Lereng utara Rinjani, 19 Oktober 1980
Aku tidak jatuh. Aku dimuntahkan. Robekan merah itu melepaskanku dengan kasar, seperti mulut yang memuntahkan sesuatu yang tidak bisa dicernanya, dan aku terguling di atas tanah keras berbatu di antara semak-semak alang-alang yang tinggi. Udara di sini dingin dan tipis. Bau belerang dari robekan itu menghilang, digantikan bau rumput kering, kotoran sapi, dan asap dapur. Jauh di bawahku, di lekuk lembah, berkelip cahaya pelita dari dua puluhan rumah beratap ilalang.
Aku mengenali lekuk lembah itu. Aku pernah berdiri di atasnya, di tepi kebun kopi, memandangi kabut pagi bersama diriku yang lebih tua. Namun tidak ada kebun kopi di sini. Tidak ada hutan pinus, tidak ada tanah hitam. Lerengnya ditumbuhi alang-alang dan pohon-pohon jambu mete yang rendah, dan di dasar lembah, dusun itu masih berdiri utuh. Lumbung-lumbung padi dengan atap melengkung seperti topi. Kandang sapi. Jalan setapak berdebu yang diterangi obor.
Dan ketika aku mencoba berdiri, aku merasakan kainnya. Kain waktu di tempat ini tidak seperti kain yang pernah kusentuh di mana pun. Di Tebilin tahun 2050, kain itu lembut dan jernih, seperti sutra yang baru dicuci. Di kota, kain itu kusut dan bergetar. Di sini, kain itu kaku. Keras dan dingin seperti kain basah yang dijemur semalaman di bawah angin gunung lalu membeku. Ketika aku mencoba menyentuhnya, mencoba melipatnya sedikit saja untuk melompat kembali, kain itu tidak bergerak sama sekali. Jari-jariku seperti menyentuh dinding batu.
Ada waktu yang terkunci. Masuk ke sana berarti tidak bisa kembali.
Aku duduk kembali di atas tanah dengan napas tersengal. Jam saku berkarat di dadaku masih berdetak, tetapi detaknya terasa jauh, seperti suara jam di rumah tetangga. Aku menatap langit. Bintang-bintang bertaburan, lebih banyak daripada yang pernah kulihat seumur hidupku, bahkan di Tebilin. Bima Sakti terbentang seperti selendang yang ditaburi gula. Lalu, di atas punggung gunung, sesuatu yang bulat dan pucat mulai muncul.
Orang-orang dusun keluar dari rumah satu per satu. Aku melihat mereka dari atas lereng. Lelaki-lelaki bersarung, perempuan-perempuan yang menggendong anak, nenek-nenek yang dituntun cucunya. Mereka berdiri di jalan setapak dan menunjuk ke langit, dan suara mereka naik sampai ke tempatku, riuh dan gembira, seperti suara orang yang menonton pasar malam. Bulan terbit dua kali, seseorang berteriak dalam bahasa Sasak. Anak-anak bersorak.
Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku sudah mendengarnya dari Mahesa di beranda, di bawah bintang-bintang yang sama. Aku sudah membacanya dalam buku tulis biruku sendiri. Dan aku sudah melihat tanah hitam di hutan pinus tempat dusun ini dulu berdiri, tanah yang tidak bisa ditumbuhi rumput bahkan setelah tujuh puluh tahun.
Aku berdiri dan mulai berlari menuruni lereng. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku hanya tahu bahwa aku tidak bisa duduk di atas lereng dan menonton. Alang-alang menyayat lenganku. Aku tersandung batu, jatuh, bangkit lagi. Penggerak di dadaku berdenyut-denyut putus asa, mencoba melipat jarak di antara aku dan dusun itu, tetapi kain yang kaku ini menolaknya, dan setiap usaha membuat kepalaku berdenging seperti dipukul palu. Aku berlari dengan kakiku sendiri, seperti manusia biasa, seperti seseorang yang tidak punya kekuatan apa pun.
Di tengah jalan, di bawah sebatang pohon asam yang tumbuh di tepi lereng, aku berhenti. Ada seseorang di sana. Seorang lelaki muda berdiri di bawah bayangan pohon asam, setengah tersembunyi. Tubuhnya tinggi dan kurus. Kumisnya tipis, belum lebat. Ia mengenakan kaus oblong putih yang kumal, dan kakinya telanjang, dan ia menatap langit dengan wajah yang pucat pasi. Di sekeliling tubuhnya, samar sekali, berpendar cahaya hijau.
