Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #24

Jangkar

Mataram, 15 Agustus 2038, dini hari

Kami jatuh ke atas lantai batu yang hangat, dan hal pertama yang kudengar adalah dengung. Bukan dengung serangga. Dengung kota. Ribuan mesin yang bekerja bersamaan, kabel-kabel yang mengalirkan listrik di bawah tanah, sinyal-sinyal yang berseliweran di udara seperti burung-burung tak kasatmata. Setelah sunyinya gang di Ampenan tahun 2014, dengung itu terasa seperti seseorang berteriak tepat di telingaku. Penggerak di dadaku mengerut, seperti siput yang disentuh garam.

Aku mengangkat kepala. Sebuah plaza yang luas, nyaris kosong, diterangi lampu-lampu jalan yang berwarna putih kebiruan. Di tengahnya berdiri sebuah menara ramping dengan layar raksasa di puncaknya. Belum seterang yang akan kulihat dua belas tahun lagi, belum dikelilingi menara-menara pangan berdinding kaca hijau, tetapi aku mengenalinya. Menara Selaparang. Layarnya menampilkan jam dan tanggal dalam huruf-huruf putih yang besar.

Minggu, 15 Agustus 2038. 02.14. Jam malam berlaku.

Dua puluh empat tahun. Tepat dua puluh empat tahun, hampir sampai ke menitnya.

Ayu terbaring di sampingku, masih memeluk bonekanya dengan mata terpejam. Ia tidak pingsan. Kurasa ia hanya terlalu takut untuk membuka mata, karena aku menyuruhnya menutup mata sebelum kami melompat dan ia menurut dengan kepatuhan seorang anak yang baru saja kehilangan segalanya. Aku meraih tangannya untuk membantunya duduk.

Ujung jari-jarinya bercahaya. Cahaya emas yang samar, seperti serbuk sari yang menempel di kulit. Aku mengenali cahaya itu. Aku pernah melihatnya di tanganku sendiri, di sebuah meja makan di tahun 2050, ketika sendok jatuh menembus telapak tanganku. Butir-butir emas kecil terlepas dari ujung kukunya dan melayang naik, perlahan.

Hukum ketiga. Membawa orang tanpa Jangkar ke waktu yang bukan miliknya akan membuat orang itu terurai.

Aku tahu itu akan terjadi. Mahesa sudah mengatakannya dua kali. Andini sudah mengatakannya sekali, di ruang tamu rumahku, dengan dua gelas kopi di antara kami. Dan aku sendiri sudah menuliskannya di buku tulis biru dengan huruf-huruf tergesa. Namun seperti biasa, mengetahui sesuatu dan melihatnya terjadi pada tangan seorang anak berumur sepuluh tahun adalah dua hal yang sangat berbeda.

“Kak,” bisik Ayu. Matanya masih terpejam. “Tanganku dingin.”

“Aku tahu.” Suaraku lebih tenang daripada perasaanku. “Sebentar lagi hangat. Kakak janji.”

 

Jangkar tidak bisa ditanam di tengah dengung. Aku tahu itu tanpa ada yang memberitahuku. Ketika aku memejamkan mata dan mencoba mendengarkan kain di sekitar kami, yang kudengar hanya kekacauan. Benang-benang waktu di plaza ini bergetar oleh ribuan gelombang yang saling bertabrakan, seperti senar gitar yang dipetik oleh seratus tangan sekaligus. Menjahitkan cahaya ke dalam tubuh seseorang di tengah kekacauan seperti itu sama saja dengan mencoba memasukkan benang ke lubang jarum di atas perahu yang diterjang badai.

Tebilin terlalu jauh. Aku tidak yakin sanggup melompat sejauh itu sekali lagi, apalagi sambil menggendong seorang anak yang sedang terurai, di kota yang dengungnya menguras setiap tetes Penggerak di dadaku. Butir-butir emas di jari-jari Ayu kini sudah merambat sampai ke buku jari. Lalu aku teringat sesuatu yang dikatakan Mahesa di beranda, pada malam pertama, di bawah bintang-bintang. Kronon itu pemalu, dan selalu bersembunyi di tempat yang bising.

Dan aku teringat apa yang terjadi di gua di balik air terjun, ketika aku menghentikan waktu untuk pertama kalinya. Bukan hanya Jaya yang membeku. Air terjun membeku. Udara membeku. Segala sesuatu yang bergetar berhenti bergetar.

Kalau waktu berhenti, dengungnya juga berhenti.

Aku memeluk Ayu, menariknya ke dalam pangkuanku, menyelimutinya dengan sweter marun yang kulepas dari tubuhku sendiri. Lalu aku mengikuti detak jam saku berkarat yang kini bersarang di dadaku, detak yang tenang dan teratur, dan aku menyentuh kain di sekitar kami. Bukan dengan mencengkeram. Seperti menyentuh rambut anak kecil yang sedang tidur.

