Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #13

Batas Empat Belas Hari

Desa Tebilin, 14 Januari 2050

Pagi itu, sendok jatuh menembus jariku. Aku sedang duduk di beranda, hendak mengaduk kopi yang diseduhkan Andini. Sendok kecil dari seng itu sudah kugenggam, aku bisa merasakan dinginnya, beratnya, lekuk gagangnya yang sedikit bengkok. Lalu, tanpa peringatan, rasa itu lenyap. Sendok itu meluncur turun melewati telapak tanganku seolah tanganku hanyalah asap, berdenting di lantai papan, lalu menggelinding ke bawah kursi.

Aku menatap tanganku. Kulitnya masih ada. Garis-garis di telapaknya masih ada. Tetapi kalau aku mengangkatnya ke arah matahari yang baru terbit, aku bisa melihat cahaya oranye merembes melewatinya, samar, seperti cahaya yang menembus kain tipis. Di dalam dagingku, berkilau partikel-partikel kecil keemasan, bergerak pelan seperti debu di dalam sorot lampu.

Aku mengepalkan tangan. Kepalan itu terasa, tetapi jauh, seperti tangan orang lain yang dipinjamkan kepadaku.

Andini keluar dari dapur membawa sepiring ubi rebus. Ia melihat sendok di lantai, lalu melihat tanganku, dan piring di tangannya bergetar sedikit sebelum ia berhasil meletakkannya di atas meja. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memungut sendok itu, mengelapnya dengan ujung bajunya, lalu mengaduk kopiku sendiri, pelan, tiga kali searah jarum jam, seperti yang selalu dilakukan Ayah.

“Masih bisa minum?” tanyanya.

“Masih.”

Aku mengangkat cangkir itu dengan dua tangan. Kali ini cangkirnya tidak jatuh. Kopinya pahit, manis, hangat, dan untuk sesaat, selama tegukan pertama itu, aku merasa seperti benar-benar ada.

Mahesa turun dari kebun menjelang pukul tujuh dengan keranjang bambu di punggung. Ia melirik tanganku sekilas, cukup lama untuk menghitung sesuatu, lalu meletakkan keranjangnya di anak tangga.

“Kapan mulainya?”

“Barusan.”

Ia mengangguk. “Tepat waktu,” katanya, dan aku tidak tahu apakah ia sedang berbicara kepadaku atau kepada dirinya sendiri dua puluh empat tahun yang lalu.

 

Aku memintanya mengajariku satu hal lagi sebelum aku pergi. Bukan lompatan atau menghentikan waktu. Aku sudah tahu bahwa tidak ada pelajaran yang bisa menyelamatkanku dari tengah malam nanti. Yang kuminta jauh lebih sederhana.

“Ajari aku menanam kopi.”

Mahesa menatapku lama, lalu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tertawa. Bukan senyum tipis yang biasa, tapi tawa sungguhan, serak dan agak kaget.

“Kenapa?”

“Karena suatu hari aku akan menjadi petani kopi,” kataku. “Aku sudah melihat buktinya. Dan aku ingin tahu apakah aku akan menikmatinya.”

Jadi ia mengajariku. Di sudut kebun yang paling dekat dengan tepi lereng, ia menunjukkan cara memilih bibit yang baik, yang batangnya lurus dan daunnya mengilap tanpa bercak. Cara menggali lubang yang cukup dalam supaya akarnya tidak kepanasan. Cara mencampur tanah hitam dengan kompos daun pinus dan sekam. Cara menekan tanah di sekeliling batang dengan telapak tangan, tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut, seperti menepuk punggung anak kecil yang baru belajar tidur.

Tanganku menembus tanah dua kali. Pada kali ketiga, aku bisa merasakannya, gembur dan lembap dan hangat oleh matahari pagi. Aku menekan tanah itu di sekeliling bibit kecil yang tingginya tidak sampai sejengkal, dan ketika aku mengangkat tanganku, bibit itu berdiri tegak, sedikit bergoyang ditiup angin.

