Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #20

Menerima Diri

Mataram, 13 Mei 2027

Pada pukul tiga dini hari, aku mencoba menggerakkan bandul itu dengan tanganku sendiri. Ayah selalu bilang jam pendulum tidak boleh didorong terlalu keras. Cukup disentuh sedikit di ujung bandulnya, ke kanan, lalu dilepaskan, dan jam itu akan menemukan iramanya sendiri. Aku melakukannya persis seperti yang ia ajarkan, dengan jari telunjuk, pelan sekali. Bandul itu berayun satu kali ke kanan, satu kali ke kiri, lalu berhenti lagi di tengah, tegak lurus, seolah ada tangan yang tidak terlihat menahannya.

Aku mencobanya lagi. Dan lagi. Pada percobaan kesepuluh, aku mendorongnya dengan keras, dan bandul itu membentur dinding kayu di dalam kotaknya dengan bunyi yang membuatku tersentak, lalu tetap berhenti.

Aku duduk kembali di lantai. Semua orang yang dekat denganku pergi. Itu pikiran pertama yang datang, dan begitu ia datang, pikiran-pikiran lain mengikutinya seperti semut yang mengikuti jejak gula. Ayah pergi pada malam empat belas Agustus, ketika aku berumur sebelas tahun. Ibu pergi tiga bulan kemudian, ketika semua jam di rumah ini berhenti bersamaan. Nadia pergi. Pekerjaanku pergi. Dan sekarang Andini, seorang gadis yang tidak bisa kuingat tetapi yang meninggalkan seluruh hidupnya di tahun 2050 untuk datang kepadaku, juga pergi, dan aku bahkan tidak tahu ke mana.

Anak iblis, bisik suara Gede di kepalaku, suara bocah berumur sembilan tahun di halaman SD Negeri 5 Ampenan. Anak iblis. Setiap orang yang dekat dengannya celaka.

Mungkin ia benar. Mungkin Ibu benar ketika menatapku dengan mata seperti itu. Mungkin semua orang di gang ini benar ketika mereka berbisik-bisik di belakangku selama bertahun-tahun.

Aku berdiri dan keluar dari rumah tanpa mengunci pintu.

 

Dermaga tua di pantai Ampenan sudah tidak dipakai sejak sebelum aku lahir. Tiang-tiang besinya yang dibangun pada zaman Belanda masih berdiri, berkarat dan ditumbuhi kerang, menjulur ke laut seperti jari-jari raksasa yang membusuk. Papan-papan kayunya sudah lama hilang, kecuali beberapa bilah di ujung, tempat para pemancing malam biasa duduk. Malam ini tidak ada pemancing. Hanya ombak yang memukul tiang-tiang besi dengan irama yang lambat, dan angin laut yang dingin, dan lampu-lampu kapal nelayan yang berkelip jauh di tengah Selat Lombok.

Aku duduk di bilah papan paling ujung, kakiku menjuntai di atas air hitam. Aku tidak berniat melakukan apa pun. Aku hanya ingin pergi. Bukan ke suatu tempat. Hanya pergi. Aku memejamkan mata dan merasakan denyut hangat di bawah tulang dadaku, Penggerak yang kata buku tulis biru itu sudah kuwarisi dari Ayah, dan untuk pertama kalinya aku tidak membayangkan tujuan. Aku tidak membayangkan tempat, wajah, atau waktu. Aku hanya membayangkan kekosongan. Ruang di antara. Tempat di mana tidak ada yang bisa pergi meninggalkanku karena tidak ada siapa pun di sana.

Ujung-ujung jariku mulai terasa dingin. Ketika aku membuka mata, aku melihatnya. Tanganku memudar. Bukan menghilang seketika, tetapi perlahan, seperti tinta yang meresap ke dalam air. Kuku-kukuku menjadi bening. Kulitku menjadi tipis dan berkilau samar, dan di dalamnya, partikel-partikel cahaya keemasan berputar-putar seperti debu di bawah sinar matahari. Aku tidak merasakan sakit. Aku hanya merasakan sesuatu yang mirip kantuk, kantuk yang hangat dan berat, seperti ditarik ke dalam tidur yang tidak akan pernah berakhir.

