Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #16

Gadis dari Kedai Kopi

Mataram, 15 April 2027

Kami berjalan pulang ke Ampenan dengan jarak satu lengan di antara kami, seperti dua orang asing yang kebetulan searah. Jalanan sudah sepi. Hanya ada sesekali sepeda motor yang lewat dengan knalpot meraung, seorang penjual nasi bungkus yang membereskan gerobaknya, dan baliho-baliho iklan yang tersenyum lebar dari setiap tiang listrik, menatap kami dengan wajah-wajah yang terlalu cerah untuk jam satu dini hari. Andini menoleh ke kiri dan ke kanan seperti anak kecil di pasar malam. Ia berhenti di depan sebuah tiang listrik yang dibelit kabel-kabel kusut, mendongak, lalu tertawa pelan.

“Kabelnya di luar,” katanya. “Semuanya di luar. Seperti urat yang belum dimasukkan ke dalam kulit.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seluruh tubuhku masih bergetar. Setiap kali aku meliriknya, ada sesuatu di dadaku yang bergerak, seperti engsel pintu yang lama tidak dibuka, tetapi pintunya sendiri tetap tertutup. Aku tahu wajah ini. Aku tidak tahu wajah ini. Kedua hal itu benar sekaligus, dan rasanya seperti berdiri di dua tempat dalam satu waktu.

“Kamu tahu jalan ke rumahku,” kataku ketika ia berbelok ke gang yang benar tanpa kuberi tahu.

“Aku pernah ke sini.” Ia tidak menoleh. “Dua kali. Sekali waktu umurku delapan tahun, sekali lagi waktu umurku sembilan. Om Iwan mengajakku melihat anak kucing yang baru lahir di bawah meja bengkel.”

Om Iwan.

Nama itu menghantamku lebih keras daripada apa pun yang terjadi malam ini. Hanya sedikit sekali orang yang pernah memanggil Ayah dengan sebutan itu. Teman-teman sekolahku memanggilnya Pak Iwan. Orang-orang bengkel memanggilnya Bang Iwan. Hanya anak-anak kecil di sekitar gang yang memanggilnya Om, dan aku tidak ingat satu pun anak perempuan di antara mereka.

Atau aku tidak bisa mengingatnya.

 

Di dalam rumah, Andini berdiri lama di depan jam pendulum. Ia tidak menyentuhnya, hanya memandanginya dengan kepala sedikit miring, mendengarkan detaknya, dan aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara, seperti sedang menghitung. Lalu ia menoleh ke rak televisi, ke deretan bingkai foto, dan matanya berhenti pada ruang kosong di ujung rak. Ruang kosong yang selama empat bulan ini selalu membuatku gelisah tanpa tahu sebabnya.

“Fotonya hilang,” katanya pelan.

“Foto apa?”

Ia tidak menjawab. Ia membuka tas kainnya, merogoh sesuatu di dalamnya, lalu mengulurkan selembar kertas tebal berukuran kecil kepadaku. Sebuah foto. Bukan foto cetak biasa. Permukaannya agak mengilap, warnanya sedikit pudar seperti foto-foto lama, dan di bagian bawahnya ada pinggiran putih yang lebar.

Tiga orang duduk berjajar di tepi atap dengan latar langit jingga dan gedung-gedung yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Seorang perempuan berambut sebahu di sebelah kanan menjulurkan lidah ke arah kamera. Andini di tengah, tersenyum lebar dengan mata menyipit sampai nyaris tertutup. Dan di sebelah kiri, mengenakan sweter marun yang saat ini tergantung di balik pintu kamarku, ada seorang lelaki yang tidak menatap kamera. Ia menatap Andini. Dan lelaki itu aku.

Aku duduk di sofa karena kakiku tiba-tiba tidak sanggup menahan berat tubuhku. Per sofa berdecit seperti biasa. Aku memandangi foto itu, memandangi wajahku sendiri yang menatap gadis ini dengan cara yang belum pernah kulihat di cermin mana pun, cara yang membuat dadaku sakit, dan aku tidak ingat. Aku tidak ingat atap itu. Aku tidak ingat langit jingga itu. Aku tidak ingat perempuan yang menjulurkan lidah. Namun aku ingat sesuatu yang lain.