Aku mengenalinya. Aku pernah melihatnya dalam bayangan di alam bawah sadarku, berjalan di antara pohon-pohon pinus muda bersama seorang sahabat yang pendek kekar. Aku pernah melihatnya dalam foto-foto lama di rak televisi.
Ayah.
Bukan Ayah yang berumur empat puluh satu tahun. Ayah yang muda, mungkin belum genap tiga puluh, yang baru beberapa minggu menerima cahaya hijau di dadanya dan belum tahu cara mengendalikannya. Lompatan pertamanya yang tidak disengaja. Ia pernah menceritakannya kepadaku, di dalam kegelapan, dengan suara yang menyimpan rasa takut yang tidak pernah hilang. Malam ketika ia terlempar ke tahun 1980 dan melihat seorang perempuan dengan cahaya putih.
Ia menoleh dan mata kami bertemu. Untuk sesaat yang panjang sekali, kami hanya saling menatap di bawah pohon asam, dua lelaki yang terdampar di waktu yang terkunci, dua puluh tiga tahun sebelum salah satunya akan dilahirkan. Aku melihat keningnya berkerut. Aku melihat matanya bergerak ke daguku, ke bekas luka berbentuk bulan sabit, lalu ke sweter marun yang kukenakan, lalu kembali ke mataku. Ia tidak mengenaliku. Ia belum punya alasan untuk mengenaliku. Namun bibirnya, ketika ia membuka mulut seolah hendak bertanya, miring ke kiri.
Lalu dari arah dusun terdengar sorakan, dan ia menoleh ke sana, ke cahaya pucat di atas punggung gunung. Ketika aku menatapnya lagi, ia sudah berlari menjauh, menaiki bukit kecil di belakang dusun, tersandung-sandung seperti orang yang berjalan di dalam mimpi.
Aku berdiri sendirian di bawah pohon asam dengan tangan gemetar. Aku ingin berteriak memanggilnya. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa suatu hari ia harus berlari ke kedai Hamzah, bahwa ia tidak boleh menjawab telepon itu, bahwa ia tidak boleh mengambil jalan pintas di belakang pasar. Namun ia sudah terlalu jauh, dan kalaupun aku sempat mengejarnya, aku tahu apa yang akan dikatakan Mahesa.
Usahamu untuk mengubahnya justru akan menjadi alasan semuanya terjadi.
Di atas punggung gunung, cahaya pucat itu mulai bergerak lebih cepat.
Aku melihatnya sebelum orang lain melihatnya, karena aku tahu ke mana harus melihat. Benda itu bukan bulan, dan bukan pula meteor seperti yang kubayangkan dari buku-buku pelajaran. Ketika aku menatapnya dengan cara Mahesa mengajariku menatap, dengan telinga yang mendengarkan kain alih-alih dengan mata, aku melihat sesuatu yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Di sekeliling cahaya pucat itu, kain langit robek. Bukan robekan kecil seperti milik Jaya, bukan pula robekan merah yang tadi menelanku. Ini robekan raksasa, lebarnya mungkin berkilo-kilometer, tepinya bergerigi dan berpendar putih, dan cahaya pucat itu tidak jatuh dari langit.
Cahaya itu keluar dari robekan itu. Seperti sesuatu yang didorong keluar dari tempat lain. Dari waktu lain. Dari ujung kain yang tidak bisa kulihat.
Batu ini bukan dari langit kita.
Lalu cahaya itu pecah. Ribuan serpihan berpendar turun dari langit, hijau dan kuning, berderai seperti hujan bara. Suara pertama yang sampai ke telingaku bukan ledakan, melainkan dengung panjang yang rendah, seakan seluruh lembah adalah lonceng raksasa yang baru saja dipukul, dan aku merasakan dengung itu di dalam dadaku, di dalam jam saku berkarat, di dalam setiap benang kain yang kaku di sekelilingku. Sorakan orang-orang di jalan setapak berubah menjadi jeritan.
Aku tidak akan menceritakan semua yang kulihat malam itu. Sebagian karena aku tidak sanggup, dan sebagian lagi karena ada hal-hal yang memang tidak perlu diceritakan untuk dipahami. Cukuplah kukatakan bahwa serpihan-serpihan itu jatuh seperti hujan, dan atap-atap ilalang terbakar seperti kertas, dan aku berlari di antara asap dan bara dengan sarung yang kubasahi di parit untuk menutupi hidung, menarik siapa pun yang bisa kutarik ke arah sungai. Seorang kakek yang tersandung. Dua anak kecil yang menangis di depan kandang sapi. Seorang ibu yang terus memanggil nama suaminya.