Paradoks Waktu: Timeline

Marion Drossi
Chapter #26

Lingkaran yang Tertutup

Lereng utara Rinjani, 14 Mei 2027

Aku tinggal di samping makam itu sampai sore. Tidak ada yang perlu kulakukan. Itulah yang paling aneh. Selama empat bulan terakhir, sejak bangun di sofa pada malam tahun baru dengan sweter berjahit di tubuhku, selalu ada sesuatu yang harus kulakukan. Mengingat, mencari, menunggu, berlari. Kini semua itu selesai, dan yang tersisa hanya sebuah gundukan tanah basah, sebatang bibit kamboja, dan angin yang bertiup dari puncak gunung membawa bau pinus dan belerang samar.

Aku mencabuti rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di sekeliling gundukan itu, meskipun sebenarnya belum ada rumput yang tumbuh. Tanah hitam ini tidak mau ditumbuhi rumput. Mahesa pernah mengatakannya. Aku hanya butuh sesuatu untuk dikerjakan dengan tanganku.

Menjelang asar, seorang perempuan muda lewat di jalan setapak di bawah lereng sambil memikul seikat kayu bakar. Ia berhenti ketika melihatku, menatap gundukan tanah itu, lalu menatap wajahku yang pasti masih kotor oleh tanah, abu, dan darah kering dari hidung. Ia tidak bertanya. Ia hanya meletakkan kayu bakarnya, menuruni lereng ke arah dusun, dan kembali setengah jam kemudian dengan sebotol air, sebungkus nasi dengan sambal dan ikan asin, dan sehelai sarung bersih.

“Istri, Mas?” tanyanya dalam bahasa Sasak, sambil mengangguk ke arah makam.

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Aku tidak tahu jawaban yang benar. Kami tidak pernah menikah. Kami tidak pernah sempat membicarakannya. Kami hanya punya empat belas hari di masa depan dan dua puluh delapan hari di masa kini, dan sebuah ciuman dalam gelap ketika listrik padam.

“Orang yang paling saya sayangi,” kataku akhirnya.

Perempuan itu mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang cukup. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Inaq Sari. Suaminya menggembalakan sapi di padang di atas lereng, dan anak perempuannya baru belajar berjalan. Ketika ia berbalik untuk pergi, aku melihat cara ia berjalan, sedikit membungkuk ke kiri karena beban kayu di bahunya, dan aku teringat seorang kusir cidomo tua yang menjemput kami di gerbang perbatasan, yang menatapku lama dan berkata bahwa aku mirip seseorang.

Dua puluh tiga tahun lagi, rambutnya akan memutih, dan ia akan mengendarai cidomo di jalan berbatu ini setiap pagi. Dan ia akan mengenali wajahku di wajah seorang pemuda yang turun dari kereta magnetik layang.

Lingkaran itu, rupanya, tidak hanya milikku.

 

-II-

 

Mataram, 15 Mei 2027

Bibi Sum tidak bertanya ke mana Andini pergi. Aku pulang ke Ampenan dengan bus antarkota pagi berikutnya, dengan sweter hangus terlipat di dalam kantong plastik dan golok yang kubungkus sarung pemberian Inaq Sari, dan ketika aku membuka pintu rumah, Bibi Sum sudah ada di sana. Duduk di sofa yang berdecit, dengan rantang di pangkuan, menatap jam pendulum yang masih berhenti di pukul 23.10. Ia sudah menunggu sejak subuh, katanya. Ia punya firasat.

Ia menatap wajahku sekali, lama, lalu meletakkan rantangnya di meja dan memelukku. Bibi Sum yang kecil dan cerewet, yang selalu membawa ayam taliwang terlalu pedas, yang dulu membesarkanku ketika Ibu tidak sanggup, memelukku dengan sangat erat dan tidak berkata apa-apa. Aku menangis di bahunya seperti anak kecil. Untuk pertama kalinya sejak di lereng itu, aku membiarkan diriku menangis sampai habis.

“Dia pulang, Bi,” kataku akhirnya, karena aku harus mengatakan sesuatu. “Dia pulang ke tempat asalnya.”

Bibi Sum tidak bertanya ke mana. Ia hanya mengangguk, menepuk punggungku pelan, lalu bangkit dan menyalakan kompor untuk memanaskan sayur.

Setelah kami makan, aku berdiri di depan jam pendulum Ayah. Bandulnya masih diam, tergantung lurus di dalam lemari kaca, seperti napas yang tertahan. Menurut Mahesa, sejak malam tahun baru itu jam ini hanya pernah berhenti tiga kali. Dua kali sudah terjadi, pada malam tahun baru dan tiga malam yang lalu, dan aku tahu bahwa di suatu malam di tahun 2038, di sebuah rumah panggung di lereng utara, jam yang sama akan berhenti untuk ketiga kalinya ketika seorang lelaki muda bersweter marun ditelan robekan merah. Namun sekarang belum.

Aku membuka lemari kacanya. Aku memutar anak kuncinya dengan pelan, tiga kali, searah jarum jam, persis seperti cara Ayah memutarnya setiap hari Minggu pagi sambil bersiul lagu dangdut yang sumbang. Lalu aku menyentuh bandulnya dengan ujung jari, dan mendorongnya sedikit.

Tik.

Tok.

Jam itu berdetak lagi. Dan detaknya, untuk pertama kalinya, bukan karena Penggerak di dadaku menyalakan atau mematikannya. Hanya karena aku memutarnya, seperti orang biasa memutar jam biasa.

“Bapakmu dulu juga begitu,” kata Bibi Sum dari ambang dapur. “Kalau jam itu berhenti, dia selalu memutarnya pelan-pelan sambil bicara sendiri. Seperti bicara sama orang.”

“Bicara apa, Bi?”

Bibi Sum mengerutkan kening, mencoba mengingat. “Sabar,” katanya. “Dia selalu bilang sabar. Sabar, sabar, sebentar lagi.”

 

Lalu Satria menerima pengunduran diriku dengan wajah orang yang baru saja kehilangan pemain bola terbaiknya di tengah musim.

“Ke utara?” ulangnya, setengah tidak percaya. “Mau jadi petani? Kamu? Teknisi yang bisa memperbaiki radio cuma dengan menatapnya?”

“Petani kopi, Bang.”

“Di lereng gunung yang tidak ada sinyalnya?”

“Justru karena tidak ada sinyalnya.”

Ia menatapku lama, lalu menghela napas panjang dan mengeluarkan amplop cokelat dari laci meja. Gajiku bulan ini, ditambah sesuatu yang lebih tebal. “Untuk bibit,” katanya, sebelum aku sempat menolak. “Dan jangan lupa kirim kopinya ke sini. Bu Bendahara pasti mau.”

Aku tidak sanggup menjelaskan kepadanya bahwa Bu Bendahara tidak akan pernah kembali. Jadi aku hanya mengangguk, menerima amplop itu, dan berjanji akan mengirimkan kopi pertama dari kebunku ke kios servis kecil di Cakranegara.

Aku akan menepati janji itu. Tiga tahun lagi, dalam bungkusan kertas cokelat dengan label bertulisan tangan.

Lihat selengkapnya