Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #18

Telepon Tanpa Suara

Mataram, 10 Mei 2027

Aku tidak tidur lagi setelah telepon itu, tapi duduk di sofa sampai azan subuh, dengan ponsel tergeletak di atas meja seperti binatang kecil yang mungkin masih bisa menggigit. Andini keluar dari kamar belakang sepuluh menit sebelum imsak. Matanya sembap, tetapi ia tersenyum, menyalakan kompor, memanaskan sisa sayur, dan menyeduh kopi seolah tidak ada yang terjadi. Ketika aku bertanya kenapa ia menangis semalam, ia menjawab bahwa ia bermimpi tentang Rizka.

Aku tahu ia berbohong. Ia berbohong dengan cara yang sama seperti Ayah dulu berbohong ketika bilang bengkelnya ramai, padahal sudah seminggu tidak ada satu motor pun yang masuk. Mata mereka sama-sama menatap sesuatu yang agak di sebelah kiri wajahku.

Setelah ia kembali ke kamar untuk salat, aku membuka riwayat panggilan. Aku pernah bekerja dua tahun sebagai teknisi jaringan. Aku tahu seperti apa nomor telepon yang wajar. Nomor yang tercatat di layarku terdiri atas tujuh belas digit, tanpa kode negara yang kukenal, tanpa awalan operator mana pun. Durasi panggilan tertulis nol detik, padahal aku ingat betul mendengarkan desis itu selama hampir satu menit. Dan di bawahnya, di kolom waktu, tidak tertulis 03.11, tanggal sepuluh Mei. Yang tertulis adalah 14/08/2014, 23.11.

Aku menatap angka itu lama, sampai layar ponsel meredup sendiri. Tanggal itu menghantamku seperti pukulan di ulu hati, meskipun aku tidak bisa langsung menjelaskan kenapa. Lalu aku ingat. Konter pulsa di ujung gang. Lelaki tua bersinglet yang mengisap kretek. Musibah di kedai kopi, tiga hari sebelum tujuh belasan. Malam yang sama ketika Ayah ditemukan tergeletak di jalan.

Seseorang menelepon dari malam itu.

 

Lalu Satria meminjamkan alat-alatnya tanpa banyak bertanya, karena Lalu Satria tidak pernah banyak bertanya selama pekerjaannya dikerjakan dan martabaknya dimakan. Aku mengambil penganalisis spektrum tua dari lemari belakang kios, sebuah kotak besi seberat batu bata dengan layar hijau monokrom, dan menyambungkannya ke ponselku dengan kabel yang disolder seadanya. Rekaman panggilan semalam masih tersimpan di memori, karena aku menyalakan perekam otomatis sejak bulan Februari, kebiasaan lama dari pekerjaan lamaku. Aku memutarnya berulang-ulang, pelan, lebih pelan, sampai desis itu berubah menjadi gelombang-gelombang yang bisa kuamati satu per satu di layar.

Desis itu bukan desis biasa. Di bawah lapisan derau acak, ada pola. Sebuah denyut yang muncul kira-kira setiap satu detik, tetapi tidak persis satu detik. Kadang sedikit lebih cepat, kadang sedikit lebih lambat, seperti detak jantung orang yang sedang berlari. Aku mengenali pola itu sebelum otakku sempat memberinya nama. Tanganku tahu lebih dulu. Tanganku yang selama dua belas tahun menyetel jam pendulum Ayah setiap hari Minggu.

Bunyi bandul. Jam pendulum yang berdetak tidak teratur. Aku memperlambat rekaman itu sampai seperempat kecepatan dan menyaring semua frekuensi di atas dua ribu hertz. Desisnya mereda. Dan di baliknya, sayup sekali, aku mendengar bunyi lain. Bunyi air yang memukul sesuatu yang tipis dan bergelombang. Hujan di atas atap seng. Lalu, di detik ketiga puluh delapan, suara itu.

Tung... gu...

Suara lelaki. Serak. Bukan bisikan, tetapi suara yang terdengar seperti diucapkan dari dasar sumur, atau dari ujung lorong yang sangat panjang. Aku memutarnya lagi, dan lagi. Bulu kudukku meremang setiap kali, karena setiap kali aku memutarnya, aku merasakan sesuatu di dalam dadaku menegang, denyut hangat di bawah tulang dada yang selama empat bulan ini hanya berupa bara kecil, kini menyala seperti bara yang ditiup.

Bau karat. Untuk sesaat, di dalam kios yang penuh bau solder dan debu, aku mencium bau karat dan asap tua.

“Kamu kenapa?” tanya Lalu Satria dari meja depan. “Mukamu pucat seperti habis lihat tagihan listrik.”

“Tidak apa-apa, Bang.” Aku mencabut kabelnya. Jari-jariku gemetar. “Boleh aku pulang lebih cepat hari ini?”

 

Perpustakaan Daerah di Jalan Majapahit menyimpan arsip koran lokal dalam bentuk pindaian digital yang bisa dibaca di komputer-komputer tua di lantai dua, asalkan kamu tidak keberatan menunggu setiap halaman terbuka selama hampir satu menit.

Andini ikut. Aku tidak memintanya, dan ia juga tidak meminta izin. Ketika aku pulang untuk mengambil KTP, ia sudah berdiri di depan pintu dengan tas kainnya, dan ketika aku bilang akan ke perpustakaan, ia hanya mengangguk seolah sudah tahu sejak pagi. Selama perjalanan dengan sepeda motor, ia memeluk pinggangku lebih erat daripada biasanya.

Edisi 15 Agustus 2014 terbuka dengan sangat lambat, garis demi garis, dari atas ke bawah, seperti tirai yang diangkat perlahan.

Beritanya ada di halaman enam, di bawah iklan toko emas dan di atas jadwal kapal ke Bali. Dua berita pendek yang ditulis bersebelahan, seolah redaksinya sendiri tidak yakin apakah keduanya berhubungan.

Yang pertama berjudul Warga Ampenan Ditemukan Meninggal di Tepi Jalan. Isinya hanya tiga paragraf. Seorang lelaki bernama Iwan Prasetyo, empat puluh satu tahun, montir, ditemukan tidak bernyawa di jalan setapak yang menghubungkan permukiman di belakang pasar dengan kawasan pantai, sekitar pukul setengah dua belas malam. Tidak ditemukan tanda-tanda perampokan. Diduga serangan jantung. Meninggalkan seorang istri dan seorang putra.

Seorang putra. Aku membaca kata itu tiga kali.

Yang kedua berjudul Pasangan Pemilik Kedai Kopi Tewas, Putri Mereka Hilang. Sedikit lebih panjang. Hamzah dan Nurul, pemilik Kedai Kopi Ayu di ujung gang menghadap laut, ditemukan meninggal di dalam kedai mereka. Polisi menduga perampokan, meskipun laci uang tidak tersentuh. Putri tunggal mereka, Ayu Andini, sepuluh tahun, tidak ditemukan. Warga diminta melapor bila melihat seorang anak perempuan berambut sebahu, bermata sipit, kemungkinan membawa sebuah boneka.

Di samping berita itu ada sebuah foto hitam putih yang buram. Kerumunan warga di depan sebuah bangunan kecil yang dipasangi garis polisi. Orang-orang bersarung, ibu-ibu berkerudung yang menutup mulut dengan tangan, beberapa bocah yang mengintip dari sela-sela kaki orang dewasa.

Andini mencondongkan tubuh ke arah layar. Ia menyentuh satu titik di tepi kanan foto itu dengan ujung jarinya. Seorang lelaki yang berdiri agak terpisah dari kerumunan, di bawah bayangan sebatang pohon ketapang. Ia mengenakan topi berpinggiran lebar yang menutupi separuh wajahnya. Ia tidak menatap kedai. Ia menatap ke arah kamera.

“Itu dia,” bisik Andini. “Jaya.”

Aku tidak mengenali wajah itu. Aku pernah bertemu dengannya, menurut buku tulis biru di kotak sepatuku, pernah berkelahi dengannya di sebuah gua, dan punggungku menyimpan buktinya. Namun wajahnya sudah lenyap dari ingatanku bersama semua hal lain dari tahun 2050. Yang tersisa hanya perasaan dingin di tengkuk ketika menatap foto itu, seperti perasaan seekor kelinci yang mencium bau sesuatu yang tidak pernah dilihatnya.

“Dia tidak berubah,” kata Andini pelan. “Sedikit pun. Wajah yang di foto ini, wajah yang kulihat di gua, dan wajah yang kulihat di eskalator The Bigger Mart. Sama persis.” Ia menarik tangannya dari layar, lalu memeluk lengannya sendiri. “Lestari benar.”

Aku tidak tahu siapa Lestari. Aku hanya mengangguk. Lalu mataku bergeser ke sisi kiri foto. Di antara kaki-kaki orang dewasa, setengah tersembunyi di balik sarung seorang perempuan bertubuh kecil, ada seorang bocah laki-laki. Kurus, berambut cepak, mengenakan kaus yang kebesaran. Wajahnya buram, tetapi aku bisa melihat bahwa ia sedang menangis. Dan di dagunya, samar sekali di antara titik-titik hitam putih cetakan koran, ada garis kecil berbentuk bulan sabit.

Perempuan bertubuh kecil itu Bibi Sum. Bocah itu aku. Namun aku tidak ingat malam itu. Aku tidak pernah ingat. Selama dua belas tahun, malam itu adalah sebuah ruangan terkunci di dalam kepalaku, dan aku tidak pernah tahu bahwa aku pernah berdiri di depan kedai itu, di tengah kerumunan itu, menangisi sesuatu yang tidak bisa kuingat. Aku menatap bocah di dalam foto itu, dan bocah itu menatap kedai yang dipasangi garis polisi, dan di dalam kedai itu, beberapa jam sebelumnya, seorang anak perempuan bersembunyi di bawah ranjang dengan sebuah boneka.

Di sampingku, Andini menangis tanpa suara.

Lihat selengkapnya