Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #12

Sisa Waktu

Desa Tebilin, 12 Januari 2050

Demam datang menjelang subuh, dan bersamanya, mimpi-mimpi yang tidak sepenuhnya milikku. Aku bermimpi tentang sebuah kedai kecil berdinding hijau. Tentang tangan mungil yang menarik ujung kausku dan suara anak perempuan yang memanggil, Kak, Kak, lihat. Tentang hujan yang turun di atas atap seng dan seorang lelaki berkumis yang tertawa sambil menyeruput kopi tubruk. Lalu mimpi itu berpindah, tanpa sambungan, ke sebuah ruangan gelap tempat seseorang menangis tersedu-sedu di samping tubuh yang tidak bergerak, dan aku tidak bisa melihat wajah siapa pun di sana, hanya sebilah golok hitam yang berkilat kekuningan di lantai.

Aku terbangun dengan napas tersengal dan keringat dingin membasahi tikar. Mahesa duduk di sampingku dengan semangkuk air dingin dan selembar kain. Ia memeras kain itu, melipatnya, dan meletakkannya di dahiku dengan gerakan yang terlatih, seperti orang yang sudah terlalu sering merawat orang sakit sendirian. Di luar jendela, langit masih abu-abu. Dari dapur terdengar suara Andini menumbuk sesuatu, dan bau jahe bakar merambat masuk ke kamar.

“Demam kronon,” kata Mahesa. “Tubuhmu memakai terlalu banyak kemarin. Menghentikan waktu sepenuhnya itu bukan perkara kecil. Kamu beruntung hanya demam.”

“Kamu juga pernah?”

“Tiga hari. Aku mengigau memanggil Ibu.” Ia tersenyum tipis. “Jangan khawatir, kamu belum sampai ke tahap itu.”

Aku menatap langit-langit bambu. Ada sarang laba-laba di sudutnya, dan laba-laba kecil di tengahnya sedang memperbaiki benang yang putus. Aku memperhatikannya bekerja selama beberapa saat.

“Jaya bilang Ayah membunuh bapaknya,” kataku akhirnya.

Tangan Mahesa yang sedang memeras kain berhenti.

“Dia bilang dia melihatnya. Waktu dia umur dua belas. Ayah berlutut memeluk Darma, dan golok itu ada di lantai, dan Ayah menangis.” Aku menelan ludah. Tenggorokanku sakit. “Apakah itu benar?”

Mahesa meletakkan kain di dalam mangkuk. Ia memandangi air di dalamnya lama sekali, seolah jawaban yang ia cari tenggelam di dasarnya.

“Yang dia lihat itu benar,” katanya pelan. “Ayah memang ada di sana. Ayah memang memeluk Darma. Ayah memang menangis. Tapi apa yang dia lihat dan apa yang terjadi bukanlah hal yang sama, Galang. Kamu akan tahu sendiri. Dan ketika kamu tahu, kamu akan mengerti kenapa aku tidak bisa menceritakannya sekarang.”

“Hukum pertama lagi?”

“Bukan.” Ia menggeleng. “Kali ini bukan hukum. Kali ini karena kamu berhak mendengarnya dari Ayah sendiri, bukan dari aku.”

Aku memejamkan mata. Ada satu pertanyaan lagi yang terasa seperti batu di ulu hatiku, pertanyaan yang sudah kubawa sejak umur sebelas tahun, dan aku tidak tahu apakah aku sanggup mendengar jawabannya dalam keadaan demam seperti ini, tetapi aku bertanya juga.

“Ayah tidak meninggal karena serangan jantung, kan?”

Hening. Laba-laba di sudut langit-langit sudah selesai memperbaiki sarangnya.

“Tidak,” kata Mahesa.

Aku tidak menangis. Aku pikir aku akan menangis, tetapi ternyata tidak. Yang kurasakan justru sesuatu yang aneh, semacam kelegaan yang pahit, seperti akhirnya mendengar dokter mengucapkan nama penyakit yang sudah lama kau curigai. Aku selalu tahu. Sejak malam itu, sejak orang-orang dewasa berbisik di ruang tamu dan Ibu menatapku seperti menatap sesuatu yang asing, aku selalu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak mereka katakan.

