Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #22

Kedai Kopi Ayu

Ampenan, 14 Agustus 2014

Hal pertama yang menyambutku di tahun 2014 adalah bendera. Ratusan bendera merah putih kecil dari plastik, digantung berderet-deret di atas gang dengan tali rafia, berkibar-kibar diterpa angin laut seperti sekawanan burung yang tidak bisa terbang. Umbul-umbul bambu berdiri miring di depan setiap rumah. Di ujung gang, sekelompok bocah berseragam putih merah sedang berlatih gerak jalan dengan langkah yang sama sekali tidak kompak, diteriaki seorang guru olahraga berkumis yang suaranya sudah serak. Tiga hari sebelum tujuh belasan. Tentu saja.

Aku mendarat di belakang tumpukan peti ikan di tepi pasar, dengan lutut tertekuk dan napas tersengal, dan butuh beberapa menit sebelum dunia berhenti berputar. Lompatan ini jauh lebih berat daripada lompatan mana pun yang pernah kulakukan. Tiga belas tahun ke belakang, bukan enam puluh kilometer ke utara. Rasanya seperti ditarik melewati lubang jarum oleh tangan raksasa. Hidungku berdarah lagi, dan aku mengusapnya dengan lengan sweter.

Golok di pinggangku masih hangat. Jam saku di dadaku masih berdetak. Aku masih utuh.

Aku berjalan menyusuri gang dengan kepala tertunduk, dan setiap langkah adalah sebuah ingatan yang menyakitkan karena terlalu jelas. Baliho pilpres yang sudah pudar di dinding pos ronda, dua wajah yang tersenyum, sisa dari pemilihan sebulan lalu. Warnet dengan pintu kaca buram dan tulisan tangan di kertas HVS, internet cepat, tiga ribu per jam. Penjual es lilin dengan termos biru di atas sepeda. Seorang ibu yang menjemur kerupuk di atas tampah. Aku mengenal semua ini. Aku pernah menjadi bagian dari semua ini, ketika umurku sebelas tahun dan duniaku masih utuh.

Lalu aku melihat bengkel itu. Bengkel kecil di samping rumah kami, dengan atap seng yang sudah berkarat di ujung-ujungnya dan papan nama dari triplek bertuliskan Bengkel Iwan, Servis Motor, Tambal Ban, dicat dengan huruf-huruf yang tidak lurus. Pintu gesernya terbuka setengah. Dari dalamnya terdengar radio yang memutar lagu dangdut lawas, bunyi kunci pas yang beradu dengan baut, dan suara seorang lelaki yang ikut bernyanyi dengan nada yang sama sekali salah.

Aku berhenti di seberang jalan. Kakiku menolak bergerak.

Ayah.

Ia berjongkok di samping sebuah sepeda motor bebek tua, kaus oblongnya basah oleh keringat, kumisnya bergerak-gerak mengikuti lirik lagu. Rambutnya masih hitam. Tangannya hitam oleh oli sampai siku. Ia mengangkat kepala, menyeka dahinya dengan punggung tangan, dan untuk sesaat matanya melintas ke arahku. Melintas, lalu kembali ke motornya, seperti mata orang yang melihat sesuatu yang biasa saja di jalanan yang biasa saja.

Aku memalingkan muka dan berjalan cepat sebelum aku melakukan sesuatu yang bodoh. Berlari ke arahnya. Memeluknya. Berteriak kepadanya bahwa malam ini ia tidak boleh keluar dari rumah, bahwa malam ini seorang lelaki bertopi akan menunggunya di jalan setapak, bahwa aku sudah dua belas tahun hidup tanpa dirinya dan aku tidak sanggup lagi.

Hukum pertama. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi. Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa asin, dan terus berjalan.

 

Kedai Kopi Ayu berdiri di ujung gang, persis seperti dalam mimpi-mimpi Andini. Dindingnya dicat hijau daun pisang, warnanya sudah agak pudar di bagian bawah yang sering terciprat air hujan. Atapnya seng bergelombang. Di depannya ada tiga bangku panjang dari kayu kelapa yang permukaannya sudah licin oleh ribuan pantat yang pernah duduk di atasnya, dan sebuah meja panjang dengan toples-toples kaca berisi gula aren, kacang, dan pisang goreng. Papan namanya digantung dengan dua utas kawat di atas pintu, dicat tangan dengan huruf-huruf putih yang miring ke kanan. Kedai Kopi Ayu. Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: sejak 2004.

