menjawabnya sebagai pertanyaan. “Di dalam ingatanku, aku tidak ada di gua itu. Aku masuk sendirian. Aku keluar bersamanya.” Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang mirip ketakutan di wajahnya. “Kalau aku ikut, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan aku tidak mau mempertaruhkan dia pada sesuatu yang tidak kutahu.”
“Apa yang harus kulakukan di sana?”
“Hal yang paling sulit untukmu.” Ia meletakkan tangannya di dadaku, tepat di atas denyut hangat di bawah tulang dada. “Jangan mendorong.”
Semakin jauh aku berjalan ke hulu, semakin ganjil hutan itu. Mula-mula hanya hal-hal kecil. Pohon-pohon pinus yang tumbuh sedikit memilin, batangnya berputar seperti kain yang diperas. Lumut yang tumbuh di sisi batang yang salah. Kemudian aku melihat seekor burung kecil berbulu cokelat terbang melintasi sungai di depanku, dan di tengah jalan, burung itu berhenti di udara, sayap terentang, paruh terbuka, tidak jatuh, selama dua detik penuh. Lalu burung itu melanjutkan terbangnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku berdiri terpaku. Itu bukan perbuatanku. Penggerakku diam di dalam dada, tenang, tertidur.
Robekan. Dia sudah merobek-robek tempat ini.
Aku mendengar air terjun itu persis seperti kata Mahesa sebelum melihatnya. Tetapi suaranya salah. Air terjun seharusnya bergemuruh terus-menerus, seperti napas panjang yang tidak pernah selesai. Air terjun ini tersendat. Bergemuruh, lalu senyap sesaat, lalu bergemuruh lagi, seperti rekaman yang dipotong-potong oleh tangan yang ceroboh.
Ketika aku keluar dari rimbun pakis dan melihatnya, aku mengerti kenapa. Air terjun itu tidak tinggi, mungkin hanya delapan atau sembilan meter, jatuh dari tebing batu hitam ke sebuah kolam kecil yang airnya sejernih kaca. Tetapi di sepanjang tirai airnya, ada bagian-bagian yang tidak bergerak. Butir-butir air menggantung di udara seperti manik-manik kaca yang dijahit pada benang yang tidak terlihat. Sebagian tirai air jatuh dengan normal, sebagian membeku, dan batas di antara keduanya bergeser-geser, berdenyut, seperti luka yang tidak bisa menutup.
Di balik tirai itu, sebuah mulut gua menganga, gelap. Aku melangkah melewati bagian air yang membeku. Butir-butir air yang tertahan itu menyentuh pipiku, dingin dan keras seperti kelereng, lalu jatuh dan pecah di bahuku begitu aku melewatinya.
Gua itu bercahaya. Tidak terang, tetapi cukup untuk melihat. Di dinding-dindingnya, di sela retakan batu hitam, mengalir urat-urat tipis cahaya hijau dan kuning yang berdenyut pelan, seperti pembuluh darah di bawah kulit yang tipis. Batu Kosmik. Bukan batu mati seperti di permukaan hutan pinus, tetapi yang masih hidup, tertanam jauh di dalam perut gunung tempat cahayanya tidak pernah habis. Udara di dalam gua terasa tebal, berat, dan setiap tarikan napas membuat denyut di dadaku bergetar seperti senar yang dipetik.
Andini duduk bersandar pada dinding di ujung gua. Tangannya terikat di depan tubuh dengan seutas kabel hitam. Blazer abu-abunya kotor oleh lumpur. Ada memar kebiruan di tulang pipi kirinya, dan sudut bibirnya pecah sedikit. Tetapi matanya terbuka, dan ketika ia melihatku, matanya tidak menunjukkan kelegaan. Matanya menunjukkan kemarahan.
“Bodoh,” katanya, suaranya serak. “Kenapa kamu datang?”
“Kamu tahu kenapa.”
“Karena dia memintamu,” kata suara lain, “dan anak Iwan selalu datang kalau diminta. Bapakmu juga begitu.”
Jaya duduk di atas sebongkah batu besar di tengah gua, setengah tersembunyi dalam bayangan. Topinya kini tergeletak di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya dengan jelas. Rambutnya tipis dan kusam, disisir ke belakang. Kulitnya keabu-abuan, seperti orang yang terlalu lama tinggal di tempat tanpa matahari. Ia sedang mengasah sesuatu dengan batu asah, gerakannya lambat dan teratur, dan bunyi gesekannya bergaung di dinding gua.
Sebilah golok. Bilahnya hitam pekat, lebih hitam daripada besi biasa, dan di sepanjang seratnya mengalir cahaya kuning yang samar, seperti bara yang tertutup abu.
“Besi meteorit,” kata Jaya, menyadari ke mana mataku tertuju. “Ditempa dari batu yang ditemukan di gunung ini. Bapakku membuatnya sendiri setahun setelah batu itu terbelah. Katanya untuk membuka kebun.” Ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tapi bapakku tidak pernah membuka kebun. Bapakku mati dengan golok ini di tubuhnya, dan bapakmu yang memegangnya waktu dia mati.”
“Bohong.”
“Aku ada di sana.” Jaya berhenti mengasah. “Umurku dua belas tahun. Malam itu hujan. Aku terbangun karena bapakku berteriak, dan ketika aku keluar dari kamar, aku melihat bapakmu berlutut di lantai rumah kami, memeluk bapakku yang sudah tidak bergerak. Golok ini tergeletak di sebelah mereka. Dan bapakmu menangis.” Ia memiringkan kepala, menatapku dengan rasa ingin tahu yang dingin. “Kamu tahu kenapa seorang lelaki menangis seperti itu? Hanya ada dua alasan. Karena dia kehilangan sesuatu, atau karena dia bersalah. Bapakmu tidak kehilangan apa-apa malam itu. Dia justru mendapat sesuatu. Sahabatnya mati, dan rahasia mereka hanya tinggal miliknya seorang.”
Aku ingin membantahnya. Aku ingin mengatakan bahwa Ayah tidak mungkin melakukan itu, bahwa Ayah adalah orang yang menangis menonton sinetron dan membiarkan kucing tetangga tidur di atas mesin motornya yang masih hangat. Namun aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Gema ayahku sendiri bilang tidak sekarang. Dan keraguan, sekecil apa pun, adalah celah yang cukup bagi seseorang seperti Jaya untuk memasukkan pisaunya.
“Lepaskan dia,” kataku. “Urusanmu dengan ayahku. Bukan dengan dia.”
“Oh, kamu salah besar.” Jaya bangkit perlahan. Ia lebih tinggi daripada yang kukira, dan gerakannya punya keanehan yang membuat mataku sakit, seperti gambar yang sesekali kehilangan beberapa bingkai. “Gadis ini justru urusanku yang paling penting. Kamu tidak bisa merasakannya, ya? Tentu saja tidak. Kamu hanya punya separuh. Bandul tanpa poros.”
Ia berjalan mendekati Andini. Andini menegakkan punggung, menolak untuk mundur, tetapi aku melihat jari-jarinya yang terikat mengepal sampai buku-bukunya memutih.