Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #21

Kenyataan Pahit

Mataram, 13 Mei 2027

Sepanjang hari itu, aku hidup dengan dua ingatan sekaligus, dan keduanya sama-sama benar. Di satu sisi, aku ingat Andini menuangkan air ke gelas kopiku kemarin pagi, mengenakan gaun merah muda, berkata pulanglah tepat waktu. Di sisi lain, aku ingat sebuah makam tanpa nama di bawah pohon kamboja di tepi lereng Tebilin, bunga-bunga kuning segar di atasnya, dan Mahesa yang berdiri di sana dengan punggung membungkuk. Seseorang yang pernah kujanjikan akan kujaga, katanya. Dan aku gagal.

Aku bertanya apakah aku mengenalnya. Ia menjawab, belum. Sekarang aku sudah.

Aku tidak menangis. Aku pikir aku akan menangis, tetapi tangis itu seperti berada di balik kaca tebal, bisa kulihat tetapi tidak bisa kusentuh. Aku mandi. Aku memakai sweter marun dengan jahitan tangan Andini di punggungnya, dua jahitan yang kini bertumpuk, satu dari sebuah desa di tahun 2050 dan satu dari kamar belakang rumah ini. Aku menyelipkan foto cetak instan dan buku tulis biru di sakunya. Lalu aku duduk di bawah jam pendulum yang masih membisu, jarumnya tertahan di pukul sebelas lewat sepuluh, dan aku menunggu malam.

Di dadaku, jam saku berkarat itu berdetak. Aku tidak bisa melihatnya, tetapi aku bisa merasakannya, detak kecil yang tenang di bawah tulang dada, berbeda dari denyut liar yang dulu selalu meledak setiap kali aku marah. Detak itu tidak mendorong, hanya menunggu, sepertiku.

Bibi Sum datang menjelang asar dengan sepanci bubur kacang hijau. Ia tidak bertanya apakah Andini sudah ditemukan. Ia melihat wajahku, melihat jam yang berhenti, dan meletakkan pancinya di meja dapur dengan sangat pelan, seolah suara sekecil apa pun bisa memecahkan sesuatu.

“Bapakmu juga duduk seperti itu,” katanya. “Malam sebelum dia pergi ke kedai Hamzah. Duduk diam di bawah jam itu, seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.”

“Apa yang Bibi lakukan waktu itu?”

“Tidak ada.” Ia mengusap matanya dengan ujung kerudung. “Itu yang selalu kusesali. Aku tidak melakukan apa-apa.” Ia menatapku. “Jadi kali ini aku mau melakukan sesuatu. Makan buburnya. Kamu tidak boleh pergi ke mana pun dengan perut kosong.”

Aku memakan buburnya. Rasanya manis dan hangat, dan untuk pertama kalinya hari itu, tangis di balik kaca tebal itu nyaris pecah.

 

Taman Udayana sepi ketika aku tiba pukul setengah dua belas malam. Lampu-lampu jalan menyala kekuningan di sepanjang jalur pejalan kaki. Kolam air mancur di tengah taman diam dan gelap, permukaannya memantulkan bulan yang tinggal separuh. Seorang petugas kebersihan sedang menyapu daun-daun trembesi di ujung taman, lalu pergi. Seekor kucing belang menatapku dari bawah bangku, lalu ikut pergi.

Aku duduk di bangku yang sama seperti pada malam bulan April, ketika gerbang terbuka di atas kolam dan seorang gadis berpita kuning melangkah keluar dari cahaya. Aku memejamkan mata dan mencoba melakukan apa yang diajarkan Mahesa di batu datar, apa yang diajarkan Ayah di dalam gelap. Jangan mendorong. Dengarkan.

Di kota, kain waktu nyaris tidak terdengar. Gelombang dari menara-menara pemancar, kabel-kabel listrik, jutaan ponsel di jutaan saku, semuanya bergemuruh seperti pasar di siang hari. Tetapi di bawah gemuruh itu, kali ini, aku bisa mendengar detak jam saku di dadaku dengan jelas. Dan dengan detak itu sebagai pegangan, aku bisa mendengar benang-benang kain di sekitarku, samar, tetapi ada. Seperti suara seseorang yang memanggil namamu dari seberang jalan yang ramai.

Pukul dua belas kurang satu menit, salah satu benang itu robek.

Aku membuka mata. Udara di atas kolam bergetar. Sebuah garis hitam muncul di sana, tegak lurus, setinggi pintu, seperti goresan pisau di atas kanvas. Garis itu melebar dengan bunyi yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi terasa di gigi dan tulang belakang, bunyi kain tua yang dirobek paksa. Dari dalamnya merembes bau karat dan asap tua.

Jaya melangkah keluar. Ia menggendong seseorang di kedua lengannya.

Aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak pagi, sejak ingatanku kembali, sejak aku melihat makam itu di dalam kepalaku dengan jelas. Namun tahu dan melihat adalah dua hal yang berbeda. Aku sudah belajar itu di bawah menara pangan di Ampenan. Aku mempelajarinya lagi sekarang, dan pelajaran ini jauh lebih berat.

Gaun merah muda. Warna jambu air, kerah bundar, ujungnya basah oleh sesuatu yang mungkin hanya embun. Rambut sebahu yang jatuh terurai di lengan Jaya. Dan di rambut itu, terikat miring dengan simpul yang jelek sekali, sehelai pita kuning.

Wajah Andini tampak tenang, seperti orang yang tertidur setelah hari yang panjang. Matanya terpejam. Bibirnya sedikit terbuka. Tidak ada luka yang bisa kulihat, tidak ada darah, tidak ada apa pun yang mengerikan. Hanya satu hal yang hilang. Cahaya samar keemasan di bawah kulitnya, cahaya yang dulu bisa kulihat ketika aku memegang tangannya dalam gelap dan yang selalu kukira hanya imajinasiku, kini tidak ada. Kulitnya hanya kulit. Pucat, dingin, dan diam.

Jaya membaringkannya di bangku di tepi kolam dengan hati-hati sekali. Dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah. Ia merapikan ujung gaunnya, meletakkan kedua tangan Andini di atas perutnya. Lalu ia mundur dua langkah dan berdiri di sana, terengah-engah, menatapku.

Ia bercahaya. Retakan-retakan gelap di kulitnya yang kulihat kemarin malam kini menyala keemasan dari dalam, seperti lahar yang mengalir di bawah kerak batu. Cahaya itu tidak tenang. Cahaya itu berdenyut tidak beraturan, menyala, meredup, menyala lagi, dan setiap kali menyala, Jaya meringis seperti orang yang tersiram air mendidih.

“Pukul sebelas lewat sepuluh,” katanya dengan suara serak. “Kemarin malam. Kalau kamu ingin tahu.”

Aku tidak ingat berdiri. Aku tidak ingat berlari. Yang kuingat hanyalah bahwa waktu di sekitar taman itu melambat, bukan karena aku mendorongnya, tetapi karena seluruh diriku menuntutnya, dan kain itu menuruti tuntutanku seperti air menuruti bentuk wadahnya. Daun-daun trembesi yang jatuh berhenti di udara. Air di kolam menjadi kaca. Lampu-lampu jalan berhenti berkedip. Hanya ada aku dan Jaya, dan jarak di antara kami yang tiba-tiba menjadi sangat pendek.

Ia mencoba merobek kain untuk menghindar. Aku melihat garis hitam itu mulai terbentuk di udara di sampingnya, dan sebelum garis itu sempat melebar, aku menyentuhnya dengan Penggerakku. Lembut. Seperti menyentuh rambut anak kecil yang sedang tidur. Garis itu menutup kembali, seperti luka yang dijahit.

Lihat selengkapnya