Untuk membalas kebaikan hati Andini, aku mengajaknya berbelanja di sebuah bangunan raksasa yang disebut dengan Epicentrum di kawasan kota. Karena uang yang berasal dari tahun 2050 tidak dapat ia gunakan di tahun ini, giliran aku yang akan membayar semua barang belanjaannya. Yah, hitung-hitung untuk melunasi hutangku juga. Benar, aku sudah mendengar sendiri semua cerita tentang diriku di masa depan. Bagaimana aku bertemu dengannya, juga semua hal yang pernah kami lakukan.
Di bangunan raksasa pusat perbelanjaan itu, ada berbagai toko di dalamnya yang masing-masing menjual barang-barang berbeda. Ada toko baju, ada pusat permainan, ada toko elektronik, dan lain sebagainya. Tempat tersebut tak pernah sepi. Selalu saja ada orang yang berkunjung dan membutuhkan sesuatu untuk dibeli. Anggap saja itu pasar, tetapi secara modern berdiri dengan bangunan raksasa hanya untuk melengkapi kebutuhan manusia.
Aku dan Andini masuk ke sebuah toko yang menjual pakaian, baik untuk pria maupun wanita. Toko yang terbilang cukup lengkap dengan berbagai koleksi yang mereka datangkan, bahkan dari luar negeri dengan harga yang tidak murah. Tentu saja, Andini tak ingin pakaian-pakaian mahal yang berada di rak khusus tersebut. Justru, gadis itu sangat mengerti dengan keuanganku.
“Ini sepertinya cocok untuk kamu, An.” Aku menunjukkan sebuah pakaian model gaun berwarna merah muda yang akan membuatnya begitu feminim.
“M-merah muda?”
“Iya, memang kenapa?”
“Tidak apa-apa. Kalau begitu, aku coba, deh.” Andini melangkah ke ruang ganti, mencoba pakaian yang kupilihkan untuknya.
Tak berselang lama, Andini menampakkan dirinya dengan gaun berwarna merah muda tadi. Sangat cocok! Bahkan dengan melihat modelnya yang mana di bawah kerahnya terdapat aksesoris berbentuk pita, itu sudah cukup memberikan kesan imut. Ia tampak seperti gadis-gadis Jepang, setara dengan model. Aku bergeming seper sekian detik. Tak sedikit pun aku mengedipkan mata saat melihat pesona gadis tersebut. Bukan berarti ia tidak cantik jika mengenakan baju lainnya, tetapi justru dengan penampilannya menggunakan pakaian yang aku pilihkan, itu telah membuka aura-aura dan pesona luar biasa di dalam dirinya. Kurasa ada banyak pesona yang masih tersembunyi pada diri gadis itu. Dan selalu menjadi hal menarik saat aku ingin mencobakan sesuatu padanya. Hanya saja, Andini cukup pemalu dan kadang tidak enakan.
“B-bagaimana?” Andini terlihat tersipu malu.
“Cantik. Seksi. Manis,” jawabku, tak mengalihkan pandangan sedetik pun.
Andini masuk kembali ke kamar ganti tanpa mengatakan apa-apa setelah mendengar komentarku yang hanya berisi kata-kata pujian itu. Selesai membeli ini dan itu, aku mengajaknya makan siang di sebuah restoran di bangunan raksasa tersebut. Sebuah restoran bernama Ichiban yang menyajikan makanan-makanan khas Jepang. Ya, kita bisa menikmati segala macam makanan Jepang yang harganya tidak begitu mahal. Mulai dari 150.000, kita sudah bisa menikmat sushi, yang merupakan sajian terkenal negeri sakura itu.
Tampaknya hari ini tak begitu ramai. Tak seperti ketika aku berkunjung sebelum-sebelumnya. Namun, hal itulah yang justru aku sukai. Aku berjalan membawa Andini ke meja yang berdekatan dengan dinding. Yah, aku tak suka duduk di meja tengah karena demikian tak suka menjadi perhatian orang-orang.
“Andi. Apa tidak apa-apa kamu melakukan semua—“
“Ssstt!” Kuletakkan jari telunjuk di depan bibir. “Ini tidak seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku. Jadi, jangan berterima kasih, meminta maaf, atau sungkan. Katanya aku pacar kamu. Kalau begitu, kita harus terbiasa untuk saling berbagi mulai sekarang agar kelak kita bisa saling membantu dalam ikatan suami ... istri.”
Tak lama kemudian, Andini terkekeh. Kurasa sesuatu yang wajar jika Andini tertawa setelah mendengar kata-kataku yang begitu percaya diri akan menjadi suami kelak untuknya. Bagaimanapun juga, aku memang orang yang kadang pesimis, tetapi dalam beberapa kasus, aku juga bisa menjadi orang yang optimis.
“Kenapa tertawa?”
“Lucu, Ndi,” kekehnya semakin jadi.
“Apanya yang lucu?”
“Membayangkan bagaimana kita menjadi pasangan suami-istri. Benar katamu kalau takdir itu memang kadang tidak logis. Pertemuan kita saja tidak pernah bisa kubayangkan sebelumnya.”
“Iya, benar juga, sih. Memang tidak terbayangkan cara pertemuan kita yang aneh ini. Masa depan 2050. Benar-benar sesuatu di luar akal sehat manusia. Kalau kamu cerita ke orang-orang normal, mungkin mereka akan langsung membawamu ke rumah sakit jiwa. Atau justru menyarankanmu ke psikolog.”