Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #23

Malam Empat Belas Agustus

Ampenan, 14 Agustus 2014, pukul 22.50

Hujan malam itu turun seperti orang yang marah dan tidak tahu kepada siapa harus marah. Aku berdiri di bawah emper sebuah toko kelontong yang sudah tutup, di seberang mulut jalan setapak yang menghubungkan permukiman di belakang pasar dengan gang menuju kedai. Air mengucur dari ujung atap seng seperti tirai manik-manik. Selokan di depanku meluap. Lampu jalan satu-satunya di ujung gang berkedip-kedip, bukan karena aku, tetapi karena kabelnya memang sudah tua dan basah. Tidak ada seorang pun di luar. Di malam seperti ini, Ampenan menutup pintunya dan menyalakan televisi.

Jam saku di dadaku berdetak. Golok di pinggangku hangat. Aku menunggu. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Itu bagian yang paling berat. Aku tahu jam berapa, aku tahu di mana, aku tahu siapa. Aku tahu bahwa telepon di ruang tamu kami sudah berdering, dan sebuah suara sudah berkata tunggu. Aku tahu bahwa saat ini Ayah sedang menuntun sepedanya di tengah hujan. Dan aku tahu bahwa aku tidak bisa menghentikannya.

Namun aku sudah bertekad akan mencoba. Kalau hukum pertama benar, usahaku tidak akan mengubah apa pun. Tapi aku tidak akan membiarkan Ayah berlari sendirian di dalam hujan.

Lima belas menit sebelumnya, aku tidak berdiri di emper toko itu. Aku berdiri di bawah pohon mangga di balik pagar bambu tetangga, memandangi jendela ruang tamu rumah kami yang terang benderang di tengah hujan.

Dari sana aku bisa melihat semuanya. Ayah duduk di kursi rotan di bawah jam pendulum, tangannya terlipat di pangkuan, kepalanya sedikit miring seperti sedang mendengarkan siaran radio dari tempat yang jauh. Ibu berdiri di ambang pintu dapur, memegang serbet, menatap punggung suaminya dengan wajah cemas. Bibi Sum, yang malam itu menginap karena atap rumahnya bocor, duduk di anak tangga beranda sambil mengupas bawang. Dan di lantai, di atas tikar pandan, seorang bocah lelaki kurus tengkurap di depan televisi tabung, menonton kartun sambil mengunyah kerupuk, tidak tahu apa-apa.

Pukul sepuluh lewat empat puluh tiga menit, telepon di meja sudut berdering. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan di ujung sana. Aku hanya bisa melihat Ayah bangkit, mengangkat gagang telepon, dan mendengarkan. Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Lalu bibirnya bergerak, dan aku membaca kata-kata itu dari gerak bibirnya, karena aku sudah melihat bibir itu mengucapkan ribuan kata di masa kecilku.

Aku tahu, Jaya. Aku akan datang.

Ia meletakkan gagang telepon dengan sangat pelan. Ia berdiri lama di sana, menatap jam pendulum. Lalu ia mengulurkan tangan dan menyentuh bandulnya, menghentikannya sesaat dengan ujung jari, dan melepaskannya lagi, seperti seseorang yang berpamitan kepada sesuatu yang tidak bisa diajak bicara.

Lalu ia berlutut di samping bocah di atas tikar dan memeluknya. Bocah itu menggeliat, protes karena kartunnya terhalang, dan Ayah tertawa, dan tetap memeluknya, lama sekali. Aku melihat bibirnya bergerak di dekat telinga bocah itu. Jaga Ibu.

Aku harus memegangi batang pohon mangga dengan kedua tangan agar tidak berlari ke jendela itu.

Ayah berdiri, mencium kening Ibu, membisikkan sesuatu yang membuat Ibu menutup mulut dengan serbet. Di beranda, ia berhenti di samping Bibi Sum, dan aku membaca bibirnya sekali lagi. Sum, aku harus ke kedai Hamzah. Sekarang. Lalu ia mengambil sepeda onthelnya dari samping bengkel dan menuntunnya ke arah belakang, ke arah permukiman di belakang pasar, tempat jalan setapak itu dimulai. Ia tidak mengambil jalan raya. Ia mengambil jalan pintas yang paling cepat ke kedai.