“Aku tahu,” bisikku. “Aku selalu tahu.”

Mahesa meletakkan tangannya di atas tanganku. Kami tidak berbicara lagi sampai Andini masuk membawa wedang jahe.

 

Rizka tiba sore harinya, naik cidomo Inaq dari gerbang perbatasan, dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya, wajah seseorang yang sudah menangis dan sangat marah karena harus menangis.

Ia tidak menyapa siapa pun. Ia langsung menaiki tangga rumah panggung, masuk ke kamar, dan berdiri di ambang pintu menatapku yang tengkurap di atas tikar dengan punggung terbalut kain. Lalu ia menatap Andini, yang duduk di sampingku dengan buku catatan di pangkuan. Memar di pipi Andini sudah berubah warna menjadi keunguan.

“Kalian berdua,” kata Rizka dengan suara bergetar, “adalah manusia paling egois yang pernah kukenal.”

“Riz...”

“Dua hari! Dua hari aku tidak tahu apakah kalian masih hidup atau sudah jadi partikel! Aku duduk di apartemenku dengan dua drone patroli parkir di depan pintu, menjawab pertanyaan petugas tentang kenapa tamu terjaminku tiba-tiba lenyap dari peta, dan aku tidak bisa menelepon siapa pun karena kalian memilih untuk diculik di satu-satunya desa tanpa sinyal di seluruh pulau!”

“Secara teknis, aku diculik di rumahku sendiri,” kata Andini pelan.

Rizka menatapnya. Andini menatap balik. Lalu, entah bagaimana, Rizka tertawa, tawa yang pecah di tengah dan berubah menjadi isakan, dan Andini sudah bangkit untuk memeluknya sebelum tawa itu selesai.

Aku memalingkan muka ke dinding, memberi mereka sedikit ruang. Dari sudut mataku, aku melihat Mahesa berdiri di beranda dengan punggung menghadap ke dalam, memandangi kebun kopinya. Ia juga sedang memberi mereka ruang.

Setelah semuanya lebih tenang, Rizka duduk bersila di lantai dan mengeluarkan tablet luring dari tasnya. “Ada kabar baik dan kabar aneh,” katanya, suaranya masih serak. “Kabar baiknya kredensialmu dipulihkan tadi pagi, Din.”

Andini menegakkan punggung. “Bagaimana bisa?”

“Karena seorang perempuan bernama Lestari dari bagian pengarsipan rekaman lama mengirim berkas setebal dua ratus halaman ke panel peninjau semalam. Rekaman lelaki bertopi dari tahun 2014, 2038, dan 2050, dengan analisis lengkap bahwa wajahnya tidak berubah sedikit pun dalam tiga puluh enam tahun. Kesimpulannya, anomali dalam catatan Arsip bukan kamu. Kamu adalah korban dari anomali itu.” Rizka menggeser layar tabletnya. “Panel tidak tahu harus berbuat apa dengan berkas itu, jadi mereka melakukan apa yang selalu dilakukan birokrat yang bingung. Mereka membekukan penyelidikan terhadapmu dan membuka penyelidikan baru terhadap, aku kutip, entitas tak teridentifikasi berpenampilan konsisten.”

“Entitas tak teridentifikasi berpenampilan konsisten,” ulangku.

“Birokrasi tahun 2050 masih sama puitisnya dengan birokrasi zamanmu, Sepupu.” Rizka melirikku. “Dan karena kredensialmu pulih, penjaminan Galang kembali atas namamu. Berlaku sampai pukul dua belas malam tanggal lima belas. Tidak bisa diperpanjang lagi. Aku sudah mencoba.”

Pukul dua belas malam tanggal lima belas. Aku menghitungnya di kepala. Dua hari lebih sedikit. Batas penjaminan dan batas Jangkarku jatuh di malam yang sama, seolah kota ini dan alam semesta diam-diam sudah bersepakat.

“Dan kabar anehnya?” tanya Andini.

Lihat selengkapnya