Sudah beberapa bulan ini aku merasa ada sesuatu yang hilang. Entah apa, yang jelas rasanya hidupku benar-benar tidak lengkap. Aku terus mencari, tetapi tak pernah kutemukan. Yang terjadi, kepalaku merasa sakit ketika terlalu keras memikirkannya. Sebuah gambaran samar-samar juga terus menghantui tidurku di malam hari. Serta suara-suara aneh yang terdengar seperti seorang perempuan menangis selalu mengiang di telingaku.
Saat aku menyesap kopi hitam di pagi hari, ingatan tersebut datang lebih kuat dari biasanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menikmati kopi yang kusuka. Selain itu, ada hal aneh yang kurasakan ketika mengenakan sebuah sweter merah marun ini. Aroma yang bercampur dengan bau keringatku sendiri. Aku tak dapat mengingatnya. Aku diselimuti kebingungan yang memuncak. Lagi pula, aku tak ingat pernah membelinya. Akhirnya, aku memutuskan untuk memeriksa keadaanku ke sebuah klinik di Kota Mataram.
“Coba saya periksa dulu.” Sang dokter menempelkan stetoskop di dadaku. Tak lama kemudian, ia menyenter kedua mataku. “Tidak ada yang aneh. Menurut saya, kamu baik-baik saja.”
Aku beranjak dari ranjang pemeriksaan, lalu duduk di sebuah kursi berhadapan dengan sang dokter. “Ada sebuah ingatan yang selalu menghantui pikiran saya, Dok. Kadang-kadang ada suara-suara yang rasanya tak asing. Tapi ... saya benar-benar tidak bisa mengingatnya satu pun.”
“Kemungkinan besar kamu berhalusinasi. Hanya itu kesimpulan yang bisa saya dapatkan setelah mendengar penjelasanmu.”
“Tunggu, Dok! Saya pernah bermimpi ada di kota ini, tapi kotanya benar-benar sudah berubah. Ada bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Ada robot-robot, juga semua hal berubah. Bahkan tak jarang saya melihat kendaraan-kendaraan seperti mobil dan motor terbang. Pokoknya, kota ini benar-benar berubah, Dok.”
Sang dokter melenguh panjang dan menatapku serius. “Saya punya saran untukmu. Bagaimana kalau kamu berhenti memikirkan hal semacam itu? Mungkin kamu terlalu sering menonton acara teknologi masa depan yang belum tentu bisa diwujudkan. Kamu sangat terobsesi dengan hal-hal semacam itu.”
Aku tahu tatapan sang dokter seolah ingin berkata “kamu gila!” dan berharap aku secepatnya pergi dari hadapannya.
“Ah, benar. Saran yang sangat bermanfaat, Dok!” Aku pun beranjak bangkit. “Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu!”
--xxx--
Begitu banyak bayangan menghantui pikiranku setiap malam, aku jadi takut memejamkan mata. Dan akhirnya malam ini, aku tetap terjaga hingga rembulan sesaat lagi berada di tengah-tengah kubah bumi. Telah sekian kali aku melenguh bosan, lalu memutuskan untuk mencari udara segar di taman kota.
Taman ini juga memberikan banyak aroma yang tak asing. Sesuatu yang pernah kualami, tetapi hilang begitu saja. Bayangan-bayang itu, setiap kali datang, selalu membuat kepalaku seolah-olah seperti dibentur batu raksasa. Meski kenangan itu kadang melintas di pikiranku, kenangan yang begitu banyak tersebut, tak satu pun bisa memberi kepastian tentang gambaran-gambaran tersebut. Aku seolah-olah orang yang sedang terkena amnesia. Setiap kali aku melakukan sesuatu, aku merasa seperti pernah melakukannya sebelumnya bersama seseorang yang aku tak tahu siapa. Lagi pula, aku tak ingat pernah melakukan apa beberapa hari terakhir. Setahuku tepat di tanggal 31 Desember, aku dipecat. Setelah itu, aku tidur. Apakah aku tidur belasan hari? Bukankah itu sangat aneh? Bagaimana bisa aku tertidur selama itu tanpa pernah bangun satu kali pun.
Sebagaimana pening sering kali menyelimuti kepalaku, malam ini juga begitu. Kuputuskan untuk merebahkan punggungku di punggung bangku sambil melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit bersama rembulan yang menemani mereka. Sudut-sudut taman ini bermandikan cahaya bulan. Aku menghela napas panjang, lalu kembali menunduk.
“Ternyata kebiasaanmu tidak pernah berubah.”
Eh? Suara itu datang lagi? Tapi ... kenapa kali ini kepalaku tidak sakit?
“Aku di sini.”
Karena merasa suara yang sering kali hadir di pikiranku itu terdengar sangat jelas, aku menoleh ke sebelah kanan. Seorang gadis dengan rambut panjang, cantik; duduk di sampingku. Segurat senyuman lega tampil di wajah cantiknya. Kedua pipi bulatnya merona, tampak begitu jelas. Tak seperti bayangan-bayangan samar yang sering kali hadir di ingatanku, gadis tersebut tertangkap netraku. Hidungnya lurus dan tajam, serta matanya yang sipit membuatku sedikit lagi mengingat semua hal pelik di kepalaku.
“K-kamu … siapa?!” Aku terhenyak, lalu sedikit bergeser, memberikan jarak yang cukup renggang di antara kami.