Mataram, Februari 2027
Pekerjaan baruku datang dari sebuah papan tripleks yang ditulisi dengan cat semprot merah: DICARI TEKNISI. BISA SOLDER. JUJUR.
Papan itu terpasang miring di depan sebuah kios servis elektronik di Cakranegara, terjepit di antara toko emas dan penjual martabak manis. Pemiliknya bernama Lalu Satria, lelaki berumur lima puluhan dengan perut buncit, kacamata baca yang diikat tali karet, dan kebiasaan bersenandung lagu-lagu dangdut lama sambil membongkar televisi. Ia mewawancaraiku selama tiga menit. Pertanyaan pertamanya adalah apakah aku bisa memperbaiki radio transistor. Pertanyaan keduanya adalah apakah aku merokok. Pertanyaan ketiganya adalah apakah aku pernah mencuri.
“Tidak, Pak.”
“Bagus. Teknisi terakhirku mencuri tiga kipas angin dan satu istri.” Ia menyodorkan sebuah radio berlapis kulit imitasi yang sudah mengelupas. “Hidupkan ini. Kalau bisa sebelum magrib, kamu diterima.”
Aku menghidupkannya dalam empat puluh menit. Kapasitornya bocor dan salah satu kabel di dalamnya putus dimakan tikus. Ketika radio itu akhirnya berderak hidup dan memutar lagu Rhoma Irama dengan suara yang pecah-pecah, Lalu Satria bertepuk tangan dan menyuruhku datang besok pukul delapan.
Pekerjaan itu tidak bergaji besar. Namun aku menyukainya lebih daripada yang kuduga. Ada sesuatu yang menenangkan dalam membongkar benda-benda rusak, menemukan bagian kecil yang menyebabkan semuanya berhenti bekerja, lalu memperbaikinya. Ponsel dengan layar retak. Kipas angin yang tidak mau berputar. Penanak nasi yang selalu membuat nasi gosong di dasarnya. Setiap benda yang kuhidupkan kembali terasa seperti sebuah kemenangan kecil atas waktu.
Hanya ada satu masalah. Kadang, ketika aku sedang kesal, atau lelah, atau ketika ada sesuatu yang mengusik bagian dalam dadaku tanpa alasan yang jelas, benda-benda di sekitarku ikut berulah. Jam dinding di kios berhenti berdetak selama beberapa detik. Layar ponsel yang sedang kuperbaiki berkedip dan menampilkan angka-angka aneh. Sekali, solder di tanganku mendingin seketika, lalu memanas lagi, seolah lima menit baru saja berlalu di ujungnya dalam sekejap mata.
Aku belajar menenangkan diri. Menarik napas panjang. Mengikuti detak jam dinding di belakang meja Lalu Satria, lambat, lebih lambat, sampai denyut di bawah tulang dadaku kembali tenang. Aku tidak ingat dari mana aku belajar cara itu. Rasanya seperti sesuatu yang selalu kuketahui.
“Kamu ini aneh, Lang,” kata Lalu Satria suatu sore, ketika ia memergokiku duduk dengan mata terpejam di depan meja kerja. “Kadang kamu seperti orang sedang zikir. Kadang seperti orang sedang menunggu bus.”
“Mungkin dua-duanya, Pak.”
Ia tertawa terbahak-bahak dan menghadiahiku sepotong martabak manis dari kios sebelah.
Pada pertengahan Februari, aku menelepon Ibu. Bukan hari Lebaran ataupun ulang tahunnya. Tidak ada alasan apa pun, kecuali bahwa malam itu aku duduk di sofa menatap jam pendulum Ayah yang terus berdetak, dan tiba-tiba aku ingin mendengar suaranya. Aku menekan namanya di daftar kontak sebelum sempat berubah pikiran.
Telepon itu berdering lama. Lima kali. Enam kali. Aku hampir menutupnya ketika suaranya akhirnya terdengar, ragu-ragu, sedikit takut, seperti orang yang menerima telepon dari nomor rumah sakit.
“Galang? Ada apa? Kamu sakit?”
“Tidak, Bu. Tidak ada apa-apa.” Aku menelan ludah. “Aku cuma mau tanya kabar.”
Jeda yang panjang. Di latar belakang aku mendengar suara televisi dan suara anak-anak kecil, keponakan-keponakannya, anak-anak dari adik perempuannya di Surabaya. Kehidupan yang ia bangun setelah meninggalkanku. Dulu, mendengar suara-suara itu membuatku marah. Malam ini, entah kenapa, aku hanya merasa lega bahwa ia tidak sendirian.
“Ibu baik,” katanya pelan. “Kamu bagaimana? Kerja di mana sekarang? Bibi Sum bilang kamu dipecat.”
Aku menceritakan tentang kios servis Lalu Satria, tentang radio transistor dan martabak manis. Ia mendengarkan tanpa menyela, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dulu. Lalu, ketika aku selesai, ia diam lagi untuk waktu yang lama.
“Lang,” katanya akhirnya, hampir berbisik. “Jam-jam di rumah. Masih suka berhenti?”
Aku menatap jam pendulum Ayah. Bandulnya berayun ke kiri, ke kanan, tenang dan sabar.
“Tidak lagi, Bu,” kataku. “Sudah tidak lagi.”
Di ujung sana, aku mendengar sesuatu yang tidak pernah kudengar sebelumnya dalam dua belas tahun panggilan Lebaran yang canggung dan singkat. Aku mendengar Ibu menangis.
“Maafkan Ibu,” katanya di sela isakannya. “Maafkan Ibu, Nak. Ibu takut. Ibu tidak mengerti. Ibu cuma...”
“Aku tahu, Bu.” Dan aku memang tahu. Aku tidak ingat bagaimana aku tahu, tetapi aku tahu bahwa ketakutan bisa membuat orang yang paling menyayangimu berlari menjauh, dan bahwa itu tidak berarti mereka berhenti menyayangimu. “Tidak apa-apa. Aku tidak marah lagi.”
Kami berbicara hampir satu jam malam itu. Sebelum menutup telepon, ia bertanya apakah aku mau datang ke Surabaya saat Lebaran nanti. Aku bilang akan kupikirkan. Itu bukan janji. Tetapi itu juga bukan penolakan, dan dari cara ia mengucapkan terima kasih, aku tahu ia mengerti perbedaannya.
-II-
Maret 2027
Nadia datang ke kios pada suatu Sabtu siang, membawa ponsel dengan layar yang retak seperti sarang laba-laba. Aku tidak tahu apakah itu kebetulan. Cakranegara tidak terlalu besar, dan kios Lalu Satria bukan satu-satunya kios servis di jalan itu, tetapi ia berdiri di depan etalase kaca dengan senyum yang sangat rapi, seperti senyum yang sudah dilatih di depan cermin, dan aku tahu bahwa ia sudah mendengar dari seseorang bahwa aku bekerja lagi.
“Hai,” katanya.