Mungkin ini lebih baik. Mungkin ini yang seharusnya terjadi sejak dulu. Lalu, dari suatu tempat yang sangat jauh, dari suatu tempat yang tidak bisa kuingat tetapi bisa kurasakan, sebuah suara memotong kantuk itu seperti pisau memotong benang.

Kamu bukan anak iblis. Kamu adalah orang yang...

Suara Andini. Kalimat yang terpotong. Aku tidak tahu kapan atau di mana ia mengucapkannya, tetapi aku tahu ia pernah mengucapkannya, dengan suara yang pecah, di tempat yang dingin, sambil memegang tanganku yang mulai memudar persis seperti ini.

Kamu adalah orang yang apa? Aku ingin tahu akhir kalimat itu. Hanya itu. Bukan karena aku sudah tidak ingin pergi, tetapi karena aku tidak bisa pergi sebelum mendengar akhir kalimat itu. Dan satu-satunya cara untuk mendengarnya adalah dengan mengingat.

Aku menarik napas. Aku tidak mendorong. Aku tidak mencari tujuan. Aku hanya mendengarkan. Ombak yang memukul tiang besi. Angin. Jantungku yang berdetak lambat. Dan di bawah semua itu, getaran halus yang ada di mana-mana, ribuan benang yang saling bersilangan, kain yang tidak pernah berhenti ditenun.

Tidak ada detak jam yang bisa kuikuti malam ini. Jam itu sudah berhenti. Jadi aku mengikuti keheningannya.

Papan di bawahku runtuh ke dalam gelap.

 

Bau oli, bau besi panas, bau kretek murahan dan kopi tubruk yang terlalu manis. Aku tahu di mana aku berada sebelum gelap itu memberi bentuk apa pun. Aku tidak ingat pernah datang ke sini sebelumnya, tetapi tubuhku ingat, seperti tubuhku ingat cara mengaduk kopi tiga kali searah jarum jam. Bengkel kecil di samping rumah. Jeriken bekas. Obeng di tangan yang hitam oleh oli. Kaus oblong putih kusam dengan robekan kecil di bahu kiri.

Ayah duduk di atas jeriken itu dan menatapku. Kali ini ia tidak tersenyum.

“Kamu hampir pergi, Nak.”

“Aku tahu.”

“Kamu hampir pergi ke tempat yang bahkan aku tidak bisa menjemputmu.” Ia meletakkan obengnya di lantai. Tangannya gemetar. Aku belum pernah melihat tangan Ayah gemetar, bahkan ketika ia memperbaiki kabel yang masih teraliri listrik. “Ruang di antara itu bukan tempat istirahat. Itu tempat orang-orang yang terurai. Mereka tidak tidur di sana. Mereka hanya lupa bahwa mereka pernah ada.”

Aku duduk di lantai bengkel yang kotor. Rasanya nyata sekali. Dingin semen di bawah telapak tanganku. Serbuk besi yang menempel di kulit.

“Kenapa Ayah tidak pernah bilang?” Suaraku pecah. “Tentang semuanya. Tentangku. Tentang kenapa semua orang selalu pergi.”

“Karena aku pengecut,” katanya sederhana. “Dan karena aku pikir aku masih punya waktu. Aku sudah mengatakannya padamu, di bawah batu datar di Tebilin, beberapa bulan yang lalu bagimu. Kamu tidak ingat.” Ia menatapku lama. “Malam ini kamu akan ingat. Tapi sebelumnya, ada sesuatu yang harus kamu dengar lebih dulu. Sesuatu yang dulu kubilang belum siap kamu dengar.”

Ia menarik napas panjang, seperti orang yang hendak menyelam.

“Kamu harus tahu apa yang terjadi pada Darma.”

Lihat selengkapnya