“Butuh tiga tahun sebelum berbuah,” kata Mahesa. “Kamu tidak akan melihatnya.”

“Kamu akan melihatnya.”

Ia diam sebentar. Lalu ia menyiram bibit itu dengan air dari kendi, pelan sekali, seolah air itu terlalu berharga untuk ditumpahkan.

“Ya,” katanya. “Aku akan melihatnya.”

Dari tempat kami berjongkok, aku bisa melihat makam tanpa nama di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari situ. Bunga-bunga kuning di atasnya masih segar. Seseorang menggantinya setiap pagi. Aku sudah tahu siapa orangnya.

“Itu makam siapa?” tanyaku. Aku sudah menanyakannya pada hari pertama, dan ia tidak menjawab. Aku tidak berharap ia menjawab sekarang.

Mahesa membersihkan tanah dari jari-jarinya dengan sangat teliti, satu per satu.

“Seseorang yang pernah kujanjikan akan kujaga,” katanya akhirnya. “Dan aku gagal.”

“Apakah aku mengenalnya?”

Ia berdiri, lututnya berderak. Ia tidak menatapku, lalu menatap pohon kamboja itu, dan bunga-bunga kuning, dan tanah yang sudah lama rata dengan rumput liar di sekelilingnya.

“Belum,” katanya. Lalu ia berjalan pergi ke arah rumah sebelum aku sempat bertanya apa artinya.

 

Siang harinya, tubuhku semakin tipis. Kini bukan hanya tangan. Ketika aku berjalan di jalan setapak di antara pohon-pohon kopi, kakiku kadang tidak menginjak tanah dengan benar, seperti orang yang berjalan di atas kasur air. Daun-daun yang menyentuh lenganku kadang lewat begitu saja, menembus kulit, meninggalkan rasa geli yang dingin. Sekali, ketika seekor kucing kampung milik tetangga melintas di depanku, ia berhenti, menatap tepat ke arah dadaku dengan mata kuning yang membesar, lalu lari terbirit-birit seolah melihat hantu.

Mungkin memang begitu. Mungkin aku sedang menjadi hantu, satu helai demi satu helai. Ingatanku juga mulai bocor, meski bukan dengan cara yang kuduga. Aku masih ingat Andini. Aku masih ingat Rizka, Mahesa, kota itu, robot-robot patroli, sate bulayak di balik pintu berkarat. Yang hilang justru hal-hal dari duniaku sendiri. Nama dosen pembimbingku waktu kuliah. Nomor rumah Bibi Sum. Lagu yang selalu diputar di warung dekat kantorku. Seolah tubuhku sedang bersiap-siap pindah dan, dalam kebingungannya, mulai mengemasi barang-barang yang salah.

Aku mengatakannya kepada Mahesa ketika ia sedang memperbaiki pagar bambu di samping rumah.

“Itu wajar,” katanya tanpa berhenti mengikat tali ijuk. “Kain sedang melepaskanmu dari waktu ini dan menarikmu kembali ke waktumu. Untuk sementara, kamu tidak sepenuhnya di mana pun. Begitu kamu sampai di sana, ingatan tentang duniamu akan kembali. Dan ingatan tentang dunia ini akan mulai pergi.”

“Secepat apa?”

Ia mengencangkan ikatan terakhir, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. “Beberapa hari untuk wajah-wajah. Beberapa minggu untuk nama-nama. Yang paling lama bertahan adalah yang tidak punya kata. Bau, rasa, warna, bunyi jam.” Ia menatapku. “Jangan coba melawannya. Aku dulu mencoba. Aku menulis semuanya di kertas, malam pertama, sampai subuh. Seminggu kemudian aku membaca kertas-kertas itu dan rasanya seperti membaca buku harian orang lain.”

“Kertas itu masih ada?”

“Ada.” Ia tidak bilang di mana, dan aku tidak bertanya.

Lihat selengkapnya