Mataram, 21 April 2027
Pada Hari Kartini, Andini bangun lebih pagi daripada ayam tetangga dan berdiri di depan televisi tabung dengan wajah orang yang sedang menonton pertunjukan sirkus.
“Mereka memakai kebaya sungguhan,” katanya takjub ketika siaran berita menayangkan anak-anak sekolah berbaris di sepanjang jalan dengan kebaya, kain songket, dan sanggul yang kebesaran. “Dijahit tangan. Lalu mereka berjalan keliling kota di bawah matahari, dan orang-orang menontonnya dari pinggir jalan.”
“Di tahunmu tidak begitu?”
“Di tahunku, Hari Kartini hanya sebuah pemberitahuan di gawai. Ada bingkai kebaya untuk foto profil, dan semuanya selesai sebelum makan siang.” Ia duduk di lantai, memeluk lutut, matanya tidak lepas dari layar yang bergaris-garis. “Dan tidak ada yang peduli. Orang-orang memasangnya sambil menunggu kereta, lalu lupa untuk apa.” Ia menunjuk seorang nenek di televisi yang dituntun cucunya ke barisan depan dengan langkah tertatih, mengenakan kebaya ungu yang warnanya sudah pudar. “Lihat dia. Dia datang dengan baju terbaiknya.”
Aku tidak pernah memikirkan Hari Kartini sebagai sesuatu yang indah. Bagiku, Hari Kartini adalah jalanan macet dan anak-anak yang menangis karena sanggulnya terlalu berat. Tetapi melihatnya melalui mata Andini, seperti melihat rumah sendiri melalui mata tamu, aku mulai memperhatikan hal-hal yang selama ini tidak pernah kuperhatikan. Bedak yang terlalu tebal di pipi anak-anak TK. Bapak-bapak yang memotret dengan ponsel yang layarnya retak. Ibu-ibu yang membawa termos teh dan gorengan untuk para guru.
Andini tidak punya kebaya. Ia juga tidak punya KTP. Di tahun ini, secara resmi, ia adalah seorang anak perempuan yang hilang sejak tahun 2014 dan tidak pernah ditemukan.
“Sekarang aku yang jadi hantu,” katanya ketika aku mengatakan itu, dan ia tertawa. Namun aku mencatat bagaimana tawanya berhenti sedikit terlalu cepat.
Lalu Satria menatap Andini dari ujung rambut sampai ujung sandal, lalu menatapku, lalu menatap Andini lagi.
“Sepupu dari desa,” kataku sebelum ia sempat bertanya.
Di sampingku, Andini menunduk sambil menggigit bibir, dan bahunya bergetar menahan tawa. Aku tidak mengerti kenapa, sampai ia berbisik di telingaku ketika Lalu Satria berbalik untuk mengambil kursi plastik. “Sekarang kamu yang menjaminku.” Dan aku teringat pada catatan di buku tulis biru, pada robot patroli dan empat belas hari, dan aku ikut menahan tawa sampai mataku berair.
Lalu Satria mengizinkan Andini duduk di kios selama aku bekerja. Satu jam kemudian, ia menyesali keputusan itu, karena Andini sudah mengambil alih buku kas yang berantakan dan menemukan bahwa selama tiga bulan terakhir ada selisih uang sebesar dua ratus empat puluh ribu rupiah yang tidak tercatat.
“Dari mana kamu belajar akuntansi?” tanya Lalu Satria, setengah kagum setengah tersinggung.
“Saya analis data,” jawab Andini dengan polos. Lalu, ketika melihat wajah bingung Lalu Satria, ia menambahkan, “Di desa.”
Sejak hari itu, Lalu Satria memanggilnya Bu Bendahara, dan setiap sore ia membawakan martabak untuk kami bertiga, dan ia tidak pernah lagi bercerita tentang teknisi terdahulu yang mencuri kipas angin dan istri orang.
Di pasar Kebon Roek, Andini menangis di depan tumpukan kangkung. Bukan tangisan sedih. Ia berdiri di lorong pasar yang becek dan bau, dikelilingi ibu-ibu yang menawar dengan suara keras dan tukang ikan yang menyiramkan air es ke lapaknya, dan ia memegang seikat kangkung dengan kedua tangan seperti memegang bayi. Daunnya masih basah. Akarnya masih berlumpur. Seekor ulat kecil menggeliat di salah satu batangnya.
“Ini tumbuh di tanah,” bisiknya. “Di sawah sungguhan. Ada ulatnya.”
Penjual kangkung, seorang ibu bertubuh gempal dengan kerudung yang dililitkan asal, menatap kami dengan curiga. “Kalau tidak mau ada ulatnya, beli yang di supermarket, Mbak.”