Waktu berhenti. Dan dunia, untuk pertama kalinya sejak kami tiba, menjadi sunyi.

Kesunyian itu begitu mutlak sampai telingaku berdenging. Lampu-lampu jalan masih menyala, tetapi cahayanya tidak lagi berkedip. Sebuah drone pengawas yang sedang melintas di atas plaza menggantung di udara dengan baling-baling yang tidak berputar. Daun-daun kering yang tadi tertiup angin melayang diam di atas lantai batu, seperti hiasan yang digantung dengan benang. Dan benang-benang waktu di sekeliling kami, yang tadi bergetar kacau, kini terbentang tenang dan jernih, berkilauan samar seperti sarang laba-laba yang ditimpa embun.

Aku mengeluarkan golok dari balik ikat pinggangku. Cahaya kuning di dalam seratnya sudah jauh lebih redup daripada di taman, sebagian besar sudah kupakai untuk menjahit robekan di gang Ampenan. Namun masih ada. Cukup untuk satu Jangkar, mungkin tidak lebih.

Aku menyentuhkan ujung jariku pada bilah hitam itu, lalu menarik. Seutas benang cahaya kuning terurai dari serat besi meteorit, tipis dan hangat, berdenyut pelan seperti nadi. Benang yang sama dengan yang dulu ditarik Jaya dari dada Andini di dalam gua. Benang yang sama dengan yang diserahkan Andini kepada Jaya di tepi pantai Ampenan. Cahaya Darma, yang kini kembali ke tempat ia akan selalu kembali.

Aku menjahitkannya ke dalam dada Ayu. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya dengan cara lain. Tidak ada jarum, tidak ada luka. Aku hanya menuntun benang cahaya itu masuk, perlahan, melalui ruang di antara detak-detak jantungnya, dan setiap kali benang itu masuk, aku merasakan sesuatu di dalam tubuh anak itu menyambutnya. Seperti tanah kering yang menyambut hujan. Seperti pintu yang sudah lama menunggu kuncinya.

Jahitanku miring. Tentu saja miring. Simpulku memang selalu miring. Ketika benang terakhir masuk, butir-butir emas di jari-jari Ayu berhenti melayang. Lalu, perlahan sekali, butir-butir yang tadi terlepas turun kembali dan meresap ke dalam kulitnya, seperti salju yang meleleh di telapak tangan. Jari-jarinya utuh. Hangat. Di bawah kulit dadanya, untuk sesaat, aku melihat cahaya kuning yang berkilat samar, lalu padam, seperti kunang-kunang yang masuk ke dalam semak.

Aku menangis tanpa suara. Waktu masih berhenti, dan air mataku tidak jatuh. Air mata itu menggantung di bawah daguku seperti dua butir manik-manik kaca.

 

Bagian yang paling sulit bukan menanam Jangkar. Bagian yang paling sulit adalah apa yang harus kulakukan sesudahnya.

Di dalam waktu yang berhenti itu, aku bisa merasakan ingatan-ingatan Ayu. Bukan melihatnya, tetapi merasakannya, seperti merasakan benang-benang kusut yang membelit di dalam sebuah gulungan. Kebanyakan benang itu berwarna hangat. Bau kopi sangrai hari Kamis. Suara Bu Nurul yang bersenandung di dapur. Tangan Pak Hamzah yang mengusap kepalanya sebelum tidur. Sepeda onthel, pantai, es stroberi di toko Pak Haji. Seorang bocah laki-laki dengan bekas luka di dagu yang berlari mengejar anak-anak besar untuk merebut kembali sebuah boneka.

Dan di ujung gulungan itu, ada satu benang yang berwarna lain. Benang yang hitam dan basah dan berbau besi, yang masih bergetar kencang seperti tali yang baru saja diputus. Malam ini. Pintu yang didobrak. Suara-suara di ruang depan. Gelap di bawah ranjang besi.

Benang hitam itu menarik-narik Jangkar yang baru saja kutanam, seperti arus yang mencoba menyeret sebuah perahu kembali ke tengah laut. Aku bisa merasakannya. Selama benang itu masih ada, Jangkar Ayu tidak akan pernah benar-benar tertambat di tahun ini. Setiap malam ia akan ditarik kembali ke bawah ranjang itu, dan suatu hari, mungkin besok, mungkin sebulan lagi, tarikan itu akan cukup kuat untuk mencabut Jangkarnya.

Aku harus memotongnya. Dan aku tahu, dengan kepastian yang membuat dadaku sakit, bahwa aku tidak bisa memotong benang hitam itu saja. Semua benang di gulungan itu terikat satu sama lain. Malam ini terikat dengan kedai, kedai terikat dengan Bu Nurul dan Pak Hamzah, dan mereka terikat dengan setiap hal hangat yang pernah dialami anak ini selama sepuluh tahun hidupnya. Kalau aku memotong satu, aku harus memotong semuanya.

Lihat selengkapnya