Aku bangkit, masuk ke kamar, dan menarik kotak sepatu dari bawah ranjang. Debu sudah menebal di tutupnya. Selama dua bulan aku tidak pernah membukanya, karena setiap kali tanganku menyentuhnya, ada rasa takut yang tidak bisa kujelaskan, seperti takut membuka surat dari rumah sakit. Kali ini aku membukanya.

Buku tulis bersampul biru. Tulisan tanganku sendiri, tergesa dan miring, memenuhi halaman demi halaman. Aku membaca nama-nama yang tidak lagi kukenali. Mahesa, Rizka, Lestari, Desa Tebilin. Aku membaca kalimat-kalimat yang terdengar seperti racauan orang demam. Aku pergi ke tahun 2050. Dia menjaminku selama empat belas hari. Kopinya rasanya seperti pulang.

Lalu aku membalik ke halaman terakhir, dan membaca huruf-huruf kapital yang kutulis menjelang subuh tanggal satu Januari, dengan tekanan pena yang begitu keras sampai kertasnya nyaris sobek.

NAMANYA AYU ANDINI. DIA MENUNGGU. JANGAN LUPA.

Aku mendongak. Andini berdiri di ambang pintu kamar, memeluk tas kainnya di depan dada. Pita kuning di rambutnya terikat miring.

“Ayu,” kataku. Suaraku pecah di tengah. “Ayu Andini.”

Ia menutup mulut dengan kedua tangan. Lalu ia menangis, tanpa suara, dengan bahu yang bergetar, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain berdiri, berjalan ke arahnya, dan membiarkan tubuhku melakukan sesuatu yang masih diingatnya meski kepalaku sudah lupa. Aku memeluknya. Dan bau rambutnya, kopi dan sabun sereh dan sesuatu yang manis seperti gula aren, adalah bau yang sama dengan bau sweter di balik pintu.

Aku tidak mengingatnya. Namun aku tahu, dengan kepastian yang tidak membutuhkan ingatan, bahwa aku sudah menunggunya sejak lama sekali.

 

Kami duduk di lantai ruang tamu sampai azan subuh berkumandang, dengan dua gelas kopi tubruk di antara kami. Andini yang menyeduhnya. Ia menemukan toples gula aren di dapurku tanpa bertanya, menyendok kopi lebih dulu, lalu gula, lalu menuangkan air yang sudah didiamkan sebentar setelah mendidih. Ia mengaduknya tiga kali searah jarum jam, dan ketika aku melihat gerakan itu, ada sesuatu yang berdenyut di belakang mataku, seperti bayangan yang melintas di sudut ruangan.

“Siapa yang mengajarimu itu?”

“Kamu.” Ia menyodorkan gelas kepadaku. “Dan sebelum kamu, Om Iwan. Dan sebelum Om Iwan, mungkin bapakku. Aku tidak tahu siapa yang pertama. Mungkin tidak ada yang pertama. Mungkin cara mengaduk kopi ini hanya berputar-putar terus di antara kita semua, seperti kata Pak Mahesa tentang kain waktu.”

Aku menyesap kopinya. Pahit, lalu manis, lalu sesuatu yang lain yang tidak punya nama.

Pulang.

“Ceritakan padaku,” kataku. “Semuanya. Dari awal.”

Andini memandangi gelasnya lama. “Aku tidak bisa menceritakan semuanya,” katanya akhirnya. “Ada hal-hal yang harus kamu temukan sendiri. Pak Mahesa sangat tegas soal itu. Tapi aku bisa menceritakan bagianku.”

Bagiannya dimulai di sebuah kedai kecil di ujung gang yang menghadap laut. Kedai Kopi Ayu. Bapaknya, Pak Hamzah, yang memberi nama itu ketika Andini lahir, karena katanya kedai dan anak perempuannya harus tumbuh bersama. Dindingnya dicat hijau pupus, atapnya seng yang berisik setiap kali hujan, dan di depannya ada dua bangku panjang dari kayu kelapa tempat para nelayan duduk sebelum melaut. Ibunya, Bu Nurul, menyangrai kopi sendiri di belakang kedai setiap Kamis sore, dan bau sangrainya bisa tercium sampai ke jalan besar.

Lihat selengkapnya