Desa Tebilin, Oktober 2030
Buah kopi pertama dari kebunku masak di pertengahan bulan Oktober, tepat tiga tahun setelah bibitnya kutanam.
Aku tahu itu akan terjadi, tentu saja. Diriku yang lebih tua sudah mengatakannya di sebuah pagi yang belum terjadi, di bawah kabut yang sama, dengan tanah hitam yang sama di bawah kuku-kuku jarinya. Butuh tiga tahun. Tetapi mengetahui sesuatu dan melihatnya terjadi tetaplah dua hal yang berbeda, dan ketika aku berdiri di tepi lereng pada pagi itu dan melihat dahan-dahan pohon kopi pertamaku merunduk oleh buah-buah merah yang mengilap seperti manik-manik, aku harus duduk di atas batu datar dan menunggu sampai tanganku berhenti gemetar.
Inaq Sari datang membantuku memetik, bersama suaminya dan anak perempuan mereka yang kini sudah berumur empat tahun dan tidak bisa diam. Anak itu memetik buah-buah yang masih hijau, memasukkannya ke mulut, menyemburkannya kembali dengan wajah masam, lalu tertawa terpingkal-pingkal sampai jatuh terduduk di tanah. Aku tidak memarahinya. Di kebun sebesar ini, beberapa butir buah hijau tidak akan mengubah apa pun.
Kebun ini sudah tidak sekecil dulu. Selama tiga tahun, aku menanam satu demi satu bibit di sepanjang lereng, mengikuti garis tanah hitam yang tidak bisa ditumbuhi rumput, dan pohon-pohon itu tumbuh lebih cepat daripada pohon kopi di mana pun. Amaq Rahman bilang itu karena tanahnya subur. Aku tahu itu karena waktu di tanah ini tidak pernah benar-benar normal. Gubuk bambu di dekat batu datar sudah kuganti dengan rumah panggung kecil berdinding papan, dengan beranda yang menghadap ke lembah dan tangga kayu yang berderit setiap kali diinjak. Jam pendulum Ayah tergantung di ruang tengah. Aku memutar anak kuncinya setiap hari Minggu pagi.
Di tepi lereng, di samping makam, pohon kamboja itu sudah setinggi atap. Bunganya tidak pernah berhenti mekar. Putih, dengan tangkai kuning. Setiap pagi aku memetik beberapa kuntum yang paling segar dan meletakkannya di atas gundukan tanah yang kini sudah ditumbuhi lumut tipis, satu-satunya tanaman selain kopi dan kamboja yang mau tumbuh di tanah ini.
Aku tidak memasang nisan. Belum. Sampai dua puluh tahun lagi, ketika seorang pemuda bersweter marun bertanya siapa yang dimakamkan di sini, makam ini harus tetap tanpa nama.
Berita tentang Penataan Besar datang lewat radio transistor bertenaga baterai, satu-satunya perangkat elektronik yang kuizinkan masuk ke rumah ini.
Selama tiga bulan terakhir, penyiar di radio itu berbicara dengan suara yang semakin tegang. Program pemerintah untuk menata ulang seluruh permukiman di pulau ini menjadi kawasan menara pangan vertikal dan kota terencana. Desa-desa yang dinilai tidak efisien diratakan. Warga dipindahkan ke rumah-rumah susun yang semuanya sama persis, bentuk, warna, dan jumlah jendelanya. Lalu, di bulan Agustus, kerusuhan. Asap hitam dari arah Lombok Tengah. Bentrokan di Praya. Jam malam di Mataram.
Aku sudah tahu itu akan terjadi. Aku sudah menuliskannya di kertas folio bergaris, di bawah lampu minyak, pada malam pertamaku di lereng ini, dari ingatan tentang sebuah percakapan di beranda di bawah bintang-bintang tahun 2050. Dan setahun yang lalu, aku sudah melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan tanpa melanggar hukum pertama, karena aku tahu bahwa hal itu memang sudah dilakukan. Aku menulis surat.
Bukan satu surat. Tujuh belas surat, kepada tujuh belas kantor dinas yang berbeda, dengan sampel tanah hitam di dalam kantong plastik dan catatan-catatan teknis yang kutulis dengan istilah seorang mantan teknisi jaringan. Tentang tanah yang membuat perangkat elektronik rusak. Tentang medan yang mengganggu sinyal. Tentang kopi organik yang tumbuh di atasnya dan tidak bisa ditanam di tempat lain. Aku tidak tahu surat mana yang dibaca orang. Mungkin tidak ada. Mungkin semuanya.
Bulan lalu, seorang pegawai dinas datang naik sepeda motor trail dengan wajah pucat karena perjalanan, membawa sepucuk surat bermeterai yang ia serahkan kepadaku dengan dua tangan. Keputusan Khusus. Desa Tebilin dikecualikan dari Penataan Besar dan ditetapkan sebagai zona pangan organik berizin, tertutup bagi jaringan nirkabel, demi kepentingan penelitian. Alasannya disegel. Pegawai itu tidak tahu kenapa, dan ia tampak lega sekali ketika aku tidak bertanya.
Dua minggu kemudian, keluarga-keluarga pertama mulai berdatangan. Mereka berasal dari desa-desa yang sudah diratakan di kaki gunung, berjalan kaki dengan barang-barang yang diikat di punggung, karena seseorang di pengungsian mendengar bahwa ada satu desa di utara yang tidak disentuh. Amaq Rahman menyambut mereka di masjid. Inaq Sari memasak nasi dalam dandang besar. Dan aku membagikan lahan di lereng yang tidak bisa ditumbuhi rumput itu kepada siapa pun yang mau menanam kopi.
Dua puluh tahun lagi, desa ini akan berpenduduk empat puluh dua orang. Aku sudah membacanya di layar sebuah komputer di lantai dua sebuah kafe di Ampenan, dari balik bahu seorang peretas berambut sebahu yang menggerutu tentang lapisan dalam. Aku belum tahu siapa saja mereka. Namun aku sudah mulai mengenali wajah-wajahnya.
Aku menyeduh cangkir pertama malam itu. Biji-biji kopi dari panen pertamaku sudah kujemur seminggu di atas tikar pandan, kukupas, kusangrai di atas wajan tanah liat dengan api kecil sampai warnanya cokelat tua dan baunya memenuhi seluruh lereng, lalu kutumbuk dengan lumpang batu pemberian Inaq Sari. Kopi dulu, lalu gula aren, lalu air yang sudah didiamkan sebentar setelah mendidih. Aku mengaduknya tiga kali, searah jarum jam.
Aku menyeduh dua cangkir. Satu untukku, satu kuletakkan di atas makam di bawah pohon kamboja, di samping bunga-bunga yang kupetik pagi tadi.
Rasanya pahit, lalu manis, lalu sesuatu yang lain yang tidak punya nama.
Bukan. Itu tidak benar. Rasa itu punya nama. Aku hanya butuh waktu yang lama sekali untuk mempelajarinya.
Pulang.
Sebelum tidur, aku menuliskan label untuk bungkusan kopi pertama yang akan kukirim ke sebuah kios servis elektronik di Cakranegara. Kertas cokelat, tali rami, dan tulisan tangan yang miring dan tergesa, karena tulisan tanganku memang selalu begitu.