“Tidak, tidak!” Andini mengusap matanya dengan punggung tangan. “Saya mau yang ada ulatnya. Lima ikat.”
Kami pulang dengan dua kantong plastik penuh sayur yang tidak tahu harus diapakan, karena ternyata Andini, yang bisa membaca anomali waktu di dalam jutaan baris data kependudukan, tidak pernah memasak sayur seumur hidupnya. Di tahun 2050, sayur datang dalam bentuk lembaran kering yang tinggal direndam. Malam itu kami makan plecing kangkung yang terlalu pedas dan terlalu asin, dan Andini menghabiskan dua piring sambil terus-menerus minum air, dan itu adalah makan malam terbaik yang pernah kumakan di rumah ini sejak Ayah meninggal.
Hari Minggu, aku mengajaknya ke Narmada. Ayah dulu membawaku ke sana setiap Minggu pagi untuk makan sate bulayak di bawah pohon beringin dekat gerbang taman. Penjualnya masih ada, seorang perempuan berusia hampir enam puluh dengan wajah ramah dan tangan yang tidak pernah berhenti mengipasi tungku arang. Aku tidak ingat namanya, tetapi ia ingat wajahku. “Anak Pak Iwan,” katanya begitu aku duduk. “Sudah besar sekarang. Bapakmu dulu selalu pesan dua puluh tusuk, sepuluh untukmu, sepuluh untuknya, padahal kamu hanya sanggup makan empat.”
Andini tidak menyentuh satenya. Ia menatap perempuan itu dengan mata yang aneh, seperti seseorang yang melihat hantu, tetapi hantu yang ramah. Ia menatap tungku arangnya. Ia menatap tangan perempuan itu yang mengipas dengan irama yang sama, berulang-ulang.
“Ada apa?” bisikku.
“Aku pernah makan di tempatnya,” bisik Andini balik. “Di 2050. Di balik pintu besi di belakang pasar Kebon Roek. Kamu, aku, dan Rizka. Rasanya ilegal di sana. Dia sudah delapan puluh tahun dan matanya hampir buta.” Ia menelan ludah. “Dia bilang kamu makan seperti orang yang sudah lama tidak pulang.”
Perempuan itu meletakkan sepiring lontong di depan kami, lalu menatap Andini yang belum makan sama sekali. Ia tersenyum, dan kerutan di sudut matanya, kerutan yang dua puluh tiga tahun lagi akan menjadi lebih dalam, melengkung lembut.
“Ayo dimakan, Nak,” katanya. “Kamu kelihatan seperti orang yang sudah lama pergi jauh.”
Andini makan. Ia menghabiskan sepuluh tusuk sate dan dua lontong, dan sepanjang makan ia tidak berkata apa pun, dan aku tidak bertanya. Aku hanya merasakan sesuatu yang dingin dan hangat sekaligus merayap di tengkukku. Perasaan bahwa waktu adalah sebuah lingkaran, dan kami sedang berjalan di atasnya, melewati tempat-tempat yang pernah dan akan kami lewati, dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu di mana lingkaran itu mulai atau berakhir.
Sore harinya, di pantai Ampenan, aku mengajarinya naik sepeda. Sepeda tua Ayah. Sepeda onthel hitam dengan boncengan besi yang sudah berkarat, sadel kulit yang retak, dan bel yang hanya berbunyi kalau dipukul dua kali. Di tahun 2050, kata Andini, sepeda sudah dilarang di jalan-jalan kota karena mengganggu sinkronisasi lalu lintas, dan satu-satunya sepeda yang pernah ia lihat adalah sepeda statis di pusat kebugaran.
Ia jatuh tujuh kali. Sekali ke pasir, sekali ke genangan air laut, dan lima kali ke arahku, karena entah bagaimana setiap kali kehilangan keseimbangan ia selalu oleng ke kiri, ke tempat aku berdiri memegangi sadelnya. Aku tidak keberatan. Di jatuh yang kedelapan, aku melepaskan sadelnya diam-diam, dan ia meluncur sendirian sejauh dua puluh meter di sepanjang bibir pantai sebelum menyadari bahwa tidak ada yang memeganginya lagi.
Ia tidak jatuh. Ia berteriak, setengah takut setengah gembira, dan rambutnya berkibar di belakangnya, dan pita kuningnya terlepas dan terbang ke arahku seperti seekor kupu-kupu.
Aku menangkapnya. Tanpa menghentikan waktu, tanpa melompat, hanya dengan mengulurkan tangan di saat yang tepat.