Mataram, 1 Januari 2027
Hal pertama yang kudengar adalah ledakan. Bukan ledakan yang menakutkan. Ledakan yang meriah, berderai, disusul sorak-sorai dari kejauhan dan jeritan tawa anak-anak, dan bunyi terompet plastik yang ditiup terlalu keras oleh seseorang yang terlalu bersemangat. Kembang api. Aku membuka mata dan melihat kilatan merah, hijau, emas menari-nari di kaca jendela ruang tamu, memantul di permukaan layar televisi tabung yang mati.
Aku terbaring di atas sofa berpegas rusak. Persnya berdecit protes ketika aku bergerak, seperti biasa. Lalu bunyi kedua datang, lebih pelan, nyaris tenggelam di bawah riuh kembang api. Tik. Tak. Tik. Tak.
Jam pendulum Ayah berdetak lagi. Aku duduk terlalu cepat, dan punggungku menjerit. Rasa sakitnya tajam dan panjang, dari bahu kiri sampai ke pinggang. Aku terengah, membungkuk, mencengkeram lengan sofa. Ketika rasa sakit itu mereda sedikit, aku meraba punggungku dengan tangan gemetar dan menemukan kain kasar yang membalutnya, dan di atas kain itu, wol yang tebal dan hangat.
Aku menunduk. Aku mengenakan sweter marun. Aku tidak punya sweter marun. Aku tidak pernah punya sweter apa pun. Mataram terlalu panas untuk sweter, tetapi sweter ini pas sekali di tubuhku, lengannya sedikit kepanjangan, dan ketika aku memutar badan untuk melihat punggungnya, aku menemukan sebaris jahitan tangan yang panjang, tidak rata, memanjang dari bahu sampai ke pinggang. Benangnya berwarna sedikit lebih muda daripada wolnya. Jahitan orang yang tidak terbiasa menjahit, tetapi sangat berusaha.
Aku menempelkan lengan sweter itu ke hidungku. Bau kopi, bau sabun sereh, bau asap tungku kayu, dan bau lain yang tidak bisa kusebutkan namanya, bau yang membuat dadaku tiba-tiba sesak sampai aku harus membuka mulut untuk bernapas. Lalu semuanya kembali sekaligus.
Plaza, robot patroli, seorang gadis bergaun putih dengan pita kuning dan tabung biji kopi. Taman dengan pohon-pohon berdaun cermin. Rumah yang memanggilku Mas. Seorang perempuan berambut sebahu yang menyebutku Sepupu dan memindai tubuhku dengan cahaya hijau. Kereta layang. Kebun kopi. Seorang lelaki tua berjanggut kelabu yang memiliki bibirku dan bekas luka di daguku. Batu datar. Bunga kopi yang mekar di bulan Januari. Gua di balik air terjun yang tersendat. Golok hitam. Sate bulayak. Foto di atap. Pita kuning yang kuikat miring.
Andini.
Ayu Andini.
Namanya meledak di dalam kepalaku lebih terang daripada kembang api di luar jendela. Aku berdiri, nyaris jatuh karena punggungku, lalu berdiri lagi dan berputar di tengah ruang tamu seperti orang yang mencari sesuatu yang jatuh. Aku tidak tahu apa yang kucari. Gerbang. Lorong cahaya. Jalan kembali.
Tidak ada apa-apa. Hanya ruang tamuku yang sempit dan apak. Kipas angin berdebu. Rak televisi. Bingkai-bingkai foto.
Satu bingkai hilang. Di deretan foto di atas rak televisi, di antara fotoku di pundak Ayah dan fotoku bersama Ayah di depan bengkel, ada sebuah celah kosong. Bekas persegi yang sedikit lebih bersih di permukaan kayu yang berdebu. Aku ingat. Aku sedang memegangnya ketika lantai di bawah sofa menghilang. Bingkai itu terlepas dari tanganku dan melayang menjauh di dalam cahaya.
Foto anak perempuan dengan boneka bergaun biru. Foto Ayu. Aku meraih ponsel dari saku celana. Layarnya yang retak menyala. Pukul 00.00. Jumat, 1 Januari 2027. Baterai 63 persen. Tidak ada satu menit pun yang berlalu. Bagi dunia ini, aku hanya memejamkan mata sebentar di atas sofa, tepat ketika tahun berganti. Bagiku, empat belas hari baru saja berakhir.
-II-
Aku menulis sampai subuh. Aku menemukan buku tulis bergaris sisa kuliah di laci meja Ayah, setengah halamannya masih kosong, dan sebatang pulpen yang tintanya hampir habis. Aku duduk di lantai ruang tamu, bersandar ke sofa supaya punggungku tidak terlalu sakit, dan menulis. Segalanya, tanggal-tanggal, nama-nama, wajah-wajah, sejauh yang bisa kugambarkan dengan kata-kata. Tiga Hukum Gerbang, persis seperti yang diucapkan Mahesa. Cara menyeduh kopi tubruk dengan gula aren, bau kamar Andini, bunyi tawa Rizka, warna langit di atas Tebilin.
Pulpen pertama habis pukul dua. Aku mencari pulpen lain di kamar dan menemukan pensil tumpul, lalu meruncingkannya dengan pisau dapur, dan terus menulis. Kembang api di luar sudah lama berhenti. Suara orang-orang di jalan sudah lama hilang. Yang tersisa hanya detak jam pendulum Ayah dan bunyi pensil menggores kertas.
Di tengah-tengah tulisanku, ketika aku sedang berusaha menggambarkan bagaimana rasanya menyentuh kain waktu, aku berhenti. Aku menatap gelas air putih di atas meja di depanku. Lalu, tanpa benar-benar memutuskannya, aku memejamkan mata dan mencari detak itu. Bukan detak jam. Detak yang lain. Denyut hangat di bawah tulang dadaku.
Ya, itu masih ada. Lebih redup daripada di Tebilin, tertutup dengung kulkas tua dan kabel listrik dan sinyal ponsel dan seribu gelombang yang tidak terlihat dari rumah-rumah tetangga, tetapi masih ada.
Aku menyentuh gelas itu dengan ujung jari dan mendorongnya pelan ke tepi meja. Gelas itu jatuh. Lalu berhenti, sejengkal dari lantai, airnya menggantung di udara seperti kaca yang retak.
Satu detik, dua. Lalu kekuatanku lepas, dan gelas itu jatuh dan pecah, dan air menyebar di lantai semen membasahi ujung buku tulisku. Aku menatap genangan itu lama sekali, dengan napas tersengal dan hidung yang mulai berdarah sedikit, dan untuk pertama kalinya sejak aku terbangun, aku tertawa.
Bukan mimpi, bukan suatu kegilaan, semuanya nyata.
Aku menulis kalimat terakhir menjelang azan subuh dengan huruf-huruf besar yang ditekan begitu keras sampai kertasnya hampir robek.
NAMANYA AYU ANDINI. DIA MENUNGGU. JANGAN LUPA.
-II-
2 Januari 2027
Dokter jaga di puskesmas Ampenan adalah seorang perempuan muda berkerudung abu-abu dengan kacamata yang terus melorot ke ujung hidung. Ia membuka balutan di punggungku, diam selama beberapa detik, lalu membetulkan kacamatanya.