Aku berlari mendahuluinya lewat gang lain, dengan Penggerak yang kulipat sehalus mungkin, dan sampai di emper toko di mulut jalan setapak beberapa menit sebelum dia.

Pukul sebelas kurang lima menit, aku mendengar bel sepeda dipukul dua kali, jauh di belakang permukiman.

Aku berlari.

 

Jalan setapak itu sempit, licin, dan gelap, diapit pagar-pagar bambu dan tembok-tembok rumah yang tidak diplester. Aku berlari dengan Penggerak yang kulipat sehalus mungkin, cukup untuk membuat hujan di sekitarku melambat menjadi untaian manik-manik, cukup untuk membuat setiap langkahku sepanjang tiga langkah biasa. Di depanku, di ujung jalan setapak, aku melihat cahaya lampu sepeda yang bergoyang-goyang, makin dekat. Lalu cahaya itu berhenti.

Di tengah jalan setapak, sebuah garis hitam merobek udara.

Aku melihatnya dari jarak tiga puluh meter. Garis itu muncul tegak lurus di antara hujan yang melambat, lalu melebar seperti mulut yang menganga, dan dari dalamnya Jaya melangkah keluar. Topi berpinggiran lebar. Sweter hitam. Wajah yang sama persis, kulit keabu-abuan yang sama, tetapi tanpa retakan-retakan keemasan yang kulihat di taman dua hari lalu. Jaya yang lebih muda dalam waktunya sendiri. Jaya yang belum tahu kebenaran tentang ayahnya.

Ayah turun dari sepedanya. Ia tidak lari. Ia berdiri di sana, basah kuyup, dan aku mendengar suaranya menembus hujan, tenang dan sedih.

“Jaya. Nak. Pulanglah.”

Aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi dalam tiga detik berikutnya. Aku hanya akan menceritakan bahwa aku menghentikan waktu. Seluruhnya. Hujan berhenti di udara dalam jutaan butir kaca. Lampu sepeda membeku dalam kerucut cahaya kuning. Dan di tengah kerucut itu, Ayah dan Jaya tertahan dalam satu tarikan napas, terlalu dekat satu sama lain, terlalu terlambat. Aku berlari menembus butir-butir hujan yang membeku, yang pecah di pipiku seperti kelereng kaca, dan aku sampai di sana, dan aku melihat bahwa aku sudah terlambat beberapa detik. Beberapa detik saja. Persis seperti Ayah di ambang pintu rumah Darma sepuluh tahun yang lalu.

Yang sudah terjadi akan tetap terjadi.

Aku tidak bisa menahan waktu lebih lama. Kain itu meronta di dalam genggamanku, dan ketika aku melepaskannya, hujan kembali jatuh, dan Jaya terhuyung mundur dengan mata terbelalak, menatapku seperti melihat hantu.

“Kamu,” desisnya. “Siapa kamu?”

Lalu ia menoleh ke arah kedai, dan aku melihat sesuatu di wajahnya. Bukan ketakutan. Tujuan. Ia merobek kain lagi dan menghilang ke dalam garis hitam, dan aku tahu ke mana ia pergi.

Ayah terbaring di atas jalan setapak yang becek, di samping sepeda onthelnya yang terguling, rodanya masih berputar pelan. Aku berlutut dan mengangkat kepalanya ke pangkuanku. Matanya terbuka. Ia menatapku, dan di bawah kerucut cahaya lampu sepeda, aku melihat matanya bergerak ke daguku, ke sweterku, lalu kembali ke mataku.

“Nak,” bisiknya.

Bukan Mas. Nak.

“Ayah.” Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

Ia tersenyum. Senyum miringnya, ke kiri. Tangannya yang hitam oleh oli terangkat dengan susah payah dan menyentuh pipiku, menepuknya dua kali, seperti dulu ia menepuk pipiku setiap kali aku menangis karena jatuh dari sepeda.

Lihat selengkapnya