Paradoks Waktu: Timeline

Marion D'rossi
Chapter #17

Pertarungan Para Pengendali Waktu [2]

Berhasil menemukan tempat luas di dalam goa, tampak seseorang berdiri membelakangiku. Dari postur tubuhnya, aku yakin dia seorang lelaki. Mengenakan sweter hitam serta topi hitam polos. Dari yang tampak, ia lebih tinggi dariku. Akan tetapi, dari penampilannya saja sudah cukup membuatku berpikir bahwa pria tersebut tidak berasal dari tahun 2050. Itu hanya spekulasiku saja. Bagaimanapun juga, aku cukup mengenal penampilan orang-orang dari masa depan ini. Jika dugaanku tak salah, dialah penculik yang dilaporkan oleh Rizka. Memangnya, siapa lagi orang aneh yang ada di goa malam-malam begini? Sungguh tak masuk akal, bukan?

“Selamat datang!” ujar pria bertopi itu tanpa berbalik badan.

“Kamu ... siapa?” tanyaku langsung. Tiba-tiba, aku merasa detak jantungku semakin cepat. Aku merasa tidak asing dengan hawa keberadaan lelaki tersebut. Merasa seperti pernah bertemu dengannya. Manakala aku nyaris mengingatnya, lelaki itu berkata, “Akulah seseorang yang kaucari di tempat ini.” Pria bertopi berbalik badan. Menyeringai. Matanya yang dalam, memandang dengan penuh kebencian. Setidaknya, seperti itulah yang aku rasakan.

“K-kamu ‘kan—“

“Ya, benar. Kita pernah bertemu waktu itu.”

Aku pun ingat pernah bertemu dengannya di The Bigger Mart beberapa waktu lalu. Pantas saja aku merasakan aura aneh ketika dekat dengannya. Tekanan atmosfer begitu kuat kurasakan, mengintimasi dan seolah-olah aku sedang berada di sebuah labirin yang dia kuasai sendirian.

“Kamu mencari gadis ini?” Pria bertopi itu mengambil sebuah obor yang tertancap di dinding goa. Ia menerangi seorang perempuan di sana yang sedang terjerat tali, tak berdaya.

“A-Andini!” Aku terpekik setelah menyadari gadis itu ternyata Andini. Mulutnya dibekap dengan sebuah kain lusuh, serta seluruh tubuhnya diikat. Ada banyak luka memar di wajahnya. Aku sangat yakin, sepulang dari berbelanja, Andini masih baik-baik saja. Aku menduga, lelaki bertopi tersebut yang menghardik Andini.

“Sialan! Apa yang kamu lakukan padanya?!” tanyaku dengan nada yang tinggi.

Tentu, aku tak gegabah langsung menemui Andini. Sebab, aku tahu lelaki itu mungkin sudah punya rencana yang lain. Bisa saja dia menyerangku dengan benda apa pun ketika berusaha mendekati Andini yang tengah tergeletak tak berdaya. Aku berusaha menahan diri.

“Coba tebak!”

“Lepaskan Andini! Kalau tidak, aku berjanji kamu tidak akan selamat.” Tanganku mengepal kuat. Tatapan berubah tajam, memancarkan kebencian yang membara. Muncul sebuah perasaan ingin membunuh lelaki bertopi itu.

Begitu disayangkan, orang sepertiku harus berpikir membunuh orang lain. Padahal, aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Seberapa benci pun aku pada orang lain, aku tak pernah benar-benar mampu melakukan sesuatu yang kasar pada mereka. Dan kini, aku seolah-olah telah berubah dan merasa diriku tak seperti diriku sebagaimana biasanya. Apakah itu karena kekuatan yang saat ini sudah aku miliki? Atau justru karena … cinta?

Kurasa, cinta memang membutakan. Sebetulnya, aku tak ingin mengkambinghitamkan cinta yang begitu suci. Jika benar aku telah berubah karena kecintaanku pada gadis itu, maka cinta yang kuanggap anugerah bisa saja berubah menjadi kutukan. Benar-benar menyedihkan.

“Hahaha! Ayo! Keinginan membunuhmu masih belum cukup kuat!” Si lelaki bertopi tertawa bergelak. Dia seolah-olah meremehkan kemampuanku.

Aku jadi curiga padanya. Apakah mungkin dia sengaja menculik Andini sementara targetnya yang sebenarnya adalah diriku? Jika benar begitu, maka kesalahannya adalah menyiksa gadis itu dengan sedemikian rupa sehingga Andini menjadi lemah tak berdaya.

Lihat selengkapnya