Dan bau itu.

Bau kopi yang sedang disangrai. Bukan bau kopi seduhan, tetapi bau biji-biji yang dipanggang perlahan di atas wajan tanah liat, bau yang lebih tajam dan lebih manis, hampir seperti cokelat yang hangus. Hari Kamis. Bu Nurul selalu menyangrai kopi setiap hari Kamis, kata Andini. Aku berdiri di depan kedai itu dengan mata terpejam, menghirup bau itu dalam-dalam, dan aku merasa seperti sedang berdiri di dalam rumah Andini di tahun 2050, di dalam rumah Mahesa di Tebilin, di dalam dapur rumahku sendiri di bulan April, sekaligus, di semua tempat itu dalam satu waktu.

“Mau pesan apa, Mas?”

Seorang lelaki kurus berpeci hitam muncul dari balik meja, tersenyum lebar. Umurnya mungkin tiga puluh lima. Pipinya cekung, matanya sipit dan ramah, dan ketika tersenyum, matanya nyaris hilang. Aku tahu mata itu. Aku pernah melihatnya tersenyum dengan cara yang sama di atap sebuah rumah di masa depan, di depan kamera cetak instan.

Pak Hamzah.

“Kopi tubruk,” kataku. Suaraku nyaris tidak keluar. “Pakai gula aren.”

“Wah, seleranya sama dengan pelanggan setia kami.” Ia tertawa, lalu berseru ke arah dalam. “Bu! Satu tubruk gula aren lagi!”

Dari balik tirai kain bermotif bunga, sebuah suara perempuan menyahut, lalu muncul seraut wajah bulat dengan kerudung cokelat dan pipi yang kemerahan oleh panas tungku. Bu Nurul. Ia mengusap tangannya pada celemek, tersenyum kepadaku dengan sopan, lalu kembali ke dalam. Aku melihat tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, dan aku teringat bahwa Andini memiliki tahi lalat yang sama, di tempat yang sama, dan aku tidak pernah memperhatikannya sampai sekarang.

Aku duduk di bangku paling kanan, membelakangi jalan, dengan kepala tertunduk. Lalu sebuah suara kecil berkata dari sebelahku, “Om kepanasan, ya?”

Aku menoleh.

Ia berdiri di samping bangku dengan nampan kecil berisi segelas air putih, yang ia pegang dengan kedua tangan dan sangat hati-hati seperti sedang membawa sesuatu yang suci. Rambutnya dikepang dua, diikat dengan karet gelang warna-warni. Kausnya bergambar kartun yang sudah luntur. Matanya sipit, alisnya lancip, pipinya bulat. Di bawah lengan kirinya, terselip sebuah boneka berambut pirang dengan gaun biru yang ujungnya sudah agak kotor.

Ayu. Sepuluh tahun.

“Om pakai sweter,” katanya, menunjuk ke arah dadaku dengan dagunya, karena kedua tangannya masih sibuk memegang nampan. “Padahal panas sekali. Om sakit?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menggeleng.

Ia meletakkan gelas air itu di depanku dengan sangat pelan, lalu memiringkan kepala dan menatapku lama, dengan cara anak-anak menatap sesuatu yang membuat mereka penasaran, tanpa sedikit pun rasa sungkan. Matanya berhenti di daguku.

“Om mirip Kak Galang,” katanya akhirnya. “Tapi Om sudah tua.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar begitu saja, pecah, dan setengahnya berubah menjadi sesuatu yang lain, dan aku harus menutup mulutku dengan tangan.

“Siapa Kak Galang?” tanyaku, ketika aku sudah bisa bicara lagi.

“Anaknya Om Iwan. Dia suka mengajakku ke pantai naik sepeda. Kemarin dia mengambil bonekaku dari anak-anak besar yang nakal.” Ia mengangkat boneka berambut pirang itu sedikit, bangga. “Dia bisa menghilang. Tapi itu rahasia. Om jangan bilang siapa-siapa.”

“Aku tidak akan bilang siapa-siapa,” janjiku.

Lihat selengkapnya