Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #19

Misa Penyelamatan

Mataram, 12 Mei 2027

Pukul dua lewat sebelas menit siang, semua radio di kios Lalu Satria menyala bersamaan. Ada tujuh radio di rak servis hari itu. Radio transistor milik tukang parkir, radio tape usang milik guru ngaji, radio kecil berbentuk kaleng susu milik seorang anak SMP yang menangis ketika menitipkannya. Tidak satu pun dicolokkan ke listrik. Sebagian bahkan tidak punya baterai. Namun pukul dua lewat sebelas, ketujuhnya menyala serentak, jarum-jarum penunjuk gelombangnya bergetar, dan dari ketujuh pengeras suaranya keluar desis yang sama.

Lalu Satria menjatuhkan martabaknya. Aku tidak mendengar bunyi martabak itu jatuh. Aku hanya mendengar desisnya, dan di balik desis itu, bukan suara lelaki yang serak, melainkan suara lain. Suara perempuan, sangat jauh, sangat lirih, mengucapkan satu kata yang terpotong-potong oleh derau.

Gal... ang...

Lalu ketujuh radio itu mati bersamaan, dan kios menjadi sunyi sekali, kecuali suara kipas angin dan napasku sendiri. Denyut di bawah tulang dadaku menyentak seperti ditarik tali. Bukan ke arah mana pun di peta. Ke arah rumah.

 

Pintu rumah terbuka. Bukan didobrak ataupun dirusak. Terbuka, seperti pintu yang ditinggalkan seseorang yang berniat kembali sebentar lagi. Di meja ruang tamu ada gelas kopi Andini, masih penuh, belum diminum karena ia berpuasa, dengan sendok kecil berpita benang marun masih tegak di dalamnya. Gula aren di dasar gelas belum larut seluruhnya. Kopinya masih hangat.

Jam pendulum masih berdetak.

“Ayu?”

Kamar belakang kosong. Kasur sudah dirapikan, selimut dilipat di ujung, bantal ditepuk-tepuk sampai rata, seperti kamar tamu yang dirapikan sebelum tamunya pulang. Kalender tahun 2014 yang selama ini menempel di dinding, kalender milik Ibu yang tidak pernah diturunkan, sudah diturunkan dan diletakkan di atas meja rias. Di sebelahnya, buku catatan bersampul kain milik Andini terbuka.

Ia meninggalkannya untukku. Aku tahu itu karena buku itu terbuka tepat di halaman yang seharusnya ia sembunyikan, dan pensilnya diletakkan melintang di atas halaman itu, seperti penanda.

Di bagian atas halaman, sebuah tanggal dilingkari tiga kali dengan tinta biru, begitu keras sampai kertasnya sedikit sobek. Rabu, 12 Mei 2027. Di bawahnya, tulisan tangan yang rapi dan miring, ditulis berminggu-minggu lalu dengan tinta yang sudah sedikit pudar.

Hal-hal yang harus terjadi. Jahit sweternya kalau robek. Buat dia cukup marah untuk kembali ke malam itu. Buat dia cukup bahagia untuk tidak menyesal.

Dan di bawahnya lagi, dengan tinta yang masih baru, ditulis pagi ini.

Maaf aku tidak bilang. Kalau aku bilang, kamu akan mencoba mengubahnya, dan kamu akan membenci dirimu sendiri ketika tidak bisa. Aku tidak mau itu menjadi hal terakhir yang kuberikan padamu. Kopinya sudah kuseduh. Jangan lupa diaduk. A.

Aku membacanya sekali. Lalu sekali lagi. Lalu aku membaca kalimat kedua di daftar itu, buat dia cukup marah untuk kembali ke malam itu, dan sesuatu di dalam dadaku yang selama empat bulan ini hanya berupa bara kecil, meledak. Lampu-lampu di seluruh rumah pecah bersamaan.

 

Aku mencarinya di semua tempat yang pernah kami datangi bersama, dan di semua tempat yang tidak pernah kami datangi. Di konter pulsa di ujung gang, lelaki tua bersinglet bilang ia melihat seorang perempuan bergaun merah muda berdiri lama di depan tokonya tadi pagi, menatap dinding yang catnya mengelupas. Ia mengira perempuan itu ingin membeli pulsa, tetapi perempuan itu hanya menyentuh dinding hijau di balik cat putih, lalu pergi ke arah pantai.

Di pantai, tidak ada siapa-siapa selain nelayan yang menjemur jala. Di TPU Karang Medain, bunga kenanga di atas makam Pak Hamzah dan Bu Nurul masih segar. Lebih segar daripada yang kami taburkan kemarin. Seseorang datang lagi tadi pagi.

Aku mencoba melompat. Aku berdiri di tengah pemakaman, memejamkan mata, membayangkan Andini, membayangkan pita kuningnya yang miring, membayangkan gaun merah mudanya, dan aku mendorong. Aku tahu tidak boleh mendorong. Aku tidak ingat siapa yang pernah mengatakannya padaku, tetapi aku tahu. Aku tetap mendorong.

Dunia terlipat dengan kasar, seperti kertas yang diremas. Rasanya seperti tenggelam di air es sambil menelan segenggam paku. Ketika aku membuka mata, aku tidak berada di samping Andini. Aku berada di dalam selokan kering dua ratus meter dari pemakaman, dengan darah mengucur dari hidung dan seekor kucing kampung yang menatapku dengan jijik dari atas tembok.

Di kota, kronon itu pemalu. Aku membaca kalimat itu di buku tulis biru. Aku tidak ingat siapa yang mengucapkannya.

Lalu Satria menemukanku di pinggir jalan setengah jam kemudian. Ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya menyuruhku naik ke boncengan motornya, dan sepanjang sore ia membawaku berkeliling kota. Narmada. Epicentrum. Pasar Kebon Roek. Taman-taman, masjid-masjid, terminal. Ia menelepon Bibi Sum. Bibi Sum menelepon tetangga-tetangganya. Tetangga-tetangganya menelepon orang-orang yang mereka kenal. Pada pukul lima sore, separuh Ampenan sedang mencari seorang perempuan bergaun merah muda dengan pita kuning yang miring.

Tidak ada yang menemukannya. Aku menelepon nomor tujuh belas digit itu berulang-ulang. Setiap kali, ponselku hanya mengeluarkan nada sibuk yang panjang dan datar, seperti nada mesin di rumah sakit ketika jantung seseorang sudah berhenti.

Lihat